--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Dharma Melawan Adharma

Seorang pria berdiri tegak di tengah koridor kantor yang dingin, membawa map dokumen, kontras dengan latar belakang gedung yang megah.

Lokapalanews.id | Saya duduk termangu. Menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. Dunia ini sedang sakit. Bukan karena virus, tapi karena “kebutaan” yang dipelihara.

Orang bicara soal Dharma dan Adharma seolah itu cuma dongeng wayang. Padahal, itu adalah napas dari setiap institusi kita.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Lihatlah kasus Jhon. Dia menempuh jalur resmi. Menuntut transparansi. Meminta keadilan di rumahnya sendiri.

Tapi, apa yang dia terima? Dia justru berhadapan dengan tembok tebal yang dibangun dari prosedur busuk.

Tembok itu bernama intimidasi. Tembok bernama kriminalisasi. Repotnya, tembok itu justru disemen oleh mereka yang memegang jabatan.

Mereka memakai stempel negara. Mereka memakai dalih legalitas. Mereka merasa aman karena merasa “prosedur” adalah pelindung paling ampuh.

He he. Prosedur itu cuma topeng.

Di baliknya, ada arogansi yang takut kehilangan singgasana. Ada kegagalan manajerial yang berusaha disembunyikan dengan cara membungkam yang kritis.

Ini bukan soal siapa yang benar atau salah lagi. Ini soal kebangkrutan moral yang sudah sampai ke sumsum tulang.

Mereka yang di atas lupa satu hal: institusi itu bukan milik mereka. Institusi itu adalah amanah.

Ketika amanah itu dikhianati demi menjaga kenyamanan segelintir orang, maka yang sedang terjadi adalah pembusukan massal.

Jhon sedang berada di tengah medan Kurusetra.

Sendirian? Mungkin saja.

Tapi ingat, kebenaran tidak butuh pengikut untuk menjadi benar.

Satyam Eva Jayate. Kebenaran pasti menang.

Tapi jangan salah paham. Kemenangan kebenaran bukan berarti badai langsung reda.

Kemenangan kebenaran sering kali datang setelah penghancuran.

Setelah mereka yang korup terperosok ke lubang yang mereka gali sendiri.

Institusi yang membungkam suara kritis adalah institusi yang sedang berjalan menuju kuburan.

Mereka pikir dengan menyingkirkan satu orang, masalah selesai.

Baca juga:  Tukang Screenshot, Tukang Ngadu

Mereka salah besar.

Membungkam satu orang hanya akan membuat suara kebenaran menjadi lebih keras di dalam hati orang-orang yang tersisa.

Ketakutan memang senjata yang ampuh untuk menundukkan kepala.

Tapi ketakutan adalah bahan bakar paling eksplosif bagi sebuah perubahan.

Saya bertanya-tanya. Apa yang mereka pikirkan saat mereka menandatangani surat-surat kriminalisasi itu?

Apakah mereka masih bisa tidur nyenyak?

Orang yang berani berdiri tegak saat semua orang memilih berlutut demi kenyamanan.

Orang yang berani berkata “tidak” saat sistem menuntut “ya” atas sebuah ketidakadilan.

Anda mungkin bisa membungkam satu orang.

Anda mungkin bisa memenjarakan satu opini.

Tapi Anda tidak akan pernah bisa membunuh kebenaran yang sudah terlanjur terbuka.

Institusi yang alergi terhadap transparansi adalah institusi yang sedang sekarat.

Mereka sibuk memoles citra di luar, sementara di dalam sudah penuh belatung ketidakjujuran.

Jika sistem ini lebih mencintai prosedur daripada kebenaran, maka sistem ini sebenarnya sudah gagal total.

Mungkin kita memang sedang diuji.

Seberapa jauh kita rela menggadaikan nurani demi sebuah posisi?

Seberapa lama kita sanggup berpura-pura tidak melihat kebusukan di depan mata?

Jhon memilih jalannya.

Dia memilih untuk menjadi cermin yang menampar wajah mereka yang munafik.

Tentu, dia akan diserang. Itu risiko sebuah Dharma.

Tapi lihatlah nanti. Saat debu-debu intrik ini mengendap.

Siapa yang akan berdiri sebagai manusia?

Dan siapa yang akan tersisa hanya sebagai bangkai ambisi?

Pertanyaannya sederhana saja.

Masihkah ada setetes rasa malu di sana, atau semuanya sudah menguap diganti dengan ambisi yang buta?

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan! Semoga kebenaran senantiasa menang dan menuntun langkah kita semua. *yas

 

👁️ 8.276 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."