--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Halus tapi Amis

Seseorang yang sedang duduk sendirian di meja kerja sambil menatap layar komputer dengan ekspresi lelah, di tengah suasana kantor yang tampak sibuk di latar belakang.

Lokapalanews.id | Saya punya teman lama. Seorang manajer di perusahaan besar. Namanya, sebut saja, Pak Budi. Orangnya pintar. Kerjanya rapi. Dedikasinya jangan ditanya lagi.

Tapi belakangan ia sering terlihat murung. Mukanya sering ditekuk. Padahal gajinya tinggi. Fasilitasnya lengkap. Ruangannya pun dingin.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Suatu sore kami ngopi. Di sebuah warung pinggir jalan. Bukan di kafe mewah. Pak Budi lebih suka yang begini. Lebih bebas bicara, katanya.

“Saya ini seperti dikuliti, tapi tidak berdarah,” ujarnya lirih. Ia menyeruput kopi hitamnya. Tanpa gula. Pahit sekali.

Awalnya saya tidak mengerti. Siapa yang tega menguliti manajer sehebat dia? Ternyata pelakunya bukan pisau. Bukan pula musuh terang-terangan. Pelakunya adalah rekan kerjanya sendiri.

Caranya sangat halus. Sangat rapi. Di dunia psikologi kerja, itu ada namanya. Office Undermining. Penjegalan halus. Istilah yang terdengar canggih. Tapi praktiknya sangat purba.

Intinya satu: membuat Anda terlihat bodoh di depan orang lain. Tanpa harus memaki. Tanpa harus memukul.

Pak Budi bercerita. Pernah suatu hari ia memberikan ide brilian. Dalam sebuah rapat besar. Direksi hadir semua. Semua manggut-manggut.

Tapi minggu depannya, ide itu berubah pemilik. Rekan sejawatnya yang bicara. Di depan bos besar yang lebih tinggi. Si rekan tadi mengklaim itu hasil renungannya di malam Jumat.

Pak Budi hanya bisa melongo. Mau protes, takut dianggap baper. Tidak protes, sakitnya di ulu hati. Itulah tanda pertama. Ide Anda jadi milik orang lain.

Ada lagi yang lebih jahat. Namanya teknik “meremehkan”. Anda sudah lembur seminggu. Mata sampai merah. Laporan sudah selesai. Sempurna.

Lalu di depan atasan, si penjegal tadi berucap enteng. “Ah, ini kan tugas mudah. Anak magang juga bisa.” Kalimatnya pendek. Tapi efeknya dahsyat. Kerja keras Anda dianggap angin lalu.

Dunia kerja memang panggung sandiwara. Tapi kadang skenarionya terlalu kejam. Ada orang yang sengaja tidak mengundang Anda ke rapat penting. Alasannya klasik: “Lupa memasukkan nama.”

Atau Anda diberi informasi yang setengah-setengah. Ibarat mau perang, Anda hanya diberi gagang pedang. Tanpa matanya. Saat Anda maju dan kalah, mereka tertawa di belakang.

Baca juga:  Pahlawan Bertopeng Penindas

Ini bukan soal persaingan sehat. Ini soal karakter. Ada tipe manusia yang merasa tinggi dengan cara menginjak orang lain. Mereka tidak mau naik kelas dengan prestasi. Mereka lebih suka orang lain turun kelas.

Saya melihat fenomena ini makin subur. Terutama di organisasi yang birokrasinya kaku. Di mana penilaian atasan hanya berdasarkan “katanya”. Bukan berdasarkan data nyata.

Di sana, pujian sering menjadi racun. “Kamu bagus sih, tapi…” Kalimat setelah kata “tapi” itu biasanya adalah belati. Yang siap menghujam reputasi Anda.

Kesalahan kecil dibesar-besarkan. Seolah-olah kiamat sudah dekat karena salah ketik satu huruf. Sementara kesalahan besar orang lain dianggap wajar. Dianggap sebagai proses belajar.

Mengapa ini terjadi? Karena sistem seringkali memberi ruang bagi para penjilat. Sistem yang tidak transparan adalah surga bagi para underminer. Mereka bergerak di area abu-abu.

Mereka tahu cara mengambil hati atasan. Mereka tahu kapan harus berbisik. Dan mereka tahu siapa yang harus disingkirkan. Biasanya yang disingkirkan adalah yang paling kompeten. Karena yang kompeten adalah ancaman.

Sangat melelahkan bekerja di lingkungan seperti itu. Energi habis bukan untuk produktivitas. Tapi habis untuk menjaga punggung agar tidak ditusuk.

Pak Budi akhirnya memilih mundur. Ia pindah ke perusahaan lain. Yang lebih menghargai hasil daripada intrik. Tapi tidak semua orang punya pilihan seperti Pak Budi.

Banyak yang terjebak. Bertahan demi cicilan. Bertahan demi dapur yang harus tetap mengepul. Mereka menelan ludah setiap hari. Menahan sesak di dada setiap pulang kantor.

Kantor harusnya jadi tempat berkarya. Bukan tempat bermain sandiwara yang melelahkan. Pemimpin harus jeli. Harus bisa membedakan mana emas, mana loyang yang dipoles.

Jangan sampai orang-orang terbaik pergi. Hanya karena mereka bosan menghadapi permainan halus yang amis. Karena pada akhirnya, perusahaan yang membiarkan undermining akan keropos dari dalam.

Apakah Anda pernah merasa “dilupakan” dalam undangan rapat penting minggu ini? Hati-hati. Mungkin Anda sedang dikuliti pelan-pelan. Tanpa suara. Tanpa darah. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."