Lokapalanews.id | Saya pernah melihat sebuah foto lama. Isinya hamparan hutan hijau yang sangat luas, tapi di tengahnya ada luka menganga. Tanah merah kecokelatan yang dikeruk tanpa ampun. Di atasnya berdiri alat berat yang menderu-deru. Itu bukan sekadar pemandangan alam yang rusak. Itu adalah pencurian besar-besaran yang terjadi di depan mata kita, tapi selama bertahun-tahun seolah-olah kita buta.
Mengapa kita buta? Karena melawan pencuri hutan itu bukan seperti melawan pencuri jemuran. Mereka punya uang. Mereka punya pengacara mahal. Mereka punya preman. Dan yang paling berbahaya, mereka sering punya “orang dalam”.
Maka, ketika Rabu lalu Presiden Prabowo Subianto berdiri di Kejaksaan Agung, suaranya terdengar sangat personal. Beliau tidak hanya bicara angka, tapi bicara tentang harga diri. Ada 4 juta hektare kawasan hutan yang berhasil dikuasai kembali. Triliunan rupiah diselamatkan. Itu angka yang luar biasa besar, tapi Presiden lebih memilih menggunakan istilah yang tidak biasa bagi seorang kepala negara: Pendekar.
“Saudara adalah pendekar-pendekar sejati. Kalian adalah patriot-patriot sejati,” kata Prabowo.
Mengapa disebut pendekar? Karena Satgas PKH ini bekerja di medan yang sunyi. Mereka tidak bekerja di bawah lampu sorot studio TV atau di depan kamera influencer. Mereka ada di pedalaman, di tempat yang tidak ada sinyal HP, menghadapi rakyat yang dihasut dan preman yang dibayar untuk melawan petugas.
Di sana, hukum rimba lebih nyata daripada hukum negara. Kalau Anda tidak punya mental pendekar, Anda pasti pulang dengan tangan hampa. Atau lebih buruk: Anda pulang tinggal nama.
Prabowo membawa analogi yang sangat Indonesia: Pandawa dan Kurawa. Sebuah pertarungan abadi antara yang lurus dan yang zalim. Antara good against evil. Pesannya jelas: pemerintah sedang menyatakan perang terhadap mereka yang merasa lebih besar dari negara.
Menariknya, Presiden sempat menyinggung soal fitnah dan upaya pelemahan. Beliau tahu, semakin sukses Satgas ini bekerja, semakin kencang angin serangan kepada mereka. Mungkin lewat medsos, lewat isu-isu yang dipelintir, atau lewat lobi-lobi politik. Tapi jawaban Prabowo tegas: tidak ada keraguan.
Saya menangkap satu sinyal kuat. Tahun 2026, Presiden menjanjikan langkah yang lebih berani lagi. Ini adalah “ancaman” bagi mereka yang masih mencoba bermain-main dengan kekayaan negara.
Refleksi saya sederhana saja: Selama ini kita sering menyalahkan sistem yang gagal atau manajemen yang buruk jika hutan kita habis. Tapi hari ini kita diingatkan, sistem sehebat apa pun butuh manusia yang punya hati. Butuh orang-orang yang merasa bahwa setiap jengkal tanah yang dicuri adalah penghinaan bagi ibu pertiwi.
Hikmahnya? Menjaga negara ini memang tidak cukup dengan kepintaran. Butuh nyali seorang patriot dan ketulusan seorang pendekar. Karena pada akhirnya, rakyat tidak butuh janji yang indah di atas kertas, tapi bukti bahwa kekayaan mereka tidak lagi “menguap” ke kantong-kantong gelap.
Kita titipkan harapan ini pada para “pendekar” itu. Jangan sampai langkah yang sudah berani ini layu sebelum tahun 2026 tiba. *yas






