--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Pahlawan Kesiangan

Seorang pejabat berdiri tegak di barisan depan saat upacara kenegaraan.

Lokapalanews.id | Upacara mengenang pahlawan selalu punya magisnya sendiri. Bendera berkibar megah di tiang tertinggi. Lagu-lagu perjuangan menggetarkan dada siapa saja yang mendengarnya.

Suasana mendadak sakral. Orang-orang meresapi betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan. Pengorbanan para pendiri bangsa terasa hidup kembali di sanubari.

Tapi di sela-sela khidmatnya acara itu, mata saya menangkap pemandangan yang menggelitik. Ada sesosok wajah yang sangat familiar berdiri di barisan depan.

Gayanya paling menjiwai. Dadanya dibusungkan selebar mungkin. Tangannya mengepal seolah-olah dia adalah jenderal perang di garis depan pertahanan.

Saya tertawa kecil dalam hati. Bukan karena lelucon panggung, melainkan karena ironi yang terpampang nyata di depan mata.

Orang itu saya kenal betul karakternya. Sehari-hari, hidupnya jauh sekali dari nilai-nilai kepahlawanan yang sedang diagungkan.

Mentalnya justru mirip seorang penjahat anggaran. Suka mengeruk hak orang lain demi kepentingan perut dan kelompoknya sendiri.

Saya ingat betul cerita-cerita dari orang di sekitarnya. Bagaimana dia memperlakukan anak buah dengan sewenang-wenang tanpa belas kasihan.

Anak buah yang rajin justru sering dijadikan bemper kesalahan. Ketika ada masalah di kantor, mereka yang disuruh pasang badan menanggung risiko.

Sebaliknya, kalau ada pujian atau penghargaan, dia sendiri yang paling depan menikmati sorotan kamera. Klasik, tapi selalu terjadi di berbagai institusi kita.

Saya pernah bertanya langsung pada salah satu korban keganasannya. Kenapa dia bisa bertahan begitu lama di bawah tekanan mental seperti itu?

Jawabannya pendek tapi telak. Katanya, melawan dia sama dengan bunuh diri profesional secara perlahan.

Siapa pun yang berani mengkritik kebijakannya langsung diberi tanda merah. Dianggap sebagai pembangkang yang harus segera disingkirkan dari lingkaran kekuasaan.

Pemecatan dilakukan sesuka hati tanpa prosedur yang benar. Tanpa dialog yang sehat, tanpa nurani kemanusiaan sedikit pun.

Asal ada yang mulai bersuara kritis, mesin kekuasaannya langsung bergerak membungkam. Mulut ditutup rapat, periuk nasi direbut, masa depan dipangkas begitu saja.

Lalu, melihat orang dengan rekam jejak seperti itu berdiri tegak meneriakkan nasionalisme, rasanya mual. Ada jarak yang teramat jauh antara lisan di panggung dan perbuatan di kantor.

Baca juga:  Menara Gading Karatan

Nasionalisme seremonial seperti ini sudah menjadi penyakit kronis. Orang-orang menggunakan atribut kebangsaan hanya sebagai kosmetik moral untuk menutupi kebusukan.

Di balik jas rapi dan lencana berkilau, tersimpan tabiat seorang tiran kecil. Mereka menindas di lingkungan mikroskopis, tapi berlagak suci di hadapan publik.

Ini bukan sekadar masalah personal atau tabiat buruk individu. Ini adalah kegagalan sistem dalam menyaring integritas seorang pemimpin institusi.

Ketika kekuasaan diberikan kepada orang yang salah, sebuah kantor berubah menjadi kerajaan kecil. Aturan dibuat bukan untuk menciptakan keadilan, melainkan untuk melindungi kepentingan sang penguasa.

Anak buah bukan lagi aset yang harus dikembangkan bersama. Mereka diperlakukan sebagai budak korporat yang bisa dibuang kapan saja saat dianggap tidak berguna.

Repotnya, sistem birokrasi kita sering kali melindungi tipe pemimpin seperti ini. Selama mereka pandai menjilat ke atas, kelakuan busuk di bawah gampang ditutupi rapat-rapat.

Maka lahirlah generasi penjilat yang tumbuh subur. Mereka yang jujur tersingkir secara sistematis, sementara mereka yang pandai bersandiwara melenggang kangkung dengan jabatan empuk.

Kembali ke upacara tadi. Saya melihatnya lagi dari kejauhan setelah lagu selesai dinyanyikan.

Dia masih khusyuk menatap bendera merah putih. Entah apa yang ada di kepalanya saat bait-bait terakhir dilantunkan.

Mungkin dia sedang membayangkan dirinya sebagai pahlawan bangsa yang dizalimi. Manusia memang makhluk paling lihai menipu diri sendiri demi kenyamanan ego.

Padahal sejarah punya cara sendiri untuk mencatat. Panggung kehormatan seremonial tidak akan pernah bisa membersihkan noda kebusukan di hati.

Topeng sehebat apa pun pasti akan runtuh pada waktunya. Sebab kebenaran memiliki jalannya yang tak terduga untuk membongkar kedok kemunafikan.

Kita hanya perlu sedikit bersabar menikmati tontonan gratis ini. Sembari terus menjaga kewarasan di tengah dunia yang makin pandai bersandiwara.

Bagaimana mungkin kita bisa berharap pada kemajuan institusi jika pemimpinnya adalah penjual semangat kepahlawanan palsu? *yas

Lokapala Newsroom
Eksklusif Lokapalanews.id

Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."