Lokapalanews.id | Ada pemandangan menarik dari Mataram. Biasanya, kita membayangkan seorang profesor itu sibuk di balik tumpukan buku, laboratorium, atau sibuk mengejar poin angka kredit untuk kenaikan pangkat. Tapi kali ini, mereka justru turun gunung, menanggalkan “keglamoran” akademik demi bau tanah dan keringat warga desa.
Kamis kemarin, 9 Juli 2026, sebuah langkah berani diambil oleh Pemerintah Provinsi NTB dan Universitas Mataram. Mereka meluncurkan program “Profesor Berdampak”. Sebanyak 120-an Guru Besar Unram bakal “diasingkan” ke desa-desa selama tiga tahun ke depan.
Tugasnya bukan lagi sekadar menulis jurnal ilmiah yang mungkin hanya dibaca segelintir akademisi. Mereka ditugaskan mendampingi Program Desa Berdaya. Membuka potensi ekonomi, memutar roda inovasi, sampai urusan pengentasan kemiskinan di akar rumput.
Saya melihat ini sebagai antitesis dari sindrom menara gading yang lama menghinggapi kampus-kampus kita. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, pun langsung jempol dua untuk langkah ini. Katanya, ini adalah buah nyata dari semangat Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 yang digelar bulan lalu.
Repotnya selama ini, banyak inovasi hebat kita yang terjebak dan berakhir sebagai pajangan di laboratorium atau dokumen di rak perpustakaan. Sangat sayang. Padahal, ilmu pengetahuan baru punya nilai kalau ia berhasil memecahkan masalah yang nyata di depan mata masyarakat.
Rektor Unram, Prof. Sukardi, sepertinya sudah tidak mau main-main. Sebanyak 22 kelompok guru besar sudah disiapkan untuk turun langsung. Bahkan tahun depan, mereka berencana mengerahkan dosen dan mahasiswa KKN agar ekosistem desa ini benar-benar hidup.
Bayangkan, kalau ini konsisten dijalankan di seluruh daerah. Pemerintah daerah yang sering bingung mencari solusi inovatif, bisa langsung “mengawinkan” kebutuhan mereka dengan kepakaran para profesor yang jumlahnya ribuan di Indonesia. Ini kolaborasi yang seharusnya terjadi sejak dulu, bukan baru sekarang.
Tentu tantangannya tidak mudah. Mendampingi desa itu bukan perkara teori saja. Ada ego sektoral, ada kebiasaan lama masyarakat, dan tentu saja medan sosial yang jauh lebih kompleks dibanding kelas kuliah. Tapi, itulah gunanya profesor. Gelar itu harusnya punya tanggung jawab moral lebih besar untuk memberikan dampak.
Kemdiktisaintek seolah memberi sinyal tegas: kampus jangan lagi jadi menara gading yang sibuk dengan urusan sendiri. Ia harus jadi pusat solusi. Pusat di mana riset dan pengabdian tidak lagi terpisah oleh sekat administrasi yang kaku.
Kalau profesor sudah mau turun ke desa, memikirkan bagaimana caranya agar ekonomi lokal berdenyut, dan memastikan risetnya bisa dirasakan petani atau pengrajin, maka pendidikan tinggi kita tidak lagi dianggap mahal dan sia-sia. Pendidikan harus membumi, bukan sekadar melangit.
Sebab, pada akhirnya, gelar akademik paling tinggi bukanlah yang tertulis di depan nama, melainkan seberapa besar perubahan baik yang bisa kita berikan bagi sesama. *yas







