--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Membungkam Kebenaran, Memelihara Kegagalan

Lokapalanews.id | Pagi itu saya melihat sebuah pohon besar di pinggir jalan. Daunnya rimbun, batangnya kokoh, tapi akarnya mulai merusak trotoar. Bukannya trotoarnya yang diperbaiki, eh, malah akarnya yang ditutup semen tebal. Anda tahu apa yang terjadi sebulan kemudian? Pohon itu tumbang. Akarnya busuk karena tidak bisa bernapas.

Ternyata, mengelola organisasi itu persis seperti merawat pohon. Kalau ada masalah di akar, jangan cuma dandanin daunnya. Apalagi kalau akarnya malah disemen paksa supaya tidak kelihatan “merusak” pemandangan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya baru saja merenungi sebuah realita pahit di dunia kerja kita. Khususnya di lembaga yang katanya mulia: dunia pendidikan.

Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang seorang pekerja yang jujur. Orangnya biasa saja. Bukan pemberontak. Dia hanya melihat ada yang tidak beres di dalam rumahnya sendiri, lalu dia bersuara. Dia berharap ada perbaikan. Dia berharap ada briefing yang jelas, ada dukungan manajemen, dan ada sistem yang sehat.

Tapi apa yang dia dapat? Bukan ucapan terima kasih. Bukan pula audit internal untuk membenahi sistem yang bolong. Yang dia dapat adalah kepanikan kolektif dari mereka yang duduk di kursi empuk manajemen.

Inilah penyakit kronis di banyak institusi kita, yakni alergi kritik.

Ketika sebuah laporan masuk ke aplikasi publik, reaksi pertama pemimpinnya bukan bertanya, “Apa yang salah dengan sistem kita?” Tapi justru, “Siapa yang berani buka aib ini?” Fokusnya bukan lagi pada solusi, tapi pada pembungkaman.

Lalu dimulailah drama itu. Strategi lama yang selalu dipakai oleh kekuasaan yang sedang goyah: kriminalisasi. Kritik yang seharusnya jadi vitamin, malah dianggap racun. Urusan profesional tiba-tiba ditarik ke kantor polisi. Nama baik diseret-seret. Martabat dipertaruhkan dengan tuduhan yang dicari-cari.

Ini bukan soal hukum lagi, ini soal ego yang terluka.

Lebih miris lagi kalau lembaga tempatnya bernaung – yayasan pendidikan yang seharusnya mengagungkan akal budi – memilih diam seribu bahasa. Diam yang memihak. Mereka membiarkan oknum bermain api, sementara orang yang kritis dibiarkan terbakar sendirian.

Baca juga:  Pecat tanpa Briefing

Ia memilih mundur. Saya justru melihatnya sebaliknya. Itu adalah kemenangan moral. Dia pergi tanpa harus menukar harga diri dengan jabatan. Dia pergi dengan kepala tegak.

Namun, cara manajemen melepasnya sungguh kekanak-kanakan. Akun kerjanya dihapus diam-diam. Akses digitalnya dikunci seketika. Tanpa surat, tanpa basa-basi. Ini bukan prosedur kantor yang profesional, ini adalah pengucilan digital yang dingin dan terencana.

Puncaknya, wilayah akademik pun ikut dikotori. Bayangkan, jadwal mengajar diatur bukan berdasarkan keahlian, tapi sebagai alat hukuman. Siapa yang paling rugi? Murid-murid kita. Pendidikan dijadikan arena balas dendam pribadi.

Pertanyaan saya untuk kita semua: Apakah sebuah yayasan didirikan untuk mengelola masa depan bangsa, atau hanya untuk mengelola dendam para pengurusnya?

Nama baik sebuah institusi tidak akan pernah bisa diselamatkan dengan cara menindas orang jujur. Nama baik itu lahir dari integritas. Bukan dari banyaknya laporan polisi terhadap mantan karyawan.

Organisasi itu tidak mati karena kritik yang tajam. Ia mati karena pemimpinnya lebih suka dikelilingi oleh para “penjilat” yang berkata “ya” padahal kapalnya sedang bocor. Begitu masalah meledak, mereka sibuk mencari kambing hitam. Padahal, kambingnya sudah lama lari karena tidak tahan dengan baunya manajemen yang busuk.

Kita butuh pemimpin yang dewasa. Yang berani bercermin dan berkata, “Ya, sistem kami gagal, mari kita perbaiki.” Bukan pemimpin yang sibuk memoles topeng sementara wajah aslinya penuh luka ketakutan.

Kebenaran itu seperti air. Anda bisa membendungnya, Anda bisa mengalihkannya, tapi dia akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk keluar. Menindas mereka yang kritis hanya akan mempercepat keruntuhan sebuah institusi dari dalam. Sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang menggunakan kuasa untuk membungkam kejujuran. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."