Lokapalanews.id | Saya pernah punya teman. Orangnya hebat. Bicaranya memikat. Kalau sudah tampil di depan umum, semua mata tertuju padanya. Ia tampak begitu sempurna. Begitu peduli. Begitu manis.
Tapi ada satu hal yang aneh. Teman dekatnya sering mengeluh. Katanya, hidup di dekat orang hebat ini seperti naik roller coaster. Hari ini disanjung setinggi langit. Besok bisa diinjak sampai ke bumi.
Lalu, lusa? Tiba-tiba dia berubah jadi malaikat lagi.
Dulu saya pikir itu hanya soal suasana hati. Mungkin dia lagi stres. Mungkin banyak pikiran. Belakangan saya baru sadar. Ada istilah medisnya: Narcissistic Personality Disorder. Singkatnya NPD.
Ternyata, perubahan sikap dari kejam ke manis itu bukan kebetulan. Bukan pula tanda dia sudah insaf. Itu ada polanya. Ada ilmunya.
Dunia psikologi menyebutnya siklus push-pull. Tarik-ulur. Mirip orang main layangan. Kadang ditarik kencang sampai sesak napas. Begitu mau putus, talinya diulur sedikit. Dikasih napas lagi.
Tujuannya satu: supaya layangannya tidak lepas.
Bagi mereka, orang di sekitarnya adalah supply. Bahan bakar. Mereka butuh perhatian seperti kita butuh oksigen. Mereka butuh validasi. Dan yang paling utama, mereka butuh kontrol.
Kalau Anda mulai menjauh karena merasa sakit hati, mereka punya radar yang tajam. Mereka tahu Anda sedang bersiap pergi. Di titik itulah “keajaiban” terjadi.
Dia yang tadinya dingin bisa jadi sangat hangat. Dia yang tadinya merendahkan bisa jadi sangat memuji. Anda akan dikirimkan bunga. Atau diajak makan enak. Atau tiba-tiba dia minta maaf dengan nada yang sangat menyentuh.
Kita sering terjebak di sini. Kita pikir dia sudah berubah. Kita pikir cinta kita akhirnya membuahkan hasil. Kita merasa menang.
Padahal itu hanya strategi. Namanya love bombing. Bom kasih sayang.
Tujuannya bukan untuk memperbaiki diri. Tapi untuk memperbaiki situasi agar dia tetap memegang kendali. Dia tidak mau kehilangan sumber perhatiannya. Dia tidak benar-benar memahami luka yang dia buat. Dia hanya sedang “memperbaiki alat” yang rusak.
Ini yang berbahaya. Karena perasaan kita dipermainkan secara brutal.
Saat disakiti, mental kita jatuh. Saat tiba-tiba disayang, hormon dopamin di otak melonjak. Naik-turun ini menciptakan ketergantungan. Persis seperti pecandu narkoba. Anda jadi sulit lepas karena selalu menunggu momen “manis” berikutnya.
Padahal momen manis itu adalah umpan. Agar Anda mau kembali masuk ke dalam sangkar.
Saya sering merenung. Mengapa pola ini begitu efektif? Mungkin karena kita, sebagai manusia, selalu ingin melihat kebaikan pada orang lain. Kita selalu memberi kesempatan kedua. Ketiga. Bahkan keseratus.
Tapi ada satu hal yang harus kita bedakan. Antara perubahan sejati dan perubahan strategis.
Perubahan sejati itu konsisten. Tidak meledak-ledak di awal lalu hilang kemudian. Perubahan sejati tidak membutuhkan panggung. Ia tumbuh dalam kesunyian dan kejujuran.
Sedangkan pola NPD ini seperti kembang api. Indah sekali saat meledak di langit. Tapi setelah itu gelap lagi. Dan Anda ditinggal sendirian dalam kegelapan, menunggu ledakan berikutnya.
Memang sulit mendeteksi ini sejak awal. Mereka adalah aktor yang luar biasa. Bahkan sering kali mereka sendiri percaya pada aktingnya. Mereka merasa benar-benar baik saat sedang “menarik” Anda kembali.
Masalahnya, kebaikan itu punya syarat. Syaratnya adalah Anda harus tetap dalam kendalinya. Begitu Anda mencoba mandiri, atau punya pendapat berbeda, topeng itu akan jatuh lagi.
Kita harus mulai belajar melihat pola. Bukan melihat momen.
Kalau seseorang baik hanya saat dia merasa akan kehilangan Anda, itu bukan cinta. Itu manajemen risiko. Itu upaya mempertahankan aset.
Dunia ini sudah cukup melelahkan. Jangan ditambah lagi dengan hubungan yang menguras kewarasan.
Ada kutipan bagus: jangan menilai seseorang dari cara dia memperlakukan Anda saat dia ingin mendapatkan sesuatu. Nilailah dia dari cara dia memperlakukan Anda saat dia sudah merasa memiliki segalanya.
Konsistensi adalah mata uang yang paling mahal. Dan orang dengan pola NPD biasanya bangkrut di sana. Mereka kaya akan janji, tapi miskin bukti yang menetap.
Mungkin kita perlu lebih sering bertanya pada diri sendiri. Apakah saya merasa tenang di dekatnya? Atau saya merasa seperti berjalan di atas kulit telur? Selalu waspada, selalu takut salah.
Jika rasa takut lebih dominan daripada rasa damai, ada yang salah. Meskipun dia baru saja membelikan Anda dunia beserta isinya.
Sikap manis yang tiba-tiba itu memang indah. Tapi kalau tujuannya hanya untuk menutup luka yang lama, luka itu tidak akan pernah sembuh. Ia hanya tertutup plester warna-warni yang suatu saat akan lepas juga.
Hati-hati dengan pola yang licin. Karena jatuh di tempat yang licin itu sakitnya bukan main. Dan bangunnya, sering kali butuh waktu yang sangat lama. *yas
Pola Licin






