--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Menara Gading Karatan

Lokapalanews.id | Saya pernah bertamu ke sebuah kampus. Bangunannya megah. Lambangnya mentereng. Tapi suasananya terasa gersang. Bukan kurang pohon, tapi kurang gagasan.

Dosen-dosennya bicara berbisik. Mahasiswanya lebih sibuk mengurus administrasi daripada substansi. Ada rasa takut yang menggantung di udara.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Belakangan saya tahu penyebabnya. Sang nakhoda di sana merasa dirinya paling jenius. Ia merasa gelar dan jabatannya adalah bukti bahwa ia tak pernah salah.

Inilah tragedi di menara gading. Ketika pendidikan tinggi dipimpin oleh orang yang sok tahu dan arogan. Padahal, kampus seharusnya menjadi laboratorium akal sehat.

Bonhoeffer benar soal kebodohan yang mematikan. Di kampus, kebodohan pemimpin bukan soal tidak hafal teori. Tapi soal ketidakmampuan mendengar kebenaran.

Seorang pemimpin kampus yang arogan biasanya alergi pada kritik. Baginya, perbedaan pendapat adalah pembangkangan. Kritik dianggap serangan personal.

Padahal, ilmu pengetahuan tumbuh dari perdebatan. Jika debat dilarang, ilmu pun mati. Yang tersisa hanyalah rutinitas yang membosankan.

Saya melihat banyak kebijakan lahir dari meja kerja yang tertutup. Aturan dibuat tanpa kajian. Yang penting terlihat hebat di mata atasan atau kementerian.

Dosen dipaksa mengejar angka. Mahasiswa dipaksa menjadi robot. Kualitas pendidikan merosot demi pencitraan di atas kertas.

Ironisnya, pemimpin seperti ini sering merasa paling berjasa. Ia sibuk memoles akreditasi, tapi lupa membangun tradisi intelektual. Ia merasa sudah memajukan institusi.

Padahal, ia sedang membangun rumah di atas pasir. Fondasinya rapuh karena dibangun tanpa keterbukaan. Begitu ada krisis, semuanya goyah.

Lebih berbahaya lagi ketika ia dikelilingi “penjilat”. Orang-orang yang hanya berani bilang “setuju”. Mereka membiarkan sang pemimpin berjalan menuju jurang.

Baca juga:  Pecat tanpa Briefing

Akibatnya fatal. Kebijakan ngawur terus diproduksi. Dana riset dihamburkan untuk hal yang tidak relevan. Karir dosen yang kritis dihambat habis-habisan.

Dunia akademik pun berubah menjadi birokrasi yang kaku. Roh pendidikan hilang. Kampus hanya menjadi pabrik ijazah, bukan pusat peradaban.

Jika pemimpin kampus sudah menganggap akal sehat sebagai musuh, apa lagi yang bisa diharapkan? Bukankah tugas kampus adalah merawat akal sehat?

Sejarah mencatat, kehancuran institusi dimulai dari rasa jemawa. Merasa paling tahu adalah awal dari kebodohan yang sebenarnya.

Kita butuh pemimpin yang rendah hati untuk belajar. Orang yang paham bahwa jabatan adalah amanah, bukan alat untuk memuaskan ego pribadi.

Tanpa itu, menara gading yang megah itu akan karatan. Dan yang tersisa hanyalah reruntuhan intelektual yang menyedihkan. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."