Lokapalanews.id | Saya duduk di sebuah warung kopi kecil di Denpasar. Pagi itu biasa saja. Kopi panas. Obrolan santai. Di meja sebelah, dua orang bicara agak serius. Bukan soal politik. Bukan soal harga cabai.
Mereka bicara kampus.
“Kalau kampus sudah ribut di dalam, siapa yang mau masuk?”
Kalimat itu pendek. Tapi lama tinggal di kepala saya. Saya tidak ikut nimbrung. Tapi saya mendengar cukup banyak. Nama kampus itu tidak disebut jelas. Hanya dibilang: kampus swasta di kota ini.
Saya pulang dengan satu pikiran. Sejak kapan kampus jadi bahan obrolan warung? Bukan soal prestasinya. Tapi soal keributannya. Di situlah momen “aha” saya muncul.
Kampus itu seperti rumah. Kalau dari luar terlihat retak, orang akan ragu masuk. Tidak peduli seberapa bagus ruang tamunya. Retak tetap retak.
Konflik internal di kampus bukan hal baru. Banyak terjadi. Banyak yang tidak terdengar. Tapi ketika mulai keluar ke publik, itu tanda lain. Ada sesuatu yang tidak selesai di dalam.
Saya mencoba melihatnya sederhana. Kampus itu berdiri di atas tiga hal: kepercayaan, tata kelola, dan manusia. Kalau satu goyah, yang lain ikut terguncang.
Mari kita mulai dari kepercayaan. Calon mahasiswa itu seperti pembeli. Mereka memilih dengan hati-hati. Mereka tanya orang tua. Mereka lihat reputasi. Mereka mencari di internet.
Begitu muncul kabar konflik, keputusan jadi berubah. Bukan karena mereka tahu detail hukumnya. Tapi karena muncul ragu. Dan di dunia pendidikan, ragu itu mahal harganya.
Sekali muncul, sulit hilang.
Saya pernah bertemu orang tua calon mahasiswa. Pertanyaan pertama mereka bukan lagi soal biaya. Bukan soal akreditasi. Tapi: “Tadi saya baca berita itu. Itu benar?”
Itu saja sudah cukup. Tidak perlu penjelasan panjang dari humas. Keraguan sudah bekerja di bawah sadar.
Lalu soal tata kelola. Kampus bukan perusahaan biasa. Ia mengelola masa depan orang. Kalau ada isu manajemen, keuangan, atau keputusan mendadak yang aneh, dampaknya luas. Bukan hanya ke dalam, tapi keluar.
Regulator pasti melihat. Pemerintah bukan ingin menghukum. Tapi mereka harus memastikan standar. Masalahnya, proses pengawasan itu tidak instan. Dan selama proses berjalan, ketidakpastian ikut hidup.
Di dunia pendidikan, ketidakpastian adalah musuh utama. Mahasiswa butuh kepastian. Tentang dosen mereka. Tentang kurikulum. Tentang keabsahan ijazah kelak. Jika itu terganggu, kepercayaan turun lagi.
Lalu soal manusia. Ini yang paling sensitif.
Dosen bukan sekadar pengajar. Mereka adalah wajah kampus. Kalau internal terbelah, suasana kerja berubah. Diskusi di ruang dosen jadi hati-hati. Keputusan jadi lambat.
Yang paling terasa: energi hilang.
Saya sering melihat ini. Bukan hanya di kampus. Di organisasi mana pun. Konflik panjang membuat orang lelah. Bukan lelah karena kerja. Tapi lelah karena suasana.
Kalau dosen mulai tidak nyaman, pilihan mereka sederhana. Bertahan dengan rasa malas, atau pindah. Kalau banyak yang memilih pindah, kampus kehilangan sesuatu yang tidak terlihat: pengalaman.
Dan pengalaman tidak bisa diganti dengan dosen baru dalam semalam.
Dampaknya ke mahasiswa? Jelas ada. Mereka mungkin tidak tahu detail pasal-pasal yang diributkan. Tapi mereka merasakan perubahan layanan. Layanan jadi lambat. Jadwal berubah-ubah. Informasi tidak jelas.
Hal-hal kecil itu menumpuk. Akhirnya muncul satu pertanyaan besar di kepala mereka: “Apakah masa depan saya aman di sini?”
Saya tidak mengatakan semua itu pasti terjadi. Tapi potensi itu ada. Dan dalam bisnis persepsi, potensi seringkali cukup untuk merusak segalanya.
Ada satu lagi yang jarang dibahas: uang. Ketika jumlah mahasiswa turun, pendapatan ikut turun. Padahal, ketika konflik naik, biaya justru ikut naik.
Biaya hukum. Biaya operasional tambahan. Biaya rapat-rapat darurat. Ini seperti lubang kecil di lambung kapal. Awalnya tidak terasa. Air masuk perlahan.
Lama-lama, air itu memenuhi ruang mesin. Kapal bisa tenggelam bukan karena dihantam badai besar dari luar. Tapi karena lubang kecil yang tidak ditutup di dalam.
Saya tidak sedang menghakimi siapa yang benar. Siapa yang salah. Itu bukan wilayah saya. Saya hanya melihat pola yang berulang.
Konflik internal yang tidak selesai di meja makan, akan keluar ke halaman. Dan ketika sudah di halaman, tetangga akan melihat. Publik akan menilai.
Yang paling menarik, seringkali semua pihak yang berkonflik merasa benar. Dan mungkin memang ada benarnya menurut versi masing-masing. Tapi publik tidak punya waktu untuk menilai siapa yang paling suci.
Publik hanya melihat satu hal: kampus itu stabil atau tidak. Sesederhana itu.
Di warung kopi tadi, obrolan sudah berganti topik. Mereka mulai bicara sepak bola. Bicara skor pertandingan semalam. Tapi satu kalimat tadi masih terus terngiang.
“Kalau kampus sudah ribut di dalam, siapa yang mau masuk?”
Pertanyaan itu sederhana. Jawabannya sangat tidak sederhana. Mungkin yang dibutuhkan saat ini bukan siapa yang menang dalam perselisihan. Tapi siapa yang cukup rendah hati untuk menyelesaikan.
Karena pada akhirnya, kampus bukan milik satu atau dua orang pengurus. Ia milik masa depan banyak orang. Dan masa depan tidak suka menunggu terlalu lama di tengah ketidakpastian.
Retak di dinding mungkin bisa ditutup semen. Tapi retak di kepercayaan butuh waktu lama untuk memulihkannya. Semoga retak itu tidak sampai meruntuhkan atap tempat anak-anak muda itu bernaung. *yas






