--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Kampus dan Kanker Nurani

Kampus membelenggu kebebasan berpikir dan nurani dosen serta stafnya bukan dengan rantai, melainkan dengan birokrasi dan ketidakpastian kontrak yang dibiarkan menggantung. Itulah wajah pengkhianatan paling canggih.

Lokapalanews.id | Saya baru saja minum kopi. Pahit. Seperti kenyataan yang selalu harus kita telan setiap hari.

Pahitnya bukan karena kopinya kurang gula. Pahitnya karena teringat sebuah cerita yang sering mampir di telinga saya: Kampus. Katanya, pabrik akal sehat. Kenyataannya? Terminal kemanusiaan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Kita semua tahu cerita dongengnya. Kampus itu harusnya cahaya di tengah kegelapan. Tempat nalar berteriak paling keras, dan integritas jadi harga mati. Di proposal akreditasi, semua itu tertulis rapi, dengan tinta emas. Meritokrasi, etika akademik, kebebasan mimbar. Itu semua hanya jargon kosong.

Begitu Anda masuk ke dalam, Anda akan tahu. Kampus itu bukan benteng terakhir peradaban. Kampus itu adalah perusahaan jasa yang sok suci.

Dan yang paling menyakitkan, mereka punya cara paling busuk untuk menyingkirkan orang baik.

Saya kenal banyak profesor, doktor, bahkan staf administrasi yang sudah jatuh bangun membela nama institusi. Mereka kerja gila-gilaan, mengorbankan waktu keluarga, hanya agar label di depan gerbang itu tetap unggul. Mereka loyal. Mereka percaya janji.

Lalu, saat tiba giliran mereka butuh kepastian karier – perpanjangan kontrak, kenaikan jabatan – tiba-tiba semua berubah jadi drama sinetron. Permohonan digantung.

Tidak ditolak. Tapi juga tidak disetujui. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, nasib mereka dibiarkan terombang-ambing di meja birokrasi.

Ini bukan malas. Ini sengaja. Ini strategi politik yang sudah dipatenkan: mematikan korban tanpa darah. Mereka bunuh karier Anda dengan diam. Mereka cabut hak Anda dengan ketidakpastian. Jauh lebih kejam daripada dipecat di tempat. Setidaknya, kalau dipecat, Anda tahu harus maju ke mana.

Kampus Mempraktikkan Pengkhianatan

Anda tahu apa yang mereka katakan ketika orang-orang ini, yang sudah kehabisan sabar, angkat suara?

“Pembuat Gaduh.”

Hebat! Kritik terhadap sistem yang busuk, dianggap kegaduhan. Padahal, kegaduhan yang sesungguhnya ada di ruang rapat tertutup, di balik pintu kayu berukir, tempat akal sehat dikunci rapat dan yang berhak bicara hanyalah penjilat dan yes-man pimpinan.

Kampus menuntut loyalitas. Tapi mereka mempraktikkan pengkhianatan.

Mereka bicara soal kemanusiaan, idealisme dan masa depan. Tapi begitu berhadapan dengan nasib karyawannya sendiri, mereka berubah jadi robot tanpa empati.

Baca juga:  Abal-abalisme, Ancaman Baru bagi Kemerdekaan Pers

Kampus bilang, jangan korupsi. Tapi ia mengorupsi masa depan orang-orang yang berjuang untuknya.

Kampus bilang, harus jujur. Tapi ia membohongi seluruh dunia tentang iklim kerjanya yang menindas.

Label akreditasi yang terpampang itu, sesungguhnya hanyalah topeng murahan yang menutupi kanker nurani yang sudah lama menggerogoti institusi. Mereka lebih peduli pada citra di media massa daripada air mata dosen dan pegawai yang harus mencari pekerjaan sampingan karena statusnya digantung.

Kalau sudah begini, Kita harusnya sadar. Kampus itu sudah gagal total sebagai pendidik moral. Mereka bukan lagi tempat melahirkan kesadaran, tapi penjara yang mematikan ruh perlawanan. Mereka telah menjadi tukang jual jargon kosong.

Sampai kapan kita diam?

Diam berarti menjadi bagian dari kejahatan itu sendiri. Kita tidak boleh membiarkan arogansi pimpinan, yang merasa dirinya pemilik mutlak kebenaran, terus-menerus menindas mereka yang masih punya harga diri.

Sebelum sibuk menata rapor akreditasi, pimpinan kampus harusnya diajari satu hal, yakni kemanusiaan tidak bisa diakreditasi.

Hormatilah orang yang bekerja untuk Anda. Bayar mereka dengan adil. Tegakkan nurani, baru bicara tentang ilmu pengetahuan. Jangan sampai pabrik otak cerdas ini, pada akhirnya, hanya melahirkan robot-robot tanpa hati.

Ke Mana Kita Mengadu Kalau Semua Diam?

Anda tanya tempat mengadu? Tidak ada. Mereka sudah membungkam semua saluran. Lembaga pengawas sudah diisi oleh kolega mereka. Media massa hanya mau berita yang bombastis, bukan cerita pahit dari lorong birokrasi. Mengadu ke Kementerian? Sama saja, Anda hanya dilempar dari satu loket ke loket lain sampai lelah sendiri.

Satu-satunya tempat mengadu yang tersisa hanyalah kekuatan publik. Jangan diam. Ceritakanlah. Tuliskan semua di media sosial, di blog, di manapun yang bisa diakses tanpa sensor. Anggap saja ini perang gerilya digital. Jadikan cerita Anda virus kejujuran yang memaksa topeng mereka terbuka. Karena di era digital ini, arogansi kekuasaan paling takut pada satu hal, yakni nama baik yang tercemar permanen di mata publik. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."