--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Bungkam Paling Pahit

Seseorang menatap layar komputer dengan raut wajah bingung saat membandingkan dua versi percakapan digital, mencerminkan hilangnya kepercayaan di lingkungan profesional akibat manipulasi informasi.

Lokapalanews.id | Saya baru saja menyeruput kopi sore ini. Hitam. Tanpa gula. Pahitnya pas. Di depan saya, layar ponsel berkedip. Ada kiriman tangkapan layar. Isinya percakapan WhatsApp.

Tajam sekali isinya. Menyakitkan. Seolah-olah seseorang menulis itu. Padahal, yang bersangkutan memegang ponsel pun tidak pada jam itu. Ia sedang rapat.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Inilah zaman edan digital. Dulu, fitnah itu lewat mulut ke mulut. Dari warung kopi ke pasar. Prosesnya lama. Radiusnya terbatas.

Sekarang? Cukup satu menit. Pakai aplikasi “Chat Generator”. Atau modal soto (baca: Photoshop) sedikit. Jadilah.

Seolah-olah si A bicara begini. Seolah-olah si B memaki begitu. Lengkap dengan foto profilnya. Lengkap dengan tanda centang birunya.

Dunia sedang tidak baik-baik saja.

Apalagi kalau ini terjadi di kantor. Di sebuah perusahaan. Pelakunya bukan orang sembarangan. Pelakunya sang pimpinan.

Saya mengelus dada.

Harusnya, pimpinan itu mengayomi. Menjadi pohon besar yang rindang. Tempat berteduh saat hujan. Tempat bersandar saat lelah.

Ini malah sebaliknya. Sang pimpinan menebar duri. Lalu disebar. Tujuannya satu: menciptakan keresahan. Membuat suasana mencekam. Agar semua orang merasa terancam.

Ini gejala apa?

Dalam psikologi, ada istilahnya. Machiavellianisme. Menghalalkan segala cara demi kekuasaan. Termasuk berbohong. Termasuk memalsukan bukti.

Ada juga yang menyebutnya Gaslighting. Seseorang dibuat ragu pada ingatan mereka sendiri. “Lho, apa benar saya pernah ngetik ini ya?”

Tapi ada yang lebih pahit dari fitnah itu sendiri. Yaitu ketika dikonfirmasi ke orang yang namanya dicatut, jawabannya malah: “Tidak ada.”

Dunia seperti berhenti berputar sejenak.

Kenapa dia bilang “tidak ada”? Apakah dia takut? Apakah dia sedang bermain aman? Atau dia sedang berada di bawah tekanan yang lebih besar lagi?

Inilah puncak dari Toxic Leadership. Kepemimpinan beracun. Pemimpin yang berhasil membangun “tembok ketakutan”. Sehingga, meskipun bukti palsu itu terpampang nyata, semua orang memilih untuk buta. Semua orang memilih untuk tuli.

Ini yang disebut dengan Collective Blindness. Kebutaan kolektif.

Taktik kuno kompeni. Divide et impera. Pecah belah dan kuasai. Ternyata masih laku di gedung-gedung tinggi. Di kantor-kantor yang katanya modern.

Padahal, secara hukum, ini ngeri. Ada UU ITE. Pasal 35 jelas bunyinya. Mengubah, menciptakan, memanipulasi informasi elektronik seolah-olah otentik. Ancamannya tidak main-main. Bisa 12 tahun penjara. Denda Rp 12 miliar.

Baca juga:  Simbiosis Sampah Denpasar

Tapi siapa yang berani lapor? Yang melakukan atasan. Yang melakukan bos besar. Yang dikonfirmasi pun sudah “dikondisikan” untuk bungkam.

Karyawan hanya bisa diam. Menggerutu di belakang. Lalu produktivitas turun. Semangat kerja ambyar. Perusahaan pun pelan-pelan keropos dari dalam.

Hanya karena ego satu orang. Hanya karena hobi memalsukan chat.

Saya sering melihat pola ini. Pimpinan yang tidak punya kompetensi teknis, biasanya pakai kompetensi intrik. Karena dia tidak bisa menang dengan prestasi, dia harus menang dengan cara menjatuhkan orang lain.

Cara paling mudah ya itu: fitnah digital.

Kalau seseorang mengalami ini, saran saya cuma satu: tenang. Jangan panik. Teknologi bisa memalsukan tulisan, tapi teknologi juga punya jejak digital yang jujur.

Setiap chat ada metadata-nya. Ada log-nya. Ada waktu aslinya. Kebohongan digital itu seperti memakai baju kekecilan. Pasti ada jahitan yang robek di sana-sini.

Di dunia yang serba palsu ini, kejujuran menjadi barang yang sangat mahal. Sangat mewah.

Kita merindukan pimpinan yang berani bicara apa adanya. Bukan yang main belakang lewat aplikasi pembuat chat palsu.

Pemimpin yang kuat tidak perlu membuat orang lain merasa kecil. Pemimpin yang hebat tidak perlu membuat orang lain merasa takut.

Kepemimpinan itu soal integritas. Bukan soal lihai mengedit gambar.

Zaman memang berubah. Alat berubah. Tapi moralitas harusnya tetap. Jangan sampai jabatan membuat nurani jadi hilang. Jangan sampai demi posisi, harga diri dibuang ke tong sampah.

Perusahaan yang isinya saling curiga tidak akan pernah besar. Hanya akan menjadi sarang intrik yang melelahkan.

Mari kita kembali ke dasar. Bekerja dengan hati. Memimpin dengan teladan.

Kalau sudah hobi memalsukan chat, apa lagi yang bisa dipercaya dari orang itu? Janjinya? Laporannya? Atau integritasnya?

Mungkin sang pimpinan perlu cuti. Perlu piknik. Atau perlu kursus etika dasar lagi.

Kasihan karyawannya. Kasihan perusahaannya.

Kopi saya sudah habis. Pahitnya masih terasa. Tapi lebih pahit melihat kenyataan bahwa di tahun 2026 ini, masih ada pimpinan yang hobinya main “palsu-palsuan”.

Dunia digital itu luas. Jangan dipakai untuk menyempitkan hati orang lain. Anda setuju? *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."