Lokapalanews.id | Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan prospek pasar modal Indonesia tetap berada dalam jalur positif di tengah ketidakpastian global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini dinilai berada pada level menarik dengan valuasi yang relatif rendah dibandingkan rata-rata historis.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dikutip InfoPublik.id menyebut pergerakan IHSG saat ini semakin selaras dengan indeks acuan global seperti MSCI dan FTSE Russell. Respons pasar tersebut mencerminkan keberhasilan langkah reformasi regulasi yang ditempuh regulator demi meningkatkan daya saing pasar modal domestik.
Fundamental pasar modal nasional turut diperkuat oleh kinerja emiten yang menunjukkan tren positif sepanjang kuartal I 2026. Data OJK mencatat pertumbuhan pendapatan dan peningkatan profitabilitas yang signifikan pada perusahaan-perusahaan tercatat di bursa domestik.
Perbaikan kinerja ini menjadi faktor utama yang menjaga optimisme investor terhadap aset-aset di dalam negeri. Selain itu, partisipasi investor ritel domestik juga terus mengalami lonjakan yang cukup tajam selama tiga tahun terakhir.
OJK mencatat jumlah investor pasar modal meningkat dari 12,17 juta pada tahun 2023 menjadi 26,49 juta per April 2026. Investor individu mendominasi capaian tersebut dengan total mencapai 26,43 juta investor di seluruh Indonesia.
“Pasar mulai memberikan respons positif terhadap berbagai langkah reformasi yang dilakukan regulator di sektor pasar modal,” ujar Friderica dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Kendati jumlah investor tumbuh masif, tantangan pendalaman pasar masih menjadi pekerjaan rumah bagi otoritas terkait. Data per April 2026 menunjukkan investor aktif harian baru menyentuh angka 448 ribu atau 1,69 persen dari total investor.
OJK berkomitmen meningkatkan partisipasi tersebut melalui penguatan program literasi, perlindungan investor, dan perluasan instrumen keuangan. Regulasi ke depan akan difokuskan agar pertumbuhan jumlah investor tidak sekadar bersifat kuantitatif tetapi lebih inklusif.
Stabilitas sektor jasa keuangan juga tetap terjaga berkat pengawasan ketat terhadap risiko likuiditas dan permodalan perbankan. Rasio intermediasi valuta asing pada sektor perbankan nasional pun dinyatakan tetap sehat dengan eksposur risiko yang terkendali.
OJK kini memprioritaskan pendalaman pasar sebagai sumber pembiayaan pembangunan nasional sekaligus pengembangan ekonomi hijau. Fokus pengawasan akan terus diarahkan pada penguatan integritas serta kredibilitas pasar demi menjaga kepercayaan publik.
Sektor jasa keuangan diproyeksikan menjadi pilar pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berdaya saing global. Pertanyaan kunci yang tersisa adalah sejauh mana efektivitas program edukasi mampu mengonversi basis investor ritel menjadi pelaku pasar yang aktif bertransaksi. *R102






