Lokapalanews.id | Saya teringat obrolan dengan seorang kawan lama di sebuah warung kopi di pinggiran Renon. Dia mengeluh soal bau menyengat yang sesekali lewat dibawa angin. “Masalah sampah ini seperti jerawat,” katanya sambil tertawa getir. “Dipencet di satu titik, muncul lagi di titik lain.”
Minggu lalu, di Wantilan Setra Agung Badung, saya melihat ada harapan baru untuk “jerawat” kota ini. Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, duduk bersama Bendesa Adat Denpasar, I Gusti Ngurah Alit Wirakesuma. Mereka tidak sedang bicara soal proyek mercusuar, tapi soal sesuatu yang sangat membumi: sampah organik.
Ini menarik. Biasanya, urusan sampah dianggap murni tugas dinas kebersihan. Masyarakat cukup bayar iuran, taruh kantong plastik di depan rumah, lalu urusan selesai. Tapi kita tahu, cara lama itu sudah napas tua. TPA kita sudah sesak, bahkan sering batuk-batuk mengeluarkan asap.
Di Denpasar, ada sebuah kesadaran yang kembali ke akar. Desa Adat turun tangan. Bukan sekadar imbauan, tapi komitmen mengurus sampah di sumbernya. Di dapur kita masing-masing.
Bayangkan, Desa Adat Denpasar itu menaungi 106 banjar. Itu wilayah yang sangat luas. Jika 106 banjar ini serentak bergerak memilah sampah, beban kota ini bisa berkurang drastis. Inilah yang saya sebut sebagai simbiosis adat dan dinas yang sebenarnya.
Jaya Negara bicara soal PSEL (Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik). Sebuah teknologi canggih yang bisa mengubah kotoran menjadi cahaya. Tapi, mesin secanggih apa pun akan tersedak jika diberi “makanan” yang campur aduk. Sampah yang basah karena sisa makanan akan sulit dibakar.
Itulah mengapa pemilahan di sumber menjadi harga mati. Sampah organik, terutama sampah upakara yang melimpah di Bali, harus dikelola sendiri. Bendesa Alit Wirakesuma sudah pasang badan. Beliau bahkan menyiapkan lahan jika hasil kompos dari rumah tangga warga tak tertampung. Lahan itu akan dijadikan ruang terbuka hijau.
Ini adalah logika yang sangat sehat. Sampah organik dari alam, dikembalikan ke tanah, dan tumbuh menjadi taman yang asri. Tidak ada yang terbuang sia-sia. Semuanya kembali berputar dalam siklus kehidupan.
Namun, tantangan terbesarnya bukan pada pengadaan tong komposter atau mesin pencacah. Tantangan terbesarnya ada di ujung jari kita: kemauan untuk memisahkan kulit jeruk dari plastik pembungkusnya.
Seringkali kita malas. Memilah sampah dianggap merepotkan. Kita terbiasa dengan kepraktisan yang merusak. Padahal, jika kita mau sedikit bersusah payah di dapur, kita sedang menyelamatkan wajah kota ini untuk anak cucu kita.
Sinergi adat dan dinas ini adalah “senjata rahasia” Bali. Desa adat punya wibawa yang tidak dimiliki oleh aturan birokrasi biasa. Ketika Prajuru Banjar sudah sepakat, biasanya warga akan patuh. Bukan karena takut denda, tapi karena rasa memiliki terhadap wilayah.
Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pemerintah untuk membuang “dosa” harian kita ke TPA. Setiap butir nasi yang kita buang adalah tanggung jawab kita. Setiap sisa janur upakara adalah bagian dari persembahan kita yang harus diselesaikan dengan paripurna, bukan ditinggal begitu saja di pinggir jalan.
Saya membayangkan, jika pola ini sukses di Denpasar, ini bisa jadi contoh nasional. Bagaimana lembaga adat menjadi mesin penggerak ekologi. Kita kembali ke konsep Tri Hita Karana yang nyata, bukan sekadar kutipan di baliho kampanye. Hubungan manusia dengan alam diatur melalui pengelolaan limbah yang beradab.
Tentu, jalan menuju ke sana masih panjang. Sosialisasi di Wantilan itu baru garis awal. Butuh konsistensi agar semangat ini tidak layu setelah seremonial foto bersama usai. Kita butuh aksi nyata di tiap-tiap banjar, di tiap-tiap dapur.
Pemerintah menangani residu dan anorganik, masyarakat dan adat menangani organik. Pembagian tugas yang adil. Sebuah kontrak sosial baru untuk lingkungan yang lebih bersih.
Jika Denpasar bisa bersih karena warganya peduli, maka kenyamanan itu bukan milik Walikota semata. Itu milik kita semua yang menghirup udara di bawah langit Bali.
Semoga komitmen ini bukan sekadar angin segar sesaat. Saya ingin melihat lahan-lahan kosong di banjar berubah menjadi taman hijau karena dipupuk oleh kesadaran warganya sendiri. Karena pada akhirnya, sampah kita adalah cermin martabat kita. *yas






