--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Optimisme Menuju Maju

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, memberikan sambutan dalam Pertemuan Awal Tahun Ajaran 2026/2027 Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Sabtu (11/7).

Lokapalanews.id | Siapa bilang mimpi besar itu gratis? Memang, memimpikan Indonesia menjadi negara maju tidak butuh biaya sepeser pun. Tapi, untuk mewujudkannya, kita butuh keringat yang lebih banyak dari sekadar wacana di ruang seminar yang berpendingin udara.

Saya membaca catatan dari pertemuan awal tahun ajaran YPI Al-Azhar, Sabtu pagi tadi di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, bicara cukup lugas di sana. Katanya, kalau negara lain bisa, bagaimana mungkin kita tidak?

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Ini bukan sekadar soal gedung kampus yang megah atau peralatan laboratorium yang canggih. Menteri Brian menekankan bahwa fondasi utamanya adalah optimisme dan budaya kerja keras. Tanpa dua hal itu, pendidikan tinggi kita hanya akan mencetak barisan orang-orang pintar yang berhenti pada gelar semata.

Saya teringat dialog santai dengan banyak praktisi pendidikan. Seringkali kita terjebak pada formalitas. Kurikulum diubah, sistem dirombak, tapi semangat juang siswanya masih setengah hati. Padahal, tugas utama guru dan dosen adalah menanamkan cita-cita setinggi langit pada setiap anak didik.

Menteri Brian benar. Profesi guru itu sangat mulia, bukan karena gajinya, tapi karena ilmu yang diberikan akan terus mengalir jadi amal jariyah seumur hidup. Bayangkan jika setiap guru mampu menyalakan api mimpi di kepala muridnya, betapa cepat perubahan itu akan terjadi.

Tapi, jangan lupa, kerja keras saja pun tidak cukup. Di sela-sela paparan itu, Menteri Brian mengingatkan pentingnya doa sebagai penyerta ikhtiar. Ini kombinasi yang sangat “Indonesia” sekali: usaha maksimal, doa yang khusyuk, dan target yang tidak boleh ditawar.

Repotnya, selama ini sering ada sekat tak terlihat antara perguruan tinggi negeri dan swasta. Menteri Brian menegaskan bahwa Kemdiktisaintek kini membuka pintu selebar-lebarnya. Tidak ada lagi anak tiri dalam mengakses program kementerian. Semua punya kesempatan yang sama untuk bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Baca juga:  Mahasiswa, AI, dan Karakter

Tentu, kualitas riset dan reputasi institusi adalah pertaruhan berikutnya. Perguruan tinggi harus berani keluar dari zona nyaman. Jangan sampai kita jago kandang, tapi saat diadu di gelanggang internasional, kita hanya menjadi penonton yang sibuk bertepuk tangan untuk keberhasilan bangsa lain.

Saya melihat ada harapan baru dari pertemuan hybrid yang dihadiri Rektor Universitas Al-Azhar, Widodo Muktiyo, beserta jajarannya itu. Harapan bahwa pendidikan tinggi bukan lagi menara gading yang menjauh dari realitas bangsa. Pendidikan harus membumi, tapi visinya harus menembus awan.

Mungkin, sudah saatnya kita berhenti saling menyalahkan atas ketertinggalan yang ada. Fokuslah pada apa yang bisa diperbaiki hari ini. Jika pendidikan kita berkualitas dan karakternya kuat, tidak ada alasan untuk tidak optimis bahwa Indonesia Maju bukan sekadar slogan di spanduk jalan raya.

Lalu, di manakah posisi kita dalam gerbong kemajuan yang sedang dibangun ini? *yas

👁️ 6.237 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."