Lokapalanews.id | Pagi-pagi mencium bau hangus gambut di beranda rumah selalu membawa ingatan pada satu siklus musiman yang tak pernah absen. Rasanya, negeri ini seperti tak punya kamus pencegahan yang tuntas untuk urusan kebakaran hutan dan lahan.
Lalu, suara nyaring datang dari Senayan, menggema lewat kegerahan para wakil rakyat di Komisi IV DPR RI. Daniel Johan, legislator yang hafal betul aroma tanah kelahirannya, melontarkan kalimat yang bikin telinga panas seketika.
Katanya, Kalimantan sekarang sudah seperti setengah neraka akibat amukan api yang kian menjadi-jadi. Istilah itu tentu bukan sekadar hiperbola politik untuk mencari panggung, tapi cerminan riil di lapangan.
Repotnya, bencana tahunan ini sudah hampir melumpuhkan sendi-sendi kehidupan warga setempat tanpa ampun. Aktivitas harian mandek, kesehatan masyarakat terancam parah, dan roda perekonomian ikut tersendat di tengah pekatnya kabut asap.
Di sejumlah titik parah seperti Banjarbaru, Kalimantan Selatan, jarak pandang bahkan merosot drastis hingga tersisa sepuluh meter saja. Transportasi darat dan udara lumpuh total, membuat mobilitas warga seperti berjalan dalam labirin putih yang menyesakkan.
Ada cerita mengenaskan tentang sebuah truk pembawa motor yang mengalami kecelakaan hebat dan terguling di jalan raya. Semua gara-gara jarak pandang yang begitu sempit, menutup ruang aman bagi para pengemudi yang melintas.
Anak-anak sekolah pun kena imbas langsung dari pekatnya polusi udara yang mencemari hari-hari belajar mereka. Di Kabupaten Kubu Raya dan Kota Pontianak, sekolah terpaksa diliburkan karena kondisinya sudah di luar batas aman kesehatan.
Tapi, apa kata data BNPB soal sebaran titik panas atau hotspot ini di pulau Borneo? Angkanya ternyata bikin dada sesak karena terkonsentrasi dalam jumlah besar dan masif.
Kalimantan Tengah memegang rekor tertinggi dengan tujuh ratus enam puluh tujuh titik panas yang terpantau satelit. Disusul Kalimantan Barat dengan lima ratus enam puluh titik, lalu Kalimantan Selatan serta Kalimantan Timur masing-masing tujuh puluh empat titik, dan Kalimantan Utara sebanyak tiga titik.
Saya tanya bagaimana sikap pemerintah menghadapi sebaran masif ini di lapangan? Katanya, pemerintah jangan cuma puas menyajikan angka hotspot sebagai laporan rutin di atas kertas meja kantor.
Setiap titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi harus langsung diterjemahkan menjadi daftar lokasi prioritas. Petugas wajib memverifikasi dan menanganinya di lapangan dalam hitungan jam sebelum api merembes makin liar.
Celakanya, mitigasi tahunan kita sering kali kedodoran dan baru sibuk bergerak setelah api membesar di mana-mana. Padahal, dampak buruknya bukan cuma urusan lokal di dalam negeri saja, tapi sudah merembes melintasi batas negara tetangga.
Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut alias ISPA melonjak tajam, merusak ekosistem serta habitat satwa yang kehilangan tempat tinggal. Ratusan sekolah di Malaysia bahkan terpaksa ditutup sementara gara-gara kiriman kabut asap dari Kalimantan.
Negeri jiran itu bahkan sudah menyatakan siap membantu Indonesia agar penanganan karhutla bisa segera tuntas. Sementara Singapura mulai mewanti-wanti warganya sendiri terhadap potensi ancaman perluasan kabut asap dari Sumatera dan Kalimantan.
Lalu, langkah konkret apa yang didesak DPR kepada pemerintah pusat saat ini? Daniel meminta pengerahan pasukan pemadaman secara masif dipercepat tanpa banyak mengulur waktu lagi.
Operasi water bombing harus diperkuat, dibantu penerjunan tim darat gabungan dari Manggala Agni, BPBD, serta TNI dan Polri. Fokus utamanya jelas, yakni melibas titik-titik api di lahan gambut yang berisiko merembes ke kawasan sekitar bandara.
Operasi modifikasi cuaca juga harus segera dieksekusi melalui koordinasi intensif antara BNPB, BMKG, dan BRIN. Langkah ini krusial dilakukan selagi potensi awan masih tersedia sebelum puncak musim kemarau benar-benar mencekik wilayah tersebut.
Tapi, di tengah kelambanan birokrasi, pemandangan paling menyentuh justru lahir dari inisiatif mandiri masyarakat bawah. Ada seorang remaja berusia lima belas tahun bernama Rudiansyah di Palangkaraya yang viral karena aksi heroiknya.
Setiap pulang sekolah, ia mengenakan kostum superman demi membantu ayahnya memadamkan titik-titik api karhutla di sana. Semangat gotong royong itu juga ditunjukkan oleh kaum hawa di berbagai pelosok Kalimantan yang tak mau tinggal diam.
Di Sambas, ada kelompok ibu-ibu yang menamakan diri mereka Srikandi, sementara di Ketapang ada The Power of Mama. Saya kagum sekali melihat keberanian mereka, turun langsung berjibaku melawan kobaran api dengan alat seadanya.
Tentu saja, Daniel mengingatkan agar warga yang ikut membantu pemadaman tetap memprioritaskan keselamatan diri masing-masing. Jika situasi mulai membahayakan nyawa, serahkan kembali penanganannya kepada petugas resmi yang memiliki perlengkapan standar keamanan memadai.
Soal penyebab utama, penegakan hukum yang tegas harga mati bagi pihak-pihak yang membakar secara sengaja maupun lalai. Jangan sampai masyarakat telanjur habis kesabaran lalu menggunakan hukum adat atau hukum sosial sendiri di lapangan.
Repotnya lagi, penanganan di lapangan ini sempat terkendala urusan klasik birokrasi anggaran dari pusat. Makanya, Komisi IV mendesak Kementerian Keuangan segera mencairkan dana operasional pencegahan dan penanggulangan sebesar dua ratus sembilan puluh miliar sembilan ratus satu juta tiga ratus ribu rupiah.
Angka persisnya dua ratus sembilan puluh miliar sembilan ratus satu juta tiga ratus rupiah itu sangat mendesak. Supaya rantai pemadaman tidak lagi macet hanya karena alasan klasik kurangnya sumber daya finansial di tingkat operasional.
Api di gambut memang mudah disembunyikan di bawah permukaan, tapi dampaknya selalu membakar kewarasan nalar publik kita. *yas






