--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Ijazah Tak Lagi Bertuah

Suasana diskusi mahasiswa di sebuah ruang kelas terbuka yang kolaboratif dan dinamis.

Lokapalanews.id | Dulu, punya ijazah sarjana itu seperti memegang kunci brankas raksasa. Sekali lulus, pintu perusahaan langsung terbuka lebar.

Tapi itu dulu. Sekarang? Boro-boro pintu terbuka, buat dapat panggilan wawancara saja susahnya minta ampun.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya sempat ngopi dengan beberapa anak muda kemarin. Wajah mereka terlihat mendung saat bicara soal kuliah.

“Buat apa kuliah mahal-mahal, Pak, kalau ujungnya cuma jadi pengangguran intelektual?” tanya salah satu dari mereka.

Pertanyaan itu menohok sekali. Rasanya seperti ada petir di siang bolong.

Repotnya, banyak kampus kita masih asyik “tidur”. Mereka merasa masih jadi menara gading yang agung. Padahal, pasar kerja sudah tidak lagi menanyakan, “Kamu lulusan mana?”

Yang ditanya sekarang adalah, “Bisa apa kamu?”

Investasi waktu empat tahun dan biaya yang tidak sedikit itu kini dianggap tidak sebanding. Ini peringatan keras bagi perguruan tinggi. Kalau masih bebal, siap-siap saja jadi museum.

Saya perhatikan, jurang antara ruang kelas dan dunia nyata makin lebar. Mahasiswa dijejali teori usang yang sudah basi. Sementara di luar sana, teknologi melesat seperti roket.

Institusi yang masih mempertahankan pola lama akan tertinggal. Sudah saatnya kampus merangkul industri, bukan cuma jadi menara gading. Kurikulum harus benar-benar menjawab kebutuhan pasar, bukan sekadar pemuas akreditasi.

Saya tanya pada seorang rektor muda, “Apa kuncinya?”

Katanya, sertifikasi internasional harus masuk ke kurikulum. Mahasiswa butuh bukti kompetensi, bukan cuma selembar kertas ijazah.

Itu portofolio nyata yang bisa mereka pamerkan. Kampus harus berani memangkas birokrasi yang kaku. Magang berbasis proyek harus jadi menu harian, bukan selingan di akhir masa studi.

Baca juga:  Kedaulatan, Bukan Belas Kasihan

Sistem perkuliahan yang rigid juga sudah saatnya dibongkar total. Jangan lagi memaksa mahasiswa duduk manis delapan jam di kelas.

Integrasikan daring dan luring. Biarkan mereka tetap produktif atau bekerja sambil kuliah. Pengalaman kerja di lapangan pun harus dihargai. Jangan bikin durasi studi jadi penghambat karir yang tidak logis.

Lalu, bagaimana dengan pusat karir?

Kebanyakan kampus sekarang cuma jadi papan pengumuman lowongan. Itu sudah ketinggalan zaman.

Pusat karir harus jadi mitra strategis. Mereka yang harus membimbing mahasiswa membangun citra diri. Kolaborasi dengan alumni yang sudah sukses di industri adalah harga mati.

Bahkan, inkubator bisnis harus disiapkan. Jangan cuma mencetak pencari kerja pasif, tapi cetaklah pencipta lapangan kerja.

Soal biaya juga harus kreatif. Skema cicilan transparan atau ikatan dinas dengan perusahaan adalah solusi masa depan. Kampus tidak boleh lagi sekadar menjual gengsi.

Kampus harus menjual solusi ekonomi. Jika institusi bisa membuktikan bahwa kuliah adalah investasi yang menguntungkan, mereka pasti akan diburu.

Tak peduli seberapa kencang guncangan tren di luar sana.

Transfromasi ini memang menuntut keberanian. Kampus harus rela membuang cara-cara lama yang tidak efektif. Harus membumi, bukan lagi melangit dengan teori yang tak membumi.

Saya membayangkan, jika setiap kampus berani berubah menjadi mitra sukses yang relevan, gairah menuntut ilmu akan meledak lagi. Bukan karena takut tidak punya ijazah, tapi karena haus akan keahlian.

Kampus bukan lagi tempat orang titip masa depan, tapi tempat menempa masa depan.

Kapan terakhir kali Anda melihat kampus yang benar-benar membumi? *yas

👁️ 5.939 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."