Lokapalanews.id | Pagi-pagi menyeruput kopi hitam, pikiran saya melayang jauh ke markas polisi siber.
Dunia ini rupanya sudah jungkir balik.
Dulu, kalau orang mau main judi, cukup kumpul diam-diam di pojok kampung sambil intip-intip kalau ada hansip lewat.
Sekarang? Cukup pegang HP sambil leyeh-leyeh di atas kasur kamar tidur.
Repotnya, para bandar haram itu tidak lagi pakai cara-cara konvensional yang gampang ditebak.
Mereka sudah naik tingkat.
Mengandalkan kecerdasan buatan alias AI.
Hari Kamis, 3 September 2026 di Jakarta, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri membuka tabir busuk yang bikin dahi berkerut-kerut.
Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Adex Yudiswan, blak-blakan membongkar jurus baru para pelaku kejahatan siber ini.
Saya langsung membayangkan betapa pusingnya kepala para penyidik di lapangan.
Situs judi diblokir detik ini, detik itu juga situs baru sudah nongol lagi entah dari mana.
Rekening penampung ditutup polisi, rekening cadangan langsung aktif berputar dalam hitungan detik.
Padahal, teknologi pembentukan situs kilat itu digerakkan oleh bot otomatis dan sistem AI yang bekerja tanpa kenal lelah.
Mereka tidak perlu lagi lembur semalaman buta mengetik baris kode satu per satu.
Semuanya sudah diatur mesin pintar.
Tinggal klik tombol, sulap digital terjadi seketika.
Usut punya usut, masalah utamanya ternyata berakar dari perut pasar kita sendiri.
Demand atau permintaannya memang tinggi minta ampun.
Saya sempat merenungkan ucapan Adex soal fenomena sosial ini.
Jawabannya enteng tapi menohok ulu hati.
Kalau kejahatan lain pelakunya mungkin terpaksa karena perut lapar, tapi kalau judi, orang-orang justru dengan sadar aktif mencari sendiri tanpa disuruh.
Karena pasarnya melimpah ruah tanpa henti, wajar kalau para penyedia jasa ilegal ini berlomba-lomba merogoh kocek dalam untuk menyewa teknologi paling canggih.
Alih-alih jera terkena razia, mereka justru semakin kreatif meracik strategi pertahanan diri.
Sistem keuangannya pun dirancang sedemikian rupa untuk mengelabui aparat.
Mereka memakai jaringan akun-akun nominee yang dipinjam dari orang lain, dipadu dengan pola layering yang berlapis-lapis.
Uang haram itu mengalir deras melewati lorong-lorong gelap digital tanpa bisa disentuh dengan mudah oleh aturan konvensional.
Anehnya, batas teritorial negara sama sekali tidak menjadi halangan bagi sindikat ini.
Sifat operasionalnya benar-benar borderless tanpa batas wilayah.
Tim marketing-nya duduk manis merancang strategi di Kamboja.
Pengelola websitenya nongkrong santai sambil ngopi di Cina.
Sementara uang hasil jarahannya berputar-putar entah di belahan bumi mana lagi yang sulit dijangkau hukum lokal.
Kondisi rumit semacam ini tentu membuat pihak kepolisian tidak bisa lagi bekerja sendirian memakai cara-cara lama yang lamban.
Bikin laporan administratif, tunggu disposisi, lalu bergerak lambat.
Cara itu sudah kedaluwarsa.
Pemberantasan sindikat digital ini butuh kerja sama lintas negara yang sangat alot.
Butuh kolaborasi antar kementerian dan lembaga di dalam negeri yang sering kali birokrasinya mirip jalannya siput bunting.
Tapi, mampukah birokrasi kita berlari secepat derap langkah AI?
Itu pertanyaan besarnya.
Adex dengan tegas mengingatkan bahwa urusan memberantas judi online tidak boleh berhenti cuma pada seremonial pemblokiran situs web semata.
Percuma saja.
Situs mati satu, tumbuh seribu berkat bantuan robot-robot pintar yang kebal hukum lokal.
Yang harus dibongkar sampai ke akar-akarnya adalah jejaring infrastruktur digital dan aliran uang haramnya.
Sebab, di balik gemerlap iklan kemenangan instan yang menjanjikan kaya mendadak, ada satu kebenaran telak yang diungkapkan sang direktur siber.
Konsep judi online itu sebenarnya bukan permainan ketangkasan atau hoki sama sekali.
Itu adalah murni konsep penipuan massal yang dibungkus dengan balutan teknologi canggih.
Kalah atau menang sudah diatur rapi oleh algoritma mesin.
Pemain hanya dijadikan sapi perah digital yang dikuras dompetnya perlahan-lahan.
Lalu, sampai kapan kita mau membiarkan robot-robot asing mengeruk uang rakyat lewat layar ponsel pintar setiap hari? *yas






