Lokapalanews.id | Layar gawai saya pagi ini dipenuhi kepulan asap hoaks. Padahal kopi di cangkir sudah separuh dingin.
Orang-orang di dunia maya tampak hobi sekali jadi hakim amatiran. Mengadili peristiwa dengan bumbu fitnah dan tuduhan liar ke sana ke mari.
Padahal, kejadian aslinya terjadi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Kericuhan meletus persis setelah massa aksi membubarkan diri dari sekitar Gedung DPR RI.
Nahas betul nasib dua warga yang terjebak di lokasi. Seorang pria bernama Bambang tewas. Seorang siswa kelas 12 bernama Faturrohman babak belur dianiaya tanpa ampun.
Tapi apa yang terjadi di jagat maya?
Jari-jari warganet sudah lebih dulu menuding ormas tertentu. Menyebar spekulasi murahan tanpa ujung pangkal yang jelas.
Repotnya kalau medsos sudah ambil alih kerja aparat penegak hukum.
Padahal, Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra sudah wanti-wanti agar publik tidak gampang terprovokasi oleh berita yang belum jelas juntrungannya.
Imbauan itu disampaikan Yusril pada Minggu, 30 Agustus 2026, untuk meredam panasnya kepala sebagian orang.
Jauh sebelum itu, saat membuka The 10th International Conference on Law and Justice (ICLJ) 2026 di Malang, Jawa Timur, pada Selasa, 7 Juli 2026, Yusril sudah sering mewanti-wanti pentingnya akal sehat dalam melihat persoalan hukum agar tidak terjebak opini sesat.
Tapi gelombang emosi massa memang paling gampang disetir pihak tak bertanggung jawab.
Usut punya usut, bentrokan maut itu melibatkan antarkelompok warga di tengah jalanan Pejompongan. Bukan urusan sederhana yang bisa diselesaikan lewat tebak-tebakan status Facebook atau cuitan Twitter.
Polda Metro Jaya sendiri masih sibuk bekerja keras di lapangan mengumpulkan bukti empiris.
Belum ada kesimpulan final. Belum ada palu vonis siapa dalang di balik layar, siapa yang menyuruh, siapa yang menggerakkan, dan siapa pelaku pengeroyokan sebenarnya.
Kata Yusril pasang badan, penyidik masih mendalami semua fakta secara intensif.
Siapa pun yang terbukti bersalah lewat jalur hukum yang sah pasti bakal disikat tegas tanpa pandang bulu.
Anehnya, banyak orang yang lebih suka melompati proses hukum. Inginnya main hakim sendiri sambil menunjuk hidung pihak lain.
Padahal, di tengah hiruk-pikuk bentrokan itu, banyak juga elemen mahasiswa dan masyarakat yang turun ke jalan dengan damai. Termasuk rombongan dari Pati yang jauh-jauh datang ke ibu kota sekadar menyampaikan aspirasi secara santun tanpa bikin rusuh.
Suara-suara damai itu malah tertutup oleh bayang-bayang provokasi segelintir kelompok yang gemar memperkeruh suasana.
Mengingatkan kita semua bahwa jempol di media sosial kadang kala jauh lebih mematikan daripada pentungan di jalan raya.
Lalu, kapan kita mau belajar tenang sebelum ikut-ikutan menuduh? *yas






