Lokapalanews.id | Bali itu indah. Tapi belakangan, kecantikan Pulau Dewata ini terusik oleh riuhnya kabar tentang organisasi masyarakat.
Namanya Madas. Mendadak viral lagi. Video aksinya berseliweran di layar ponsel warga.
Resah.
Penolakan di mana-mana. Netizen bersuara lantang. Mereka khawatir keamanan lingkungan terganggu.
Saya ingat, ormas sebenarnya punya peran. Tapi kalau sudah membuat warga tidak nyaman, itu soal lain.
Ruwet.
Di Bali, ada Pecalang. Penjaga keamanan adat yang sudah teruji. Mereka tidak butuh saingan yang justru bikin gaduh.
Pemerintah daerah melalui Kesbangpol bukannya diam. Mereka memantau. Memverifikasi legalitas.
Saya bertanya pada seorang kawan di Denpasar. Apakah ini memang ancaman nyata?
Dia hanya mengangkat bahu. Katanya, yang bikin takut itu sebenarnya ketidakpastian.
Kita memang harus waspada. Tapi bukan berarti harus panik berlebihan.
Ormas Madas sendiri sudah terpecah-pecah. Ada faksi ini, ada faksi itu.
Repotnya, publik sering menyamaratakan. Padahal, perilaku oknum belum tentu mencerminkan seluruh organisasi.
Penting diingat, hukum kita berlaku sama. Siapa pun yang melanggar ketertiban harus ditindak.
Tidak boleh ada yang merasa lebih kuat dari aturan setempat. Itu harga mati.
Jangan sampai Bali kehilangan kedamaiannya hanya karena ego kelompok.
Saya kira, pemerintah harus lebih tegas lagi. Jangan biarkan ruang publik didikte oleh kelompok tertentu.
Jika memang ada indikasi premanisme, sikat saja. Tidak perlu kompromi.
Masyarakat juga jangan gampang termakan konten viral. Saring dulu sebelum ikut-ikutan marah.
Kita sudah terlalu sering dipecah belah oleh narasi media sosial.
Sekarang waktunya kembali ke akal sehat. Jaga keharmonisan yang sudah susah payah dibangun.
Biarkan Pecalang bekerja dengan tenang. Biarkan Bali tetap menjadi tempat yang nyaman bagi semua orang.
Kalau pun ada ormas yang mau berkontribusi, silakan saja. Tapi harus beradaptasi dengan budaya lokal.
Jangan malah memaksakan kehendak sendiri. Itu namanya cari penyakit.
Lagipula, Bali bukan tempat untuk saling ancam. Bali adalah tempat untuk saling menghargai.
Begitulah.
Kita tunggu saja bagaimana ujung dari kegaduhan ini.
Apakah akal sehat akan menang? *






