--- / --- 00:00 WITA

Sunyi Lebaran di Tapal Batas

Seorang personel Satgas Damai Cartenz sedang berinteraksi hangat dengan anak-anak di Kiwirok, menunjukkan sisi humanis di tengah tugas pengamanan yang ketat.

Lokapalanews.id | Di sebuah pos kayu yang menghadap ke lembah kabut Kiwirok, aroma opor ayam dan sambal goreng hati hanyalah bayangan yang mengambang di sela ingatan. Tak ada suara takbir yang bersahutan dari pengeras suara masjid desa, yang ada hanyalah deru angin pegunungan yang menusuk tulang dan gesekan sepatu laras di atas tanah berbatu. Seorang prajurit Satgas Operasi Damai Cartenz duduk terdiam, jemarinya mengusap layar ponsel yang retak, menampilkan foto seorang balita yang baru saja belajar berjalan – anak yang hanya bisa ia sapa lewat sinyal yang timbul tenggelam. Di Kiwirok, rindu adalah barang mewah yang harus disimpan rapat-rapat di balik rompi antipeluru, demi sebuah misi yang lebih besar: memastikan rindu warga lokal tak terputus oleh peluru.

Malam Idul Fitri 2026 di Pegunungan Papua tidak dirayakan dengan kembang api. Bagi warga asli di sini, perayaan sesungguhnya bukanlah keramaian, melainkan keberanian untuk melangkah keluar rumah tanpa menoleh ke belakang karena cemas. Ketenangan di wilayah ini bukanlah sesuatu yang terberi secara cuma-cuma dari alam; ia adalah hasil dari napas-napas yang terjaga 24 jam. Ketika seorang ibu di Jawa bisa dengan tenang menggandeng anaknya ke lapangan untuk salat Id, para ibu di Kiwirok masih harus menakar situasi sebelum mengantar anak-anak mereka ke sekolah atau sekadar pergi ke pasar untuk menukar hasil bumi.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Kehadiran Satgas Operasi Damai Cartenz di bawah komando Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani bukan sekadar barisan senjata yang berjaga di sudut jalan. Ada denyut kemanusiaan yang berusaha dipompa ke dalam nadi desa-desa yang sempat mati suri karena konflik. “Upaya yang kami lakukan bertujuan memastikan masyarakat dapat hidup dalam suasana aman, penuh kebersamaan,” ujar Faizal. Namun, di balik kalimat formal itu, ada realitas tentang anak-anak yang mulai berani tertawa lagi di halaman sekolah dan pedagang kecil yang kembali menggelar lapak pinangnya. Stabilitas di sini tidak diukur dengan angka statistik kriminalitas yang menurun, melainkan dengan seberapa lebar pintu rumah warga terbuka saat malam tiba.

Pendekatan yang diambil kini tak lagi melulu soal telunjuk di atas pelatuk. Kombes Pol. Adarma Sinaga, sang Wakil Kepala Operasi, menekankan keseimbangan yang rapuh antara ketegasan hukum dan sentuhan humanis. Di lapangan, ini berarti seorang aparat harus bisa menjadi pendengar yang baik sebelum menjadi penjaga. Mereka mendengarkan keluh kesah tentang akses kesehatan yang sulit atau aspirasi tentang masa depan pemuda desa. Komunikasi ini adalah jembatan yang dibangun di atas jurang trauma masa lalu. Karena pada akhirnya, stabilitas jangka panjang tidak bisa dipaksakan dengan laras baja, melainkan harus ditanam melalui rasa percaya yang tumbuh perlahan seperti pohon-pohon di hutan Papua.

Baca juga:  Elegi Sampah dan Mimpi Jernih sang Srikandi

Tugas di Kiwirok adalah sebuah kontradiksi yang menyakitkan sekaligus mulia. Para personel kepolisian ini melepaskan hak mereka untuk bersimpuh di kaki ibu atau memeluk istri di hari kemenangan, agar warga di pelosok negeri tidak perlu kehilangan anggota keluarga mereka lagi. Mereka menukar kehangatan ruang tamu dengan dinginnya pos penjagaan. Ini adalah pengabdian yang sunyi, jauh dari sorot lampu kamera ibu kota, dilakukan di tempat di mana sinyal ponsel lebih sering mati daripada hidup.

Namun, di tengah tantangan yang kompleks dan medan yang tidak ramah, ada harapan yang terus dijaga. Harapan itu terlihat saat aktivitas ekonomi kecil mulai bergerak kembali, atau saat interaksi sosial antarwarga kembali mencair. Ketenangan di Kiwirok memang belum sempurna, ia masih berupa tunas kecil yang perlu terus disiram dengan konsistensi dan kebijakan yang berkelanjutan. Negara hadir bukan sebagai tamu yang singgah sebentar, melainkan sebagai pelindung yang bersedia ikut merasakan dinginnya malam di pegunungan.

Saat fajar pertama Idul Fitri menyapa puncak-puncak Papua, para prajurit itu kembali berdiri tegak. Mata mereka tetap waspada, memindai setiap pergerakan di balik rimbunnya hutan. Mereka tahu bahwa selama mereka berjaga, ada ribuan warga yang bisa tidur dengan nyenyak. Rindu yang mereka simpan dalam-dalam di saku seragam adalah mahar yang dibayar untuk kedamaian Indonesia. Di Kiwirok, makna “pulang” telah bergeser; pulang bukan lagi soal kembali ke rumah, tapi soal mengembalikan rasa aman ke pelukan masyarakat yang selama ini didera ketakutan. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."