--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Kampus Mewah, Hati Gerah

Potret suasana gerbang sebuah kampus swasta di sore hari dengan bayangan panjang yang melambangkan ketidakpastian nasib para pengajar di dalamnya.

Lokapalanews.id | Saya baru saja minum kopi tubruk pagi ini. Pahit. Tapi kepahitan kopi itu tidak ada apa-apanya dibanding curhat seorang teman. Dia dosen, tapi wajahnya kuyu.

“Saya baru dipecat,” katanya lirih. “Kenapa? Korupsi?” tanya saya. Dia menggeleng. “Saya kritis.”

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Hati saya mencelos. Di negeri yang katanya merdeka ini, kritis masih jadi barang haram di lingkungan akademik. Apalagi di Kampus X – sebut saja begitu. Kampus yang jargonnya selangit: unggul dan berjiwa Pancasila. Gagah benar. Tapi itu cuma gincu.

Anda mungkin sering melihat baliho kampus itu. Megah. Mahasiswanya nggak begitu banyak. Iklannya di mana-mana. Tapi coba intip ke dapurnya. Baunya menyengat. Bau ketidakadilan.

Bayangkan. Seorang dosen, yang tugasnya mencerdaskan anak bangsa, gajinya tidak layak. Jauh di bawah standar hidup manusia beradab. Pegawainya lebih parah lagi. Mereka disuruh mengabdi, tapi perutnya dibiarkan keroncongan.

Ke mana larinya uang kuliah yang mahal itu? Kabarnya, setoran mengalir ke mana-mana. Ke kantong-kantong yang sudah tebal. Ke urusan yang tidak ada hubungannya dengan kualitas pendidikan. Ini kampus atau perusahaan keluarga yang rakus?

Di Kampus X, jangan sekali-kali Anda membuka mulut. Jangan coba-coba bertanya soal transparansi. Apalagi soal kesejahteraan. Sekali Anda vokal, tamat. Anda akan dianggap virus. Dan virus harus dibuang.

Sanksinya ngeri: pecat. Tanpa kompensasi sepeser pun. Semua hak dicabut begitu saja. Pengabdian bertahun-tahun dianggap sampah. Aturan ketenagakerjaan? Mereka merasa di atas hukum.

Yang lebih gila, pemecatan itu tidak pakai surat cinta yang sopan. Mereka mengerahkan ormas. Bayangkan, institusi pendidikan, tempat berkumpulnya kaum intelektual, menggunakan jasa otot untuk menekan otak. Ini premanisme berkedok pendidikan.

Kita sering mengutuk korupsi di pemerintahan. Tapi kita lupa, korupsi di dunia pendidikan jauh lebih berbahaya. Karena di sanalah karakter bangsa dibentuk. Jika kampusnya saja curang, mau jadi apa mahasiswanya?

Sistem manajemennya bobrok. Tidak ada briefing yang jelas. Tidak ada dukungan buat staf. Jika ada kegagalan, yang disalahkan selalu individu di bawah. Atasan selalu benar. Pemimpin selalu suci. Padahal, kegagalan itu sistemik. Karena nakhodanya memang tidak punya peta.

Baca juga:  Benteng Meratus dan Racun di Bumi Murakata

Saya ingat sebuah pepatah. Ikan itu busuk mulai dari kepalanya. Jika pimpinannya sudah mata duitan dan antikritik, seluruh badan kampus akan ikut bau. Jargon Pancasila itu akhirnya cuma jadi tameng. Untuk menutupi borok di dalam.

Anda mungkin bertanya, kenapa mereka diam saja? Takut. Itu jawabannya. Perut adalah sandera paling ampuh. Tapi sampai kapan kita mau dipimpin oleh rasa takut?

Pendidikan itu soal kejujuran. Soal integritas. Kalau mengelola gaji dosen saja tidak jujur, bagaimana mau mengajarkan etika kepada mahasiswa? Ini ironi yang luar biasa besar. Menjual mimpi unggul, tapi praktiknya sangat tertinggal dalam hal kemanusiaan.

Dunia akademik itu harusnya jadi oase ide. Tempat perdebatan tumbuh subur. Bukan penjara pikiran yang dijaga oleh ormas. Kita harus mulai berani melihat ke dalam. Jangan hanya terpukau oleh gedung yang tinggi atau akreditasi yang dipoles.

Melihat teman saya tadi, saya merasa sedih. Tapi saya juga merasa marah. Ada sistem yang salah yang dipelihara dengan sengaja. Manajemen yang menutup mata dari penderitaan bawahannya demi setoran yang lancar ke atas.

Kita tidak boleh membiarkan ini terus terjadi. Pendidikan tidak boleh jadi ladang pemerasan. Dosen bukan buruh yang bisa dibuang sesuka hati tanpa hak. Mereka adalah aset bangsa.

Refleksi saya hari ini sederhana saja. Jabatan dan kekuasaan itu ada batasnya. Anda bisa memecat orang sesuka hati. Anda bisa mencabut hak-hak mereka dengan tangan besi. Tapi Anda tidak bisa membungkam kebenaran selamanya.

Suatu saat, tembok-tembok megah itu akan retak. Bukan karena gempa, tapi karena doa-doa orang terzalimi yang menembus langit. Kejujuran mungkin kalah hari ini, tapi ia tidak pernah mati.

Kita butuh kampus yang benar-benar berjiwa Pancasila dalam tindakan. Bukan sekadar jargon di atas kertas yang dikhianati setiap hari. Mari kita jaga kewarasan. Karena tanpa itu, kita hanya sedang membangun menara gading di atas tumpukan ketidakadilan. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."