Lokapalanews.id | Beberapa waktu lalu saya sempat melihat sebuah foto satelit tentang paru-paru dunia. Hijau, tapi mulai banyak lubang-lubang cokelat di sana-sini. Kalau kita bicara soal Kalimantan, pikiran kita pasti langsung terbang ke hamparan hutan yang luas. Tapi bagi orang Kalimantan Selatan, jantung dari kebanggaan itu ada di Pegunungan Meratus.
Masalahnya, menjaga gunung itu bukan cuma urusan menanam pohon. Menjaga gunung adalah urusan nyali melawan keserakahan. Kalau Meratus gundul, yang menderita bukan orang di Jakarta, melainkan warga di kaki gunungnya.
Belum lama ini, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, anggota Komisi III DPR RI, melakukan reses ke Hulu Sungai Tengah (HST). Beliau datang ke Polres HST, duduk bersama para Kapolsek, dan bicara blak-blakan. Pesannya tidak main-main: Polri harus jadi penjaga Meratus. Jangan sampai Meratus jadi “kenangan” gara-gara penggundulan hutan.
Anda tahu, sering kali bencana alam itu bukan murni “kehendak Tuhan”. Bencana itu sering kali adalah “undangan” yang kita kirim sendiri lewat gergaji mesin dan buldoser. Habib Aboe mengingatkan kita pada tragedi di Sumatra dan Aceh. Hutan digunduli, air tidak lagi punya rumah, dan akhirnya air itu “bertamu” ke rumah-rumah warga dalam bentuk banjir bandang.
Di sinilah peran polisi diuji. Menjaga Meratus bukan sekadar patroli. Ini soal zero tolerance bagi perusak lingkungan di area konservasi. Hukum tidak boleh belok karena urusan amplop atau tekanan oknum. Kalau area konservasi dirusak, ya tangkap. Sederhana, tapi dalam praktiknya sering kali rumit kalau “nyali” tidak ikut dibawa saat bertugas.
Tapi, ancaman di HST bukan cuma soal pohon tumbang. Ada racun yang lebih mematikan yang mulai masuk ke celah-celah kampung: narkoba. Sabu dan obat daftar G sudah mulai “akrab” di telinga masyarakat kita. Ini mengerikan. Kalau hutan yang rusak bisa ditanam lagi dalam puluhan tahun, tapi kalau generasi muda yang rusak otaknya karena sabu, selesailah masa depan kita.
Habib Aboe meminta Polri memutus mata rantai sampai ke akarnya. Jangan cuma pengguna yang ditangkap untuk sekadar memenuhi kuota laporan. Bandar besarnya yang harus disikat. Jangan beri celah.
Saya merenung, sering kali kita menyalahkan kegagalan sistem atau kurangnya dukungan fasilitas sebagai alasan kinerja yang melandai. Padahal, inti dari penegakan hukum itu adalah manajemen keberanian dan kejujuran di lapangan. Tanpa itu, secanggih apa pun fasilitas Polres, Meratus akan tetap gundul dan sabu akan tetap laku.
Hikmah dari kunjungan ini adalah pengingat bahwa keamanan sebuah daerah tidak hanya diukur dari rendahnya angka kriminalitas jalanan, tapi dari sejauh mana alamnya terjaga dan generasinya bebas dari racun narkoba. Polisi adalah benteng terakhir. Jika benteng itu goyah karena godaan, maka tamatlah riwayat Bumi Murakata.
Mari kita jaga Meratus sebagaimana kita menjaga nyawa kita sendiri. Karena saat alam mulai bicara lewat bencana, tak ada satu pun pangkat atau harta yang sanggup membungkamnya. *yas






