--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Vokal yang Mahal

Ilustrasi seorang pria berjalan meninggalkan gerbang kampus, di bawah langit senja.

Lokapalanews.id | Banyak yang bertanya. Lewat WhatsApp. Lewat telepon. Ada juga yang mampir ke rumah. Pertanyaannya seragam: Kok bisa dipecat?

Saya hanya tersenyum. Tipis saja. Sambil menyuguhkan kopi tubruk tanpa gula. Pahitnya pas. Seperti kenyataan yang sedang saya telan hari ini.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Jawaban saya juga seragam. Saya vokal. Terlalu vokal. Terutama soal kebobrokan atasan. Yang seharusnya tabu dibicarakan di ruang publik. Apalagi di lingkungan akademik.

Kampus itu menara gading. Begitu kata orang dulu. Tempat ilmu disemai. Tempat kebenaran dijunjung tinggi. Mestinya begitu.

Tapi kenyataannya sering berbeda. Di sana ada hirarki yang kaku. Ada ego yang setinggi plafon gedung rektorat. Ada kepentingan yang dibungkus rapi dengan jubah toga.

Saya memilih tidak diam. Bagi saya, diam adalah pengkhianatan. Terutama saat melihat sistem yang bengkok. Saat melihat anggaran yang menguap entah ke mana.

Aspirasi itu seharusnya didengar. Bukan dibungkam. Apalagi ini di dunia pendidikan. Tempat para calon pemimpin bangsa ditempa. Bagaimana mereka mau kritis kalau pengajarnya dipaksa jadi yes-man?

Kalau pengajarnya saja takut bicara, bagaimana mahasiswanya? Mereka akan belajar satu hal: Diam itu aman. Dan itu awal dari kematian nalar.

Saya sering membayangkan kampus seperti laboratorium. Di sana, semua unsur boleh dicampur. Boleh diuji. Boleh diperdebatkan hasilnya.

Tapi laboratorium saya berbeda. Ada zat yang tidak boleh disentuh. Zat itu bernama “kebijakan pimpinan”. Sekali Anda mengkritiknya, ledakannya bukan di tabung reaksi. Tapi di karier Anda.

Saya diingatkan banyak teman. “Sudahlah, main aman saja,” kata mereka. “Ingat cicilan, ingat keluarga.” Saya mengerti maksud mereka baik. Mereka sayang pada saya.

Tapi saya punya logika sendiri. Logika yang mungkin dianggap aneh oleh sebagian orang. Bagi saya, integritas tidak bisa dicicil. Ia harus lunas di depan.

Maka, ketika surat pemecatan itu datang, saya tidak kaget. Saya justru merasa lega. Beban di pundak saya lurus seketika. Saya tidak perlu lagi berpura-pura tidak tahu.

Keputusannya sudah final. Saya pun sudah mengemasi buku-buku. Tidak banyak. Hanya beberapa kardus. Yang berat bukan bukunya, tapi kenangannya.

Sekarang saya punya saran. Terutama untuk adik-adik mahasiswa. Atau orang tua yang mau menguliahkan anaknya. Pilihlah kampus dengan hati-hati.

Jangan kuliah di kampus yang anti-kritik. Jangan habiskan waktu di tempat yang alergi perbedaan pendapat. Itu bukan tempat belajar. Itu barak pelatihan kepatuhan.

Baca juga:  Benteng yang Roboh

Dunia ini luas. Masih banyak kampus lain yang lebih baik. Yang lebih lurus. Yang menghargai otak manusia lebih dari sekadar angka-angka di laporan keuangan.

Ciri kampus yang baik itu sederhana. Lihatlah bagaimana mereka memperlakukan pengkritiknya. Apakah diajak dialog? Ataukah langsung “dibereskan”?

Jika kritik dianggap serangan, ada yang salah dengan mentalitasnya. Pemimpin yang kuat tidak takut dikritik. Hanya pemimpin yang rapuh yang butuh keheningan total.

Kampus yang sehat adalah kampus yang gaduh. Gaduh oleh ide. Gaduh oleh perdebatan ilmiah. Bukan sepi seperti kuburan karena semua orang takut bicara.

Saya tidak menyesal. Sama sekali tidak. Kehilangan jabatan itu kecil. Kehilangan prinsip itu yang besar. Saya kehilangan yang kecil untuk menyelamatkan yang besar.

Kini saya punya banyak waktu. Untuk menulis. Untuk berdiskusi dengan siapa saja di kedai kopi. Tanpa perlu takut melanggar kode etik yang subjektif.

Ternyata udara di luar menara gading sangat segar. Lebih segar dari AC di ruang rapat yang penuh kepura-puraan. Saya bisa bernapas dengan lega sekarang.

Bagi mereka yang masih di dalam: teruslah berjuang. Tapi ukur kekuatan. Jangan konyol. Vokal itu perlu, tapi strategi juga perlu.

Saya mungkin sudah keluar dari gelanggang. Tapi bukan berarti saya berhenti menonton. Saya akan tetap menulis. Dari pinggir lapangan. Dengan jarak pandang yang lebih luas.

Hidup ini hanya sekali. Terlalu singkat untuk dihabiskan dengan menunduk. Terutama di depan orang yang salah. Yang merasa diri paling benar karena punya jabatan.

Besok saya akan bangun lebih pagi. Menikmati matahari tanpa beban administrasi. Sambil memikirkan apa lagi yang bisa saya bongkar lewat tulisan.

Karena suara yang dibungkam di satu tempat, biasanya akan meledak di tempat lain. Dengan gema yang jauh lebih keras. Dan jangkauan yang jauh lebih luas.

Saya hanya ingin memberi tahu satu hal. Kebenaran itu seperti air. Ia akan selalu menemukan jalannya sendiri. Sekeras apa pun Anda membendungnya.

Jadi, jangan pernah takut bersuara. Karena satu suara yang jujur, jauh lebih berharga daripada seribu tepuk tangan yang palsu. Itulah yang saya pegang teguh sampai hari ini.

Selamat mencari kampus yang benar-benar kampus. Yang mencerahkan, bukan menggelapkan. Yang memerdekakan, bukan menjajah pikiran. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."