--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

PTS: Bisnis atau Pengabdian?

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto saat menghadiri Munas IV Asosiasi BP PTSI di Jakarta, Rabu (15/7).

Lokapalanews.id | Pernahkah Anda membayangkan sebuah kapal besar di tengah badai? Bukan badai ombak biasa, tapi badai teknologi yang mengubah segalanya dengan cepat. Kapal itu bernama perguruan tinggi swasta atau PTS.

Rabu kemarin, suasana di Munas IV Asosiasi BP PTSI di Jakarta terasa hangat. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, duduk bersama Wakilnya, Fauzan. Mereka bicara soal masa depan pendidikan kita yang sedang tidak baik-baik saja.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya menangkap nada bicara Pak Menteri yang cukup keras soal satu hal. Kata Pak Brian, pendidikan itu bukan bisnis. Titik.

Meski saya tahu banyak PTS yang berjuang cari napas demi operasional bulanan, Pak Menteri menekankan peran strategis pendidikan. Kita bicara soal mencetak pemimpin masa depan, bukan sekadar mencari profit semata.

Lalu, bagaimana caranya bertahan? Pak Brian bilang inovasi adalah kunci mutlak. Katanya, kalau kita bertahan dan berani berinovasi, turbulensi yang terasa sekarang justru akan memperkuat struktur pendidikan kita.

Saya manggut-manggut mendengar itu. Tapi, repotnya, inovasi itu butuh biaya. Apakah semua PTS sanggup melakukan lompatan besar di tengah himpitan ekonomi yang serba mencekik?

Wamen Fauzan kemudian menyodorkan data yang bikin saya sedikit bergidik. Ternyata, 63 persen atau sekitar 2.713 lembaga pendidikan tinggi di Indonesia adalah milik swasta. Lebih dari 4 juta mahasiswa kita belajar di sana.

Itu angka yang masif. Kalau PTS goyah, bayangkan berapa banyak mimpi anak muda yang akan ikut karam.

Data “Future of Jobs 2025” yang dibawa Pak Wamen juga cukup menakutkan. Pada tahun 2030, akan ada 170 juta pekerjaan baru, tapi 92 juta pekerjaan lama bakal hilang ditelan zaman. Belum lagi 39 persen keterampilan yang sekarang dianggap jagoan, bakal dianggap basi lima tahun lagi.

Baca juga:  Menambal Retakan Integritas: Dilema Transparansi dan Dominasi Kampus Negeri di Seleksi 2026

Artinya, lulusan PTS yang tidak relevan dengan kebutuhan zaman akan jadi penonton di negaranya sendiri. Saya tanya dalam hati, apakah kurikulum kita sudah secepat itu berubah?

Pak Wamen Fauzan berpesan dengan kalimat yang cukup filosofis. Katanya, peradaban itu tidak pernah runtuh karena perubahan itu sendiri. Peradaban runtuh karena kita gagal membaca perubahan.

Kalimat itu menohok sekali. Perguruan tinggi yang akan bertahan adalah mereka yang adaptif dan mau bergerak sesuai zaman. Tidak bisa lagi pakai cara lama untuk hasil yang baru.

Kemdiktisaintek pun berjanji akan menguatkan tata kelola. Mereka ingin pelatihan bagi PTS lebih proporsional dan sesuai karakteristik masing-masing. Tidak bisa disamaratakan antara kampus besar di kota metropolitan dengan kampus kecil di pelosok daerah.

Ketua Umum Asosiasi BP PTSI, Thomas Suyatno, juga angkat bicara. Dia sadar betul PTS sedang dipukuli berbagai tantangan. Baginya, forum munas ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum mencari jalan keluar.

Dia berharap ada sinergi nyata antara PTS dan Perguruan Tinggi Negeri. Tidak boleh ada lagi sekat kasta yang kaku. Kita semua sama-sama mencetak talenta unggul untuk bangsa.

Semangatnya adalah “Diktisaintek Berdampak”. Saya suka istilah itu. Sederhana, tapi sarat makna.

Pendidikan tidak boleh hanya menjadi menara gading yang menjulang tinggi, tapi kering akan manfaat bagi masyarakat sekitar. PTS harus menjadi motor penggerak inovasi yang terasa dampaknya sampai ke akar rumput.

Apakah kita cukup berani untuk berubah sebelum tergilas oleh perubahan itu sendiri? *yas

👁️ 5.570 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."