Lokapalanews.id | Sore itu kopi saya terasa agak tawar. Bukan karena gulanya kurang. Kepala saya sudah telanjur penat memikirkan angka-angka triliunan rupiah yang hilir mudik di kepala.
Senin, 14 September 2026 kemarin. Suasana Istana Negara mendadak riuh di tengah cuaca Jakarta yang terik. Ada prosesi sakral yang baru saja tuntas di bawah naungan bendera Merah Putih.
Namanya Suahasil Nazara. Jabatan barunya kembali dikukuhkan: Menteri Keuangan. Bagian dari estafet panjang Kabinet Merah Putih 2024–2029.
Saya coba menelepon seorang kawan lama yang mangkal di lingkaran dalam istana begitu acara usai. Bertanya soal ekspresi sang menteri anyar.
Saya tanya dia soal itu. Jawabnya enteng tapi bernas. Katanya Suahasil tersenyum lepas namun sorot matanya menyiratkan beban seberat beton cor jalan tol trans-Jawa.
Wajar saja. Mengatur uang negara itu tidak semudah mengatur saku celana sendiri.
Lalu… apa kata Suahasil seusai dilantik Presiden Republik Indonesia?
Beliau langsung pasang kuda-kuda tegas. Pesannya lugas tanpa basa-basi birokrasi kusut. Keuangan negara wajib hukumnya tetap sehat. Titik.
Tapi sehat saja ternyata belum cukup. Harus kredibel. Harus bisa dipercaya oleh pasar dan rakyat jelata.
Padahal mencari titik keseimbangan antara sehat dan kredibel itu mirip berjalan di atas seutas tali tambang di atas kawah candradimuka. Anginnya kencang dari segala penjuru mata angin.
Program prioritas pemerintah sudah mengantre panjang di depan pintu. Semuanya butuh bensin anggaran. Semuanya menuntut suntikan dana segar tanpa kompromi.
Alih-alih bisa bersantai, APBN justru harus diperas otaknya agar bugar tanpa bikin rakyat kecil megap-megap di pinggir jalan.
Saya membayangkan bagaimana remuk redamnya isi kepala jajaran pejabat di Kementerian Keuangan sekarang. Mereka harus kerja ekstra keras memeras keringat.
Usut punya usut, Suahasil sadar betul tugas ini bukan sekadar pamer statistik angka pertumbuhan di atas kertas laporan tahunan yang tebal.
Ini soal urusan dapur jutaan rakyat Indonesia. Ini soal kelanjutan hidup republik ini dalam menatap masa depan.
Pemerintah punya target ambisius. Ekonomi nasional harus digenjot naik. Stabilitas makro harus dijaga mati-matian dari guncangan global.
Tapi bagaimana mungkin bisa lari kencang kalau dompet fiskal kita kurus kering kurang gizi?
Makanya, menteri baru kita ini langsung tancap gas tanpa rem. Menjaga kesinambungan fiskal jadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
Negara tidak boleh asal tekor demi popularitas sesaat. Utang wajib dikelola dengan akal sehat yang waras. Belanja negara harus tepat sasaran.
Anehnya, masih banyak politisi di Senayan sana yang hobi minta tambahan anggaran ujug-ujug tanpa hitungan matang di atas meja.
Mereka pikir APBN itu sumur minyak tak bertepi yang bisa dipompa dayungnya tiap detik.
Repotnya kalau menterinya tidak punya nyali besar. Bisa ambruk perekonomian nasional kita dalam sekejap mata gara-gara salah urus.
Untunglah Suahasil bukan pemain baru di pos basah sekaligus panas itu. Jam terbangnya sudah malang melintang menembus berbagai krisis ekonomi.
Beliau tahu persis pos mana yang harus digunting dan pos mana yang harus dipupuk subur.
Dalam keterangannya, Suahasil menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan Presiden adalah amanah suci negara. Harus diemban dengan penuh tanggung jawab moral.
APBN bukanlah sekadar instrumen akuntansi kering angka-angka mati. Ia adalah denyut nadi kehidupan bangsa ini.
Kalau denyut nadinya lemah syahwat, seluruh organ tubuh republik otomatis ikut lumpuh berdarah-darah.
Karena itulah, Kementerian Keuangan di bawah komando sang nakhoda lama berwajah baru ini dipastikan bakal terus bekerja pontang-panting.
Menumbuhkan ekonomi itu wajib hukumnya, tapi stabilitas harga dan nilai tukar jangan sampai dikorbankan begitu saja demi angka semu.
Dua roda itu harus berputar seirama. Seperti rel kereta api yang membentang lurus tanpa boleh saling mendahului.
Kita tentu menanti gebrakan nyata berikutnya di lapangan. Apakah dompet negara benar-benar bugar perkasa atau sekadar slogan manis di atas podium pelantikan.
Siapa yang kuat menahan syahwat belanja tanpa arah, dialah yang keluar sebagai pemenang sejati. *yas






