Advertisement
--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Utang Tetap Waras

Lokapalanews.id | Pagi itu gorengan pisang di meja warung kopi depan rumah sudah dingin. Tapi kepala saya justru mendidih. Bukan karena kopinya kurang panas.

Saya sedang memelototi angka-angka segar yang baru saja dirilis Bank Indonesia. Isinya soal Utang Luar Negeri Indonesia per Juli 2026.

Advertisement

Angkanya fantastis. Tembus di angka 454,8 miliar dolar Amerika Serikat.

Kalau dikurskan ke rupiah, kepala bisa pening tujuh keliling mendadak.

Tapi tunggu dulu. Jangan buru-buru mengelus dada sambil mengumpat di pojokan meja.

Usut punya usut, posisi itu ternyata relatif stabil dibanding bulan sebelumnya yang bertengger di 454,5 miliar dolar AS.

Secara tahunan, pertumbuhannya ada di angka 4,9 persen secara year on year.

Lalu… apa rahasianya di balik gunung utang yang segede gaban itu?

Ternyata ini buah dari kenaikan utang publik di tengah kelesuan utang sektor swasta yang justru menyusut turun.

Pemerintah tampaknya masih menjadi jawara peminjam yang paling rajin menaruh proposal.

Posisi Utang Luar Negeri pemerintah pada Juli 2026 tercatat sebesar 218,4 miliar dolar AS. Tumbuh sekitar 3,2 persen secara tahunan.

Penyebab utamanya apa lagi kalau bukan serbuan Surat Berharga Negara atau SBN internasional yang laris manis diburu pasar.

Ini tanda telak bahwa investor global masih percaya diri dengan prospek ekonomi kita ke depan.

Padahal banyak pengamat luar yang sering nyinyir melihat gerak-gerik fiskal Indonesia yang dianggap terlalu berani.

Tapi pemerintah tetap pasang badan. Komitmennya jelas dan tidak mencla-mencle. Bayar pokok dan bunga utang tepat waktu tanpa pakai drama molor sedetik pun.

Pengelolaannya juga diklaim pruden, terukur, dan fleksibel. Supaya pembiayaannya efisien dan tidak bikin kantong jebol di kemudian hari.

Saya coba tanya seorang kawan lama yang paham dapur dalam Kementerian Keuangan soal ke mana larinya uang pinjaman itu.

Jawabnya enteng sambil menyeruput teh hangat tanpa gula. Katanya larinya ke sektor-sektor yang bernyawa hidup bagi hajat hidup orang banyak.

Buktinya tidak main-main kalau kita lihat rincian sektornya.

Paling besar disedot oleh Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial yang mencapai 22 persen dari total utang pemerintah.

Menyusul di tempat kedua ada Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 20,7 persen.

Lalu sektor Jasa Pendidikan kebagian jatah 16,2 persen. Sektor Konstruksi menyusul di angka 11,5 persen. Terakhir Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,5 persen.

Baca juga:  Defisit APBN Triwulan III Terjaga, Menkeu Soroti Komoditas

Hampir semuanya berupa utang jangka panjang yang bernapas panjang. Jadi tidak bikin jantung copot tiap jatuh tempo tiba bulan depan.

Alih-alih sektor publik yang naik daun, nasib utang swasta justru berbeda seratus delapan puluh derajat di lantai bursa.

Posisi utang swasta pada bulan Juli 2026 tercatat turun menjadi 194,5 miliar dolar AS. Mengalami kontraksi 1,2 persen secara tahunan.

Kelompok peminjam non-lembaga keuangan alias nonfinancial corporations menyusut 1,4 persen. Begitu juga lembaga keuangan yang turun tipis 0,3 persen.

Pangsa utang swasta ini masih dikuasai empat sekawan sektor utama langganan. Yakni Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian.

Totalnya mencapai 80,6 persen dari kue utang swasta. Dan bagusnya, didominasi oleh utang jangka panjang juga sehingga relatif aman dari guncangan jangka pendek.

Anehnya, meski utangnya menumpuk setinggi langit, struktur dasar ekonomi kita diklaim tetap sehat walafiat.

Rasio Utang Luar Negeri terhadap Produk Domestik Bruto kita berada di angka yang terkendali sebesar 30,7 persen pada Juli 2026.

Angka keramat itu masih jauh di bawah batas aman psikologis yang sering jadi acuan para begawan ekonomi dunia.

Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan terus bergandengan tangan memperketat pengawasan. Tidak boleh ada celah main-main dengan angka sebesar itu.

Data lengkapnya bisa dibaca sendiri di publikasi Statistik Utang Luar Negeri Indonesia edisi September 2026 bagi yang kurang percaya pada omongan pejabat.

Repotnya bukan pada besar kecilnya angka utang itu sendiri di atas kertas laporan bulanan.

Tapi bagaimana uang pinjaman tersebut tidak bocor ke kantong tikus-tikus berdasi yang hobi berburu rente.

Selama dipakai membiayai urusan produktif yang meneteskan kesejahteraan nyata ke rakyat kecil di kampung-kampung, utang bukan lagi dosa sosial yang menakutkan.

Ia adalah bahan bakar lokomotif pembangunan agar gerbong ekonomi bisa mendaki bukit terjal.

Tapi kalau dipakai buat foya-foya proyek mercusuar tanpa hasil yang jelas juntrungannya, siap-siap saja digulung ombak krisis yang mematikan.

Siapa yang bisa menjamin lokomotif ini tidak keluar rel di tikungan tajam berikutnya? *yas

Advertisement
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."
Advertisement