Lokapalanews.id | Dinding semen itu tampak kusam, menyimpan hawa dingin yang ganjil di dalam sebuah ruangan sempit. Di atas dipan kayu yang bersahaja, kain seprai dibiarkan terbentang persis seperti kondisi aslinya puluhan tahun silam. Di sinilah, di dalam ruang privat yang kini sunyi, jejak-jejak terakhir seorang buruh perempuan yang berani bersuara dipelihara oleh waktu. Suasana khidmat menyelimuti Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, ketika langkah kaki pengunjung memasuki area tersebut.
Pada Sabtu, 16 Mei 2026 pukul 11.32 WIB, keheningan di desa itu berganti menjadi sebuah penegasan sejarah yang penting. Presiden Prabowo Subianto hadir di sana untuk meresmikan secara langsung Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah. Mengenakan kemeja putih khasnya, Presiden melangkah pelan memasuki area museum didampingi oleh sejumlah pejabat. Mata beliau tertuju lama pada setiap sudut kamar Marsinah yang dipertahankan sebagaimana adanya tanpa ada perubahan dekorasi.
Kamar itu menjadi saksi bisu dari akhir tragis seorang penggerak buruh yang tewas demi memperjuangkan hak-hak rekannya di pabrik. Sambil memandangi ruangan yang sempit itu, Presiden tidak dapat menyembunyikan rasa prihatinnya terhadap peristiwa kelam masa lalu tersebut. Beliau menyebut pembunuhan keji terhadap Marsinah merupakan noktah hitam yang sesungguhnya sama sekali tidak perlu terjadi di tanah air. Bagi kepala negara, tragedi ini menjadi pengingat pahit mengenai dampak buruk keserakahan yang mengabaikan nilai kemanusiaan.
Falsafah dasar Pancasila yang dianut oleh bangsa ini seharusnya menjadi pelindung utama bagi rakyat kecil, termasuk kaum pekerja. Presiden menjelaskan bahwa para pendiri bangsa telah meletakkan fondasi kuat yang mempersatukan Indonesia di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, dan ras. Oleh karena itu, prinsip keadilan sosial dan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 harus dijunjung tinggi dalam kehidupan bernegara. Sistem perekonomian nasional sudah semestinya dibangun atas asas kekeluargaan, di mana pihak yang kuat berkewajiban membantu yang lemah.
Dalam pandangan bernegara yang disampaikan, kedudukan buruh, petani, dan nelayan merupakan anak-anak kandung bangsa yang sah. Sementara itu, para pemimpin, politisi, dan birokrat hanyalah petugas yang menerima mandat serta kepercayaan sementara dari rakyat. Presiden menyayangkan jika ada pimpinan pengusaha pada masa itu yang memiliki pemikiran jahat demi meraup keuntungan pribadi yang besar. Praktik-praktik penindasan seperti itu dinilai sangat bertolak belakang dengan cita-cita luhur berdirinya Republik Indonesia.
Melalui peresmian ini, seluruh pelaku usaha di tanah air diajak untuk membangun kembali semangat kerja sama dalam wadah “Indonesia Incorporated.” Konsep ini memandang seluruh rakyat Indonesia sebagai pemegang saham yang sah atas segala kekayaan alam yang dimiliki oleh bangsa. Negara memegang kendali penuh untuk memastikan bahwa seluruh kekayaan tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat secara adil dan merata. Hubungan industrial yang harmonis harus tercipta tanpa ada lagi darah yang menetes demi menuntut upah yang layak.
Perjuangan mengembalikan hak-hak rakyat ditekankan tidak boleh dirusak oleh kolusi antara oknum pejabat yang dipilih dan pihak-pihak tertentu. Pintu keterbukaan kini dibuka lebar-lebar agar seluruh elemen bangsa dapat bergerak bersama-sama membenahi sistem kesejahteraan sosial. Sosok Ibu Marsinah kini secara resmi diabadikan sebagai lambang abadi dari perjuangan menegakkan keadilan kaum marjinal yang tidak boleh dilupakan. Riuh rendah suara serangga malam di luar museum seolah ikut mengiringi janji negara untuk lebih memanusiakan para pencari nafkah. *yas






