--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Jabatan Sementara, Luka Selamanya

Lokapalanews.id | Saya sedang antre soto di pinggir jalan tadi pagi. Di depan saya ada dua orang anak muda, sepertinya baru pulang kerja shift malam. Yang satu mengeluh panjang lebar. Dia merasa seperti “hantu” di kantornya sendiri.

“Saya sudah tidak pernah diajak rapat, akses folder kerja diputus, tapi bos tidak bilang apa-apa,” katanya lesu.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya mendengarnya sambil membatin. Kasihan. Anak muda ini sedang kena taktik yang sekarang lagi tren: silent firing.


Banyak orang berpikir dunia kerja itu hanya soal adu pintar atau adu rajin. Nyatanya, banyak yang lebih memilih adu sikut. Ada yang jadi penjilat demi cepat terlihat. Ada juga perusahaan yang main kucing-kucingan.

Tujuannya cuma satu: bikin Anda tidak betah sampai akhirnya resign sendiri. Kenapa? Karena kalau Anda mengundurkan diri, perusahaan tidak perlu keluar uang banyak untuk bayar Pesangon dan Uang Penghargaan Masa Kerja (UPMK) sesuai aturan PP No. 35 Tahun 2021.

Ini licik. Ini bukan kecerdikan, tapi kekerasan yang dibungkus efisiensi.

Lalu, bagaimana kalau Anda yang jadi sasaran? Atau mungkin Anda sedang jadi bahan gunjingan orang-orang yang “penyakit hatinya” lagi kumat?.

Saran saya: Tenang saja..

Jangan langsung baper. Jangan langsung menyerah. Orang yang benci akan tetap benci meski Anda sudah klarifikasi sampai berbusa. Jangan buang energi untuk mereka yang memang niatnya sudah buruk.

Tetaplah profesional. Jangan kasih celah bagi mereka untuk memecat Anda karena kesalahan fatal atau sikap yang malas-malasan. Sambil bertahan, kumpulkan bukti-bukti jika ada perubahan tugas yang dilakukan sepihak.

Dan yang paling penting: siapkan “sekoci penyelamat”. Jangan menunggu kapal tenggelam baru cari pelampung. Mulailah bangun jaringan baru, perbarui CV, dan siapkan diri untuk “loncat” ke tempat yang lebih manusiawi.

Baca juga:  Maling Teriak Maling

Ingat, karier itu bisa diulang. Nama baik yang difitnah pun suatu saat bisa dibersihkan. Tapi cara kita memperlakukan orang lain, itulah reputasi yang akan tertinggal saat jabatan kita hilang nanti.

Jangan sampai ambisi Anda menginjak harga diri orang lain. Jangan jadikan keinginan untuk naik jabatan sebagai alasan untuk menghancurkan mental rekan kerja. Dampaknya berat. Ada orang yang mentalnya runtuh sampai tidak mau berangkat kerja lagi. Ada yang pulang dengan kepala penuh beban sampai makan pun tidak terasa nikmat.

Luka batin orang lain itu tidak pernah sembuh secepat karier yang Anda kejar.

Dunia kerja memang tempat mencari nafkah, tapi bukan berarti kita harus kehilangan jati diri sebagai manusia. Kalau Anda merasa tinggi hanya karena jabatan, tunggu saja saat semua itu hilang. Yang tersisa cuma satu: bagaimana dulu Anda memperlakukan bawahan atau rekan kerja Anda.

Bagi saya, integritas itu harganya mati. Lebih baik keluar dengan kepala tegak daripada bertahan dengan cara menjilat atau menindas sesama.

Hidup ini singkat. Jangan habiskan waktu untuk membenci atau meladeni pembenci. Fokus saja pada karya. Kalau tempat Anda sekarang sudah mulai main “silent-silent-an”, ya sudah, siapkan kaki untuk melangkah ke depan.

Rezeki tidak akan tertukar. Tapi harga diri, kalau sudah hilang, sulit dicari gantinya. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."