Lokapalanews.id | Saya sering membayangkan sebuah rumah tangga yang hidupnya hanya mengandalkan belas kasihan tetangga. Pasti tidak akan pernah bisa tegak kepala di depan orang lain.
Presiden Prabowo Subianto baru saja melontarkan pesan yang serupa saat upacara Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin, 1 Juni 2026. Beliau bicara tentang kemandirian bangsa di tengah arus global yang makin tidak menentu.
Tajam.
Prabowo menegaskan tidak akan ada bangsa lain yang bakal kasihan kepada Indonesia jika rakyat kita sendiri sampai kesulitan atau kelaparan. Pesan itu terasa sangat dingin, tapi itulah realitas politik dunia yang sebenarnya.
Saya membayangkan Prabowo sedang berdiri tegak di depan podium, lalu dengan nada tegas dia berkata kepada kita semua. Ujarnya, jangan berharap bantuan tulus dari kekuatan lain saat kita sedang berada dalam kondisi terjepit.
Dia seolah ingin membangunkan kesadaran kolektif kita. Bahwa dunia bukan panti asuhan yang menunggu untuk menolong siapa pun yang sedang jatuh.
Dunia adalah gelanggang kepentingan. Siapa yang kuat, dialah yang bertahan.
Kalau kita sampai lapar, jangan pernah bermimpi ada bangsa lain yang akan datang memberikan pertolongan tanpa syarat. Pasti ada harga yang harus dibayar.
Bisa jadi berupa kedaulatan yang tergadaikan. Atau mungkin kebijakan yang harus mengikuti kemauan mereka.
Repotnya, seringkali kita justru merasa senang saat diberikan bantuan. Padahal, setiap bantuan yang datang tanpa pondasi ekonomi yang kuat hanyalah jebakan pelan namun pasti.
Pancasila yang kita rayakan hari ini mestinya bukan sekadar seremonial belaka. Pancasila harusnya menjadi otot bagi bangsa ini untuk mampu memberi makan rakyatnya sendiri.
Prabowo sepertinya ingin menggeser paradigma kita. Dari bangsa yang menunggu uluran tangan, menjadi bangsa yang mampu mengulurkan tangan bagi orang lain.
Lalu, bagaimana caranya?
Tentu dengan memperkuat produksi pangan di dalam negeri. Dengan menghentikan ketergantungan pada produk asing yang sebenarnya bisa kita buat sendiri.
Kalau kita bisa swasembada, kita tidak perlu takut akan ancaman kelaparan. Kita tidak perlu tunduk pada tekanan negara mana pun.
Itulah makna kedaulatan yang sesungguhnya. Berdiri di kaki sendiri, bukan menjadi peminta-minta di tengah pergaulan bangsa-bangsa.
Saya setuju dengan pandangan tersebut. Memang pahit, tapi itulah obat yang paling mujarab untuk membuat kita kembali disegani.
Kita tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan penilaian orang lain. Kita harus fokus pada apa yang ada di dalam rumah kita sendiri.
Kalau rumah sendiri sudah kokoh, barulah kita bisa bicara banyak dengan tetangga. Selama perut rakyat masih lapar, bicara kedaulatan hanya akan menjadi retorika kosong.
Begitulah.
Siapa lagi yang akan memikirkan nasib bangsa ini, kalau bukan kita sendiri? *






