--- / --- 00:00 WITA

Jejak Abadi Arya Sentong di Sekarmukti

Paibon Arya Sentong yang ada di Banjar Sekarmukti, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali.

Lokapalanews.id | Aroma tanah basah dan kabut tipis menyelimuti langkah kaki I Gusti Ngurah Made Buleleng saat ia meninggalkan Sembung. Ia melangkah dengan beban batin yang menyesakkan dada, membelah kabut pagi yang menyelimuti perjalanan panjang menuju Pemahayun dan Keliki. Di tengah deru angin dan kecemasan para pengikutnya, ia sadar bahwa rumah bukan lagi tempat yang aman untuk bernaung.

Di Keliki, ia diterima oleh I Dewa Agung Made Sukawati dan mengubah namanya menjadi I Gusti Ngurah Pacung Taro. Kehadirannya di sana membawa harapan baru, namun ia juga membawa benih pengaruh yang perlahan mengakar kuat di tanah pengasingan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Sepuluh orang putra lahir dari garis keturunannya, termasuk I Gusti Ngurah Pate, I Gusti Ngurah Batan Duren, hingga I Gusti Ngurah Gunung. Ketegangan tak terelakkan saat pengaruh I Gusti Ngurah Pacung Taro kian meluas, memantik api perselisihan dengan I Dewa Agung Made Sukawati.

Pertempuran pecah di Keliki dan I Gusti Ngurah Pacung Taro harus menelan kekalahan pahit di medan laga. I Gusti Ngurah Batan Duren pun membawa sisa-sisa pengikutnya mengungsi menuju Yeh Tengah, lalu berlanjut ke Padangjarak.

Dengan membawa dua ratus orang panjak yang setia, rombongan I Gusti Ngurah Batan Duren kemudian berpindah ke Ubud. Tak lama berselang, ia menerima permintaan dari Adipati Menguwi yang memerintah di Singasari atau Blahkiuh untuk memimpin Desa Ayunan.

Keputusan itu diambil setelah I Gusti Gede Blambangan dari Menguwi berhasil menguasai wilayah Ubud sepenuhnya. Saat itu, nasib saudara-saudaranya seperti I Gusti Ngurah Pate atau I Gusti Ayu Pato menjadi teka-teki, sementara I Gusti Lod Jalan memilih membawa seratus pengikut ke Sebali.

Kekosongan kekuasaan di Ayunan terjadi setelah I Gusti Ngurah Ayunan gugur dalam peperangan hebat. I Gusti Agung Gede Agung kemudian meminta I Gusti Ngurah Batan Duren untuk kembali dan memulihkan tatanan di sana.

Baca juga:  Menelusuri Jejak Pengabdian Tjokorda Agung Tresna

Permintaan tersebut dipenuhi dengan penuh tanggung jawab, mengantarkan I Gusti Ngurah Batan Duren kembali ke Ayunan untuk memegang tampuk pimpinan. Ia dinobatkan menjadi raja ketiga dengan gelar I Gusti Gede Ayunan sebagai penghormatan bagi leluhurnya.

Masyarakat lokal justru lebih akrab memanggilnya I Gusti Ngurah Buleleng, sebuah nama yang merujuk pada keagungan I Gusti Ngurah Made Buleleng Tunggulyuda. Gelar tersebut tetap melekat sebagai bentuk kesetiaan ingatan kolektif masyarakat Ayunan terhadap akar silsilah yang panjang.

Dari pernikahannya dengan Ni Gusti Ayu Rasning, lahir empat orang putra yakni I Gusti Ngurah Rajya, I Gusti Ngurah Jaya, I Gusti Ngurah Jati, dan I Gusti Ngurah Pacung Ngemban. Keturunan mereka kemudian tersebar luas, melahirkan generasi penerus yang membawa nama-nama besar dari garis Arya Sentong.

I Gusti Ngurah Jati, putra ketiga dari I Gusti Gede Ayunan, memilih menempuh jalan yang berbeda melalui pengungsian ke Denbukit. Langkahnya sempat terhenti di Pura Pucak Padang Dawa sebelum akhirnya bergerak turun menuju Desa Auman, Kecamatan Petang.

Perjalanan tersebut terus berlanjut ke Desa Satung, Desa Buahan, hingga Desa Susut. Sebagian anggota keluarga akhirnya menetap di Banjar Sekarmukti, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, menyemai kehidupan baru di sana.

Narasi perpindahan ini menunjukkan bahwa legitimasi kekuasaan di masa lalu sering kali dibentuk melalui dinamika pengungsian dan kesetiaan pengikut. Kita memahami bahwa identitas suatu komunitas bukanlah sesuatu yang statis, melainkan hasil dari perpindahan panjang yang sarat akan dilema moral dan pilihan hidup.

Waktu mungkin telah meluruhkan fisik bangunan dan pertempuran yang pernah terjadi di masa itu. Namun, jejak Arya Sentong tetap hidup dalam ingatan kolektif yang terjaga lewat nama-nama banjar seperti Sekarmukti dan silsilah keluarga yang masih tertata rapi hingga saat ini. *yas

👁️ 8.000 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."