Lokapalanews.id | Saya tertegun membaca berita pagi ini. Pikiran saya langsung melayang ke warung kopi sebelah rumah.
Di sana, hampir tiap sore, saya melihat pemandangan yang sama. Anak-anak balita duduk diam, matanya terpaku pada layar ponsel.
Orang tuanya asyik mengobrol. Si anak asyik dengan dunianya sendiri.
Kelihatannya tenang. Damai.
Tapi apakah benar begitu?
Rupanya, kegelisahan saya ini juga dirasakan oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid. Kemarin, Sabtu, dia bicara blak-blakan di Universitas Pancasakti Bekasi.
Tepatnya di acara konferensi internasional tentang pendidikan anak usia dini. Meutya geram.
Dia bilang, anak-anak kita jangan mau dijadikan objek eksperimen. Khususnya oleh platform digital yang hanya mengejar perhatian dan keuntungan.
Uang mereka dapat, masa depan anak kita taruhannya.
Dulu, anak-anak mengenal ruang kelas dulu baru mengenal teknologi. Sekarang kebalik.
Bayi baru lahir pun terkadang sudah disodori layar demi agar tidak rewel.
Padahal ancamannya ngeri. Ada konten berbahaya, perundungan siber, eksploitasi, sampai kecanduan akut.
Saya sepakat dengan Menkomdigi. Ini bukan lagi soal urusan teknis gawai, melainkan soal masa depan bangsa.
Untunglah, pemerintah tidak tinggal diam. Kini sudah ada aturan baru bernama PP TUNAS.
Itu singkatan dari Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak.
Prinsipnya menarik: “Tunggu, Anak Siap”. Artinya, akses digital diberikan bertahap sesuai usia anak.
Saya sempat merenungkan kata-kata Meutya. Selama ini, anak yang dipaksa menyesuaikan diri dengan teknologi.
Padahal, harusnya teknologi yang dirancang untuk melindungi anak. Begitu kata Meutya.
Masalahnya, platform digital ini beroperasi lintas negara. Susah dikontrol kalau hanya mengandalkan orang tua di rumah.
Perlu dikeroyok bareng. Pemerintah, kampus, industri, dan kita semua harus kompak.
Kemajuan digital itu bagus. Tapi kalau anak-anak kita hancur karena kecanduan, untuk apa semua teknologi canggih itu diciptakan?
Masa depan tidak diukur dari seberapa cepat internetmu, tapi seberapa aman anakmu. *yas






