--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Panggung Sandiwara Pusara

Sejumlah pejabat tampak sedang melakukan upacara bendera dengan khidmat di sebuah lapangan terbuka di Indonesia.

Lokapalanews.id | Aroma parfum mahal itu mendadak menusuk hidung. Beradu dengan bau debu upacara yang kering di lapangan terbuka. Kemeja-kemeja licin disetrika rapi, seolah martabat bangsa hanya diukur dari tajamnya lipatan celana para pejabat yang berbaris di sana.

Saya perhatikan satu per satu wajah di sana. Ada senyum yang dipaksakan ke arah lensa kamera. Mereka hafal betul ritual ini, dari langkah baris-berbaris hingga orasi yang penuh dramatisasi.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Kita semua tahu naskahnya. Semua orang hafal panggungnya. Tapi, di balik riuhnya tepuk tangan itu, ada kebenaran pahit yang sengaja dibungkus pita merah putih.

Kita sedang memperkosa makna kepahlawanan. Menjadikannya sekadar kostum untuk menutupi busuknya karakter.

Repotnya, kita terlalu rajin berseremonial. Karangan bunga ditaruh di bawah patung perunggu yang dingin. Lagu nasional dinyanyikan dengan nada yang sengaja dibuat bergetar.

Saya jadi bertanya, apakah itu yang diinginkan para pendahulu? Mereka yang tulang-belulangnya sudah menyatu dengan tanah air ini.

Apakah mereka mati berkalang tanah hanya untuk melihat anak cucunya sibuk berswafoto? Lalu setelah itu, dengan santainya membuang sampah sembarangan di jalanan kota.

Kepahlawanan di zaman sekarang sudah tereduksi. Ia hanya menjadi status media sosial. Kita merasa sudah jadi nasionalis sejati hanya karena mengunggah foto berfilter estetik.

Jangan lupa sertakan kutipan tokoh bangsa di caption. Padahal, pada detik yang sama, mata kita menutup rapat ketika tetangga sebelah rumah kelaparan.

Lalu, kita merasa mewarisi semangat perjuangan. Padahal, sehari-hari, kita adalah orang pertama yang menyuap petugas. Urusan harus lancar, katanya.

Ini benar-benar ironi yang memuakkan. Kita mengagungkan keberanian pahlawan melawan penjajah. Tapi, untuk jujur pada diri sendiri saja, kita ketakutan setengah mati.

Baca juga:  Pejuang atau Perusak?

Ada sebuah lembaga yang namanya begitu suci, mengusung misi luhur para pejuang, namun kini berubah menjadi mesin penindas. Apakah ini cara kalian meneladani pahlawan? Menggunakan nama besar para pahlawan untuk menutupi kerakusan pribadi?

Pahlawan dulu menyatukan perbedaan di bawah satu bendera. Kalian hari ini? Menggunakan bendera itu sebagai cambuk untuk mencambuk siapa saja yang berani jujur.

Perjuangan itu napas sehari-hari, bukan seremonial mahal yang menghabiskan anggaran. Kepahlawanan adalah keberanian untuk menolak suap ketika orang lain menerimanya dengan tangan terbuka.

Jangan berlagak menjadi pahlawan jika di meja kerja kalian adalah pecundang yang takut pada kebenaran. Jangan berteriak tentang integritas jika kalian sendiri sedang menggadaikan kedaulatan institusi demi keuntungan sesaat.

Kebenaran memang bisa kalian coba kubur dalam tumpukan dokumen ilegal. Namun, ia memiliki jalannya sendiri untuk meledak. Suatu saat, topeng kepahlawanan itu pasti akan jatuh.

Jika kalian ingin benar-benar menghormati pahlawan, berhentilah bersandiwara. Turunlah dari panggung seremonial yang penuh kepalsuan itu.

Berdirilah di tanah yang nyata. Jangan biarkan perjuangan mereka menjadi sia-sia hanya karena kita sibuk berpura-pura menjadi pahlawan.

Sementara di dalam jiwa, kita hanyalah pecundang yang pengecut. Masihkah kita ingin terus membohongi sejarah? *yas

👁️ 3.995 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."