--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Mahasiswa, AI, dan Karakter

Mendiktisaintek Brian Yuliarto.

Lokapalanews.id | Dulu, zaman saya masih kuliah, bekal utama itu hanya buku tebal dan perpustakaan yang berdebu. Sekarang? Dunia sudah berubah drastis. Ada AI yang bisa mengerjakan tugas dalam hitungan detik.

Lalu, apa jadinya nasib mahasiswa kita? Pertanyaan itu muncul saat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, bicara di depan kader GMPK di Bogor, Jumat kemarin.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya membayangkan wajah-wajah muda itu. Mereka adalah generasi yang lahir di tengah gempuran teknologi. Tapi, apakah teknologi itu justru membuat mereka manja?

Menteri Brian punya jawaban yang cukup menohok. Katanya, silakan pakai AI untuk bantu belajar. Tapi, jangan pernah tinggalkan fundamental.

Kalau fundamentalnya kopong, AI pun tidak akan ada gunanya. Saya setuju sekali. Teknologi hanyalah alat, bukan otak pengganti.

Repotnya, banyak mahasiswa kita yang ingin instan. Maunya hasil akhir tanpa mau berdarah-darah memahami proses di baliknya.

Padahal, kata Menteri Brian, orang yang akan jadi unggulan itu bukan mereka yang paling jago pakai AI. Melainkan mereka yang paham dasar-dasarnya dengan sangat baik.

Dengan memahami fundamental, belajar hal yang lebih sulit pun akan terasa mudah. Inilah kunci masuk ke industri-industri terbaik di dunia.

Saya jadi teringat masa-masa sulit dulu. Ternyata, kesulitan itu bukan musuh.

Menteri Brian bilang, kampus itu tempat lahirnya ide dan inovasi. Dan seringkali, inovasi besar itu justru lahir dari mereka yang pernah kena batu sandungan.

Katanya, kalau ada hambatan, itu biasa. Itu bagian dari proses agar Anda naik level. Kalau hidup lempeng-lempeng saja, mana bisa jadi karya besar?

Saya mengangguk-angguk mendengar ceritanya. Indonesia memang punya beban berat.

SDM kita harus didorong untuk pembangunan nasional. Mulai dari ketahanan pangan, industrialisasi, hingga hilirisasi yang sedang gencar-gencarnya.

Belum lagi ekonomi kreatif, ekonomi biru, sampai transformasi digital. Semua itu butuh tangan-tangan terampil yang tidak cuma pintar secara akademis.

Baca juga:  Mendiktisaintek Dorong Kampus Perkuat Riset Multidisiplin Hadapi Krisis Global

Perguruan tinggi punya peran strategis di sini. Mereka harus jadi pabrik bakat dan inovasi yang nyata.

Bukan cuma mencetak gelar, tapi mencetak solusi bagi bangsa. Kalau cuma gelar, apa bedanya dengan mesin fotokopi?

Negara maju, menurut Menteri Brian, adalah negara yang banyak orang STEM-nya. Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika.

Itu logikanya. Tapi, STEM saja tidak cukup. Harus dibungkus dengan karakter yang tangguh.

Maksudnya apa? Ya, etos kerja yang tinggi, ketangguhan mental, dan kepedulian sosial.

Kalau cuma pintar teknik tapi tidak punya kepedulian, nanti malah jadi koruptor ulung. Kan repot.

Bangsa kita akan besar kalau bisa menghasilkan banyak orang yang bekerja keras, berpikir, tekun, dan punya hati.

Ini sejalan dengan kebijakan yang disebut Diktisaintek Berdampak. Namanya saja sudah jelas, harus ada dampaknya ke masyarakat.

Jangan sampai riset perguruan tinggi cuma berakhir di rak perpustakaan. Harus ada kolaborasi antara kampus, industri, dan pemerintah.

Tridarma perguruan tinggi bukan sekadar jargon. Harus ada lulusan berkualitas, penelitian yang relevan, dan inovasi yang bisa dirasakan manfaatnya.

Saya melihat ada harapan di sana. Selama mahasiswa kita tidak terjebak dalam kenyamanan semu teknologi.

AI itu memang pintar, tapi dia tidak punya karakter. Dia tidak punya keringat, tidak punya air mata, dan tidak punya kepedulian pada nasib rakyat di pelosok sana.

Mahasiswa harus tetap jadi manusia. Manusia yang punya nalar, rasa, dan tekad baja.

Pesan Menteri Brian sebenarnya sederhana: kuasai teknologinya, tapi jangan sampai teknologinya yang menguasai Anda.

Tantangan ke depan memang tidak ringan. Tapi bukankah sejarah mencatat bahwa bangsa besar selalu lahir dari tempaan yang berat?

Saya pun bertanya pada diri sendiri. Apakah kita sudah benar-benar menyiapkan generasi yang tangguh atau sekadar generasi yang terbiasa dengan kemudahan? *yas

👁️ 3.538 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."
Klik di sini untuk konten menarik!