--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Kartini dan Klik

Seorang perempuan menatap layar ponsel di antara bayang-bayang cahaya kota, simbol tantangan moral di era digital.

Lokapalanews.id | Saya teringat obrolan di sebuah kedai kopi kecil, kemarin lusa. Di meja sebelah, dua anak muda sibuk dengan ponsel masing-masing. Mereka tertawa, tapi matanya tidak lepas dari layar. Jempol mereka bergerak cepat. Kanan, kiri, atas, bawah.

Saya jadi penasaran. Apa yang dicari? Apakah mereka sedang membaca surat-surat Kartini yang legendaris itu? Rasanya mustahil. Zaman sudah berubah jauh sekali.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Dulu, Kartini menulis surat dengan tinta dan kertas. Isinya tentang mimpi. Tentang pendidikan. Tentang keinginan melihat perempuan maju. Sekarang, orang menulis pesan singkat di aplikasi. Isinya sering kali tentang harga. Tentang pertemuan singkat di hotel melati.

Pekan ini kita merayakan Hari Kartini. Kebaya dipakai di mana-mana. Sanggul ditata rapi. Pidato emansipasi menggema di kantor-kantor pemerintahan. Tapi di balik layar ponsel yang redup, realitanya sering kali getir.

Teknologi itu netral. Pisau juga netral. Di tangan koki, ia jadi masakan lezat. Di tangan begal, ia jadi alat maut. Aplikasi pesan instan pun begitu. Niatnya untuk memudahkan silaturahmi. Tapi kenyataannya, ia menjadi pasar gelap prostitusi.

Saya menyebutnya “Kartini di Persimpangan Digital”.

Banyak perempuan muda terjebak di sana. Alasannya klasik: ekonomi. Mereka butuh uang cepat. Gaya hidup menuntut lebih. Ada yang ingin ganti ponsel model terbaru. Ada yang memang benar-benar untuk menyambung hidup.

Tekanan finansial itu nyata. Tapi yang lebih mengerikan adalah pergeseran nilai. Dulu, rasa malu adalah benteng terakhir. Sekarang, privasi bisa dijual dengan harga diskon. Cukup dengan beberapa kali klik, transaksi selesai.

Inilah tantangan emansipasi yang tidak pernah dibayangkan oleh Kartini. Beliau dulu berjuang agar perempuan bisa sekolah tinggi. Agar perempuan punya otak yang cerdas. Agar tidak sekadar menjadi perhiasan di dalam rumah.

Sekarang, pendidikan tinggi sudah bisa diakses. Banyak perempuan jadi CEO. Banyak yang jadi menteri. Tapi di saat yang sama, kemudahan teknologi justru membuka ruang bagi degradasi moral. Perselingkuhan jadi lebih mudah dilakukan. Ruang gelap di aplikasi daring seolah menjadi tempat aman dari pantauan sosial.

Kita sering menyalahkan aplikasi. Kita minta pemerintah memblokir ini dan itu. Tapi apakah itu solusi? Saya rasa tidak. Selama ada permintaan, penawaran akan selalu ada. Itu hukum pasar yang paling dasar.

Masalahnya bukan pada aplikasinya. Masalahnya ada pada “isi kepala” penggunanya. Dan di sinilah semangat Kartini sebenarnya masih sangat relevan.

Kartini bicara soal pendidikan. Bukan sekadar gelar sarjana. Tapi pendidikan karakter. Pendidikan yang membuat seseorang merasa “berharga” tanpa harus menjual harga diri. Pendidikan yang membuat perempuan mandiri secara ekonomi lewat cara-cara yang terhormat.

Saya sering melihat banyak perempuan hebat di daerah. Mereka berjualan kerajinan lewat media sosial. Mereka jadi reseller barang halal. Mereka mandiri. Mereka menggunakan teknologi untuk mengangkat derajat keluarga. Itu Kartini masa kini yang sebenarnya.

Baca juga:  Topeng JSN'45

Namun, godaan jalan pintas itu besar sekali. Mengapa harus lelah berjualan jika ada cara yang lebih cepat? Logika instan ini yang sedang merusak fondasi bangsa.

Lingkungan keluarga punya peran paling berat di sini. Keluarga bukan lagi sekadar tempat makan dan tidur. Keluarga harus jadi “filter” pertama. Orang tua tidak boleh gagap teknologi. Jangan bangga punya anak pendiam di kamar, padahal jempolnya sedang bertransaksi di aplikasi “hijau” atau “biru”.

Kita butuh kejujuran dalam keluarga. Komunikasi yang tidak kaku. Anak muda butuh teladan, bukan sekadar ceramah. Jika ayahnya sering main “api” di ponsel, jangan harap anaknya akan jauh dari “asap”.

Pemerintah juga punya tugas. Bukan hanya memblokir konten porno. Tapi menciptakan lapangan kerja yang aksesibel. Memberikan ruang bagi ekonomi kreatif perempuan. Memastikan bahwa untuk hidup layak, seseorang tidak perlu menanggalkan martabatnya.

Kita sering lupa bahwa emansipasi adalah tentang pilihan. Pilihan untuk menjadi lebih baik. Pilihan untuk berdaya. Bukan pilihan untuk bebas sebebas-bebasnya tanpa arah.

Kartini pernah menulis dalam salah satu suratnya. Dia ingin kaumnya maju. Tapi dia tidak pernah ingin kaumnya kehilangan jati diri sebagai manusia yang berbudi luhur.

Sekarang, setiap kali kita melihat ponsel, kita sedang diuji. Apakah kita menggunakan teknologi untuk maju? Ataukah kita sedang menyeret diri ke lubang yang paling dalam?

Hari Kartini tahun ini mungkin perlu kita rayakan dengan cara berbeda. Bukan sekadar lomba kebaya atau riasan wajah. Tapi dengan memeriksa kembali aplikasi apa saja yang ada di ponsel kita. Dan untuk apa aplikasi itu kita gunakan.

Kehormatan itu tidak bisa dibeli dengan kuota internet. Ia dibangun dengan integritas. Ia dijaga dengan harga diri. Kartini sudah memberi jalan lewat pena dan surat-suratnya. Tugas kita sekarang adalah memastikan jalan itu tidak tertutup oleh tumpukan sampah digital.

Jangan sampai emansipasi hanya jadi slogan di atas panggung. Sementara di bawah panggung, banyak perempuan yang justru terjerat oleh “kebebasan” yang salah kaprah.

Zaman memang terus berlari. Tapi nilai-nilai luhur tidak boleh tertinggal di belakang. Jika Kartini masih hidup, mungkin beliau akan menangis melihat betapa murahnya harga diri di tangan teknologi. Atau mungkin, beliau akan mengambil ponselnya dan mulai menulis pesan singkat: “Bangunlah, wahai kaumku. Jangan mau dijajah oleh jempolmu sendiri.”

Dunia digital memang luas. Tapi jangan sampai membuat hati kita makin sempit. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."