Lokapalanews.id | Menara gading itu rupanya mulai gelisah. Kampus tidak lagi cukup hanya berteori di ruang kuliah yang dingin dan kaku.
Dulu, kampus hidup tenang dari kucuran uang negara dan SPP mahasiswa. Sekarang zaman sudah berubah total, biaya hidup makin mahal dan tuntutan riset makin tinggi.
Sabtu, 15 Agustus 2026 kemarin, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, turun gunung ke Sumedang.
Pak Menteri sengaja datang untuk audiensi bersama perwakilan BEM Universitas Padjadjaran. Tujuannya jelas, mendengarkan langsung jeritan dan aspirasi mahasiswa soal carut-marut biaya pendidikan.
Mahasiswa tentu tidak mau tinggal diam melihat kampus mereka berubah wujud. Mereka menuntut desain pendanaan pendidikan tinggi yang jauh lebih berkeadilan.
Logika mereka sangat masuk akal dan patut didengar. Jangan sampai kampus murni berubah jadi mesin pencetak laba yang mengabaikan nurani kemanusiaan.
Lalu, bagaimana respons sang menteri menghadapi desakan itu? Pak Menteri ternyata punya pandangan tersendiri soal cara mengisi pundi-pundi kampus.
Saya coba bedah jalan pikiran kebijakannya, arahnya ternyata cukup radikal. Pendanaan perguruan tinggi tidak boleh lagi sekadar mengandalkan APBN atau memeras isi dompet mahasiswa.
Kampus didorong untuk kreatif mencari uang sendiri. Berbagai sumber pendapatan harus dioptimalkan tanpa ampun.
Mulai dari unit usaha komersial, kerja sama erat dengan industri, pengelolaan aset yang mangkrak, hingga hasil riset dan inovasi. Semua itu harus disulap menjadi sumber pemasukan yang berkelanjutan bagi institusi.
Bahkan, Pak Menteri bilang sains dan teknologi harus jadi ladang cuan. Katanya, semakin maju sebuah kampus, pendapatannya dari riset harus semakin besar.
Riset tidak boleh lagi berakhir sebagai tumpukan kertas berdebu di perpustakaan. Hasil penelitian wajib memiliki nilai tambah ekonomi yang nyata bagi kampus.
Pemerintah hadir bukan untuk menanggung semuanya secara penuh. Peran negara diubah menjadi penyiram tanaman alias pemberi stimulus.
Stimulus itu bertujuan agar kampus terbiasa merintis produk, teknologi, dan usaha mandiri. Dari situlah pundi-pundi uang institusi bisa mengalir deras secara mandiri.
Tapi, di sinilah titik krusial yang sering membuat bulu kuduk merinding. Apakah ambisi kemandirian finansial ini tidak akan mengorbankan rakyat kecil?
Untungnya, Menteri Brian langsung memasang garis batas yang tegas. Pengembangan sumber pendapatan kampus tidak boleh sedikit pun merampas hak akses mahasiswa miskin.
Prinsipnya ditegaskan tanpa kompromi. Beliau bilang dengan lugas bahwa tidak boleh ada satu pun mahasiswa yang terpaksa berhenti kuliah gara-gara masalah ekonomi.
Repotnya, teori di atas kertas sering kali bertolak belakang dengan realitas data di lapangan. Kasus salah sasaran data sosial ekonomi mahasiswa sudah menjadi penyakit menahun.
Bagi mahasiswa yang mendapati ketidaksesuaian data desil ekonomi mereka, pintu solusi telah disediakan. Mereka dipersilakan memanfaatkan kanal pengaduan dan perbaikan data resmi melalui BPS.
Jadi, penguatan pendanaan kampus dan perlindungan finansial mahasiswa harus berjalan beriringan. Dua roda ini harus berputar seimbang agar gerbong pendidikan tidak terbalik.
Langkah audiensi bersama BEM Universitas dan Fakultas Unpad ini tentu patut diapresiasi. Ini adalah cara elegan Kemdiktisaintek menyerap masalah langsung dari empunya kampus.
Segala masukan dari mahasiswa itu dicatat rapi sebagai bahan evaluasi kebijakan. Aturan yang kaku memang harus sering digoyang agar lebih membumi.
Tujuan akhirnya jelas, membangun ekosistem pendidikan tinggi yang kokoh secara riset dan pendanaan. Di sisi lain, kesempatan belajar yang setara bagi seluruh anak bangsa tetap terjaga aman.
Catatan resmi dari Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pun ditutup dengan optimisme tinggi. Ada tagar #DiktisaintekBerdampak, #Pentingsaintek, hingga #Kampusberdampak yang menyertai.
Tapi, pada akhirnya, waktu yang akan menguji seluruh janji manis kebijakan ini.
Apakah pabrik inovasi kampus benar-benar membebaskan rakyat, atau justru melahirkan bentuk komersialisasi baru yang berkedok sains? *yas






