Om Swastiastu.
Tapi tunggu dulu. Ini bukan salam pembuka biasa di seminar kampus yang bikin ngantuk.
Ini salam perpisahan seorang guru. Seseorang yang hidupnya diwakafkan di ruang-ruang kuliah, jauh sebelum era internet membuat segalanya serba instan.
Namanya memang tak lagi tertulis di papan jadwal. Tapi rekam jejak pengabdiannya membentang panjang dari tahun 1986 sampai 2025. Ditambah bonus satu tahun yang oleh pimpinan disebut dengan istilah manis: kemurahan hati.
Bayangkan. Hampir empat dekade mengajar. Mencetak ribuan kepala agar berpikir jernih.
Lalu, jepret!
Sebuah Surat Keputusan turun dengan dingin. Isinya telak tanpa tedeng aling-aling: kontrak sebagai dosen tidak tetap resmi dihentikan.
Alasannya? Evaluasi kinerja akademik belum memenuhi standar institusi.
Nah. Di sinilah letak lucunya logika birokrasi pendidikan kita hari ini.
Bagaimana bisa seorang dosen dituduh mandul secara akademik, kalau namanya saja sengaja dikosongkan dari daftar mengajar?
Logika macam apa yang dipakai para pembuat kebijakan ini? Dosen disuruh menunaikan Tri Dharma Perguruan Tinggi selengkap-lengkapnya. Tapi kelasnya tidak ada. Mahasiswanya tidak dibagikan. Membimbing skripsi dilarang. Menguji di ruang sidang apalagi.
Orang diikat kedua kakinya kencang-kencang, lalu disalahkan karena tidak bisa lari maraton.
Padahal, kesepakatan awal antara lembaga dan para dosen purna tugas sudah terang benderang. Ada komitmen soal perpanjangan masa bakti. Hitung-hitung penghargaan minimum bagi mereka yang telah menaruh separuh nyawanya untuk kampus tersebut.
Tapi begitu angin kekuasaan bergeser, kesepakatan tinggal kesepakatan. Kertas perjanjian bisa dilipat, lalu dibuang ke tempat sampah.
Saya membayangkan suasana di ruang-ruang rapat petinggi kampus itu. Pasti sangat terhormat. Penuh mimik prihatin sambil mengetuk-ngetukkan pena mahal ke meja rapat.
Padahal substansinya cuma soal bagaimana mencari jalan keluar paling licin untuk menyingkirkan orang lama yang dianggap mulai mengganggu kenyamanan.
Repotnya, sang dosen yang dizalimi ini bukan tipe penggebrak meja. Beliau memilih jalan elegan.
Ponselnya digenggam erat. Jari-jarinya mengetik pesan WhatsApp dengan sangat santun. Menembus ruang privat pejabat yang berwenang.
Beliau bertanya baik-baik. Kenapa namanya lenyap dari daftar? Mengajar atas nama siapa gerangan?
Apa jawabannya?
Sunyi.
Ponsel bergetar pelan di atas meja, tapi layarnya tetap gelap gulita. Tidak ada balasan sepatah kata pun. Centang biru mungkin sudah aktif, tapi nurani sang pejabat rupanya sedang offline total.
Alih-alih diajak duduk bersama, yang datang justru vonis pemecatan berbungkus evaluasi fiktif.
Di sinilah rasa perih itu merayap naik ke dada.
Bukan karena kehilangan posisi atau urusan honorarium bulanan.
Tapi karena panggung kampus yang dulu diisi dengan pekik merdeka dan Jiwa Semangat Nasionalisme ’45, kini berubah menjadi panggung sandiwara kaum oportunis.
Kita begitu fasih berpidato tentang etika di podium-podium megah. Mengajari mahasiswa muda tentang arti kejujuran, integritas, dan keluhuran budi pekerti.
Tapi begitu urusan kepentingan sempit di internal lembaga tersenggol, etika standar itu dilipat rapi lalu dimasukkan ke laci paling bawah.
Rasanya pahit. Seperti menyeruput kopi hitam pekat tanpa gula, tapi ampasnya nyangkut di tenggorokan dan enggan turun.
Dosen senior ini memilih ikhlas. Beliau menolak berpolemik. Menolak memperpanjang urat leher di meja pengadilan atau berteriak-teriak mencari simpati murahan di media sosial.
Beliau memilih pamit.
Membawa koper penuh kenang-kenangan dari era 1986. Meninggalkan gedung kampus tempatnya pernah menanam benih-benih nalar kritis.
Apakah para pimpinan itu sadar apa yang sedang mereka buang ke tong sampah?
Pengalaman empat dekade mengajar tidak bisa dibeli di toko kelontong. Loyalitas selama puluhan tahun tidak bisa dicicil lewat SK kilat yang dicetak semalam.
Ketika seorang abdi negara ditendang keluar dengan alasan kinerja fiktif yang mereka buat sendiri, yang runtuh sebenarnya bukan karier sang dosen.
Yang runtuh adalah martabat institusi itu sendiri.
Om Shanti, Shanti, Shanti, Om.
Sebuah penutup doa yang menyejukkan jiwa, jauh lebih damai ketimbang nurani para pejabat yang memilih pura-pura tuli saat WhatsApp masuk dari seorang guru yang dizalimi. *yas






