--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Melampaui Seremoni: Menguji Marwah Pahlawan dalam Etika Kekuasaan dan Pendidikan

I Made Suyasa

Visualisasi kontras antara bayangan pahlawan masa lalu yang tangguh dengan potret kebijakan modern yang membutuhkan sentuhan keteladanan nyata.

Lokapalanews.id | Perjuangan pahlawan sering kali direduksi menjadi sebatas riuh upacara, deretan karangan bunga, dan kutipan-kutipan heroik dalam pidato formal yang dibacakan tanpa nyawa. Padahal, esensi dari kepahlawanan bukanlah pada atribut visual atau ritual tahunannya, melainkan pada nilai-nilai yang jauh lebih purba dan fundamental: keberanian, kejujuran, pengorbanan, dan keadilan.

Menjadikan peringatan sejarah hanya sebagai rutinitas administratif tanpa upaya meneladani semangatnya adalah sebuah bentuk pendangkalan makna perjuangan yang paling mengkhawatirkan. Persoalannya bukan sekadar pada penyelenggaraan acara, melainkan pada kegagalan kita dalam menerjemahkan warisan luhur tersebut ke dalam praktik hidup bernegara dan bermasyarakat yang nyata.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Konteks masalah ini kian meruncing ketika kita melihat bagaimana narasi “penghematan” dan “kesederhanaan” sering kali hanya menjadi komoditas verbal. Di panggung publik, para pemimpin dan pejabat gencar menyuarakan efisiensi anggaran, memangkas dana seremonial, hingga menyerukan rakyat untuk mengubah pola konsumsi demi ketahanan pangan. Namun, di balik tirai kekuasaan, realitas yang terekam sering kali menampilkan kontras yang menyakitkan. Perayaan di hotel-hotel mewah atau jamuan yang berlebihan di tengah instruksi “ikat pinggang” bukan hanya sekadar masalah gaya hidup, melainkan masalah integritas komunikasi politik. Rakyat tidak hanya butuh aturan yang tertulis di atas kertas; mereka butuh keteladanan yang dapat dilihat, dirasakan, dan diyakini.

Argumen utama yang perlu kita renungkan adalah krusialnya otentisitas dalam kepemimpinan. Dalam ilmu komunikasi, setiap tindakan seorang pejabat publik adalah pesan moral bagi pengikutnya. Ketika ada jurang yang menganga antara pesan yang disampaikan dengan perilaku yang diperlihatkan, yang terjadi adalah fenomena standar ganda yang merusak kepercayaan publik secara sistemik. Kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan melalui instruksi gubernur atau keputusan presiden; ia adalah buah dari konsistensi. Tanpa keteladanan, kebijakan secanggih apa pun akan kehilangan daya magisnya dan hanya akan dianggap sebagai instrumen untuk mendisiplinkan rakyat sementara elitnya tetap berada dalam zona nyaman yang eksklusif.

Ketajaman kritik ini pun menemukan urgensinya saat kita memasuki lorong-lorong institusi pendidikan. Sangat ironis ketika sebuah lembaga pendidikan – terlebih yang dengan bangga menyandang nama besar seorang pahlawan nasional – justru membiarkan praktik ketidakadilan bersemi di lingkungannya sendiri. Kampus, yang menurut hakikatnya adalah benteng terakhir kebenaran dan kebebasan akademik, tidak boleh bertransformasi menjadi ruang yang alergi terhadap suara kritis. Sejatinya, perguruan tinggi adalah laboratorium moral tempat nilai-nilai perjuangan disemaikan, bukan tempat di mana nalar kritis dibungkam atau dipangkas demi kepentingan stabilitas birokrasi semu.

Yang luput dari perhatian kita adalah bahwa membungkam suara kritis sebenarnya merupakan tindakan yang mengkhianati marwah kepahlawanan itu sendiri. Pahlawan kita dahulu berjuang bukan untuk menciptakan bangsa yang penurut dan apatis, melainkan untuk melahirkan generasi yang berani tegak berdiri menantang ketidakadilan. Ketika seorang akademisi atau mahasiswa dipinggirkan karena menyuarakan kebenaran, institusi tersebut sebenarnya sedang meruntuhkan monumen nilai yang mereka klaim mereka jaga. Pendidikan seharusnya memiliki tujuan tunggal yang agung: memanusiakan manusia dan menegakkan kebenaran tanpa pandang bulu. Ia tidak boleh berubah fungsi menjadi alat untuk menormalisasi ketidakadilan atau sekadar menjadi pabrik ijazah yang hampa nilai etis.

Baca juga:  Saatnya Merdeka dari Cengkeraman Pemimpin Arogan

Analisis kebijakan menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah transformasi bangsa bergantung pada kemauan elitnya untuk ikut memikul beban pengorbanan. Jika efisiensi adalah tujuannya, maka penghematan harus dimulai dari meja-meja kekuasaan, bukan hanya dari piring-piring rakyat. Jika ketahanan pangan adalah visinya, maka diversifikasi pangan harus menjadi sajian utama di istana dan kantor dinas sebelum ia menjadi anjuran bagi warga di banjar-banjar. Tanpa sinkronisasi ini, kita hanya sedang membangun sebuah “teater kebijakan” – sebuah panggung di mana naskahnya adalah kemakmuran bersama, namun pemerannya hanya mengejar kepentingan citra masing-masing.

Persoalan ini juga mencerminkan lemahnya “kesalehan sosial” di tingkat elit. Kesalehan sosial bukan berarti tidak boleh makan enak atau tidak boleh merayakan hari jadi; ia adalah tentang sensitivitas terhadap momentum dan kondisi rakyat yang sedang dipimpin. Seorang pemimpin yang memiliki kesalehan sosial akan merasa malu untuk pamer kemewahan di saat rakyatnya diminta untuk berprihatin. Kegagalan memahami sensitivitas ini menunjukkan adanya diskoneksi emosional antara pemimpin dan rakyatnya – sebuah jarak yang tidak bisa dijembatani hanya dengan bantuan sosial, melainkan dengan kehadiran teladan yang tulus.

Oleh karena itu, kita menuntut sebuah refleksi kolektif. Kita perlu mengembalikan nilai perjuangan pahlawan dari sekadar simbolisme ke dalam tindakan operasional yang nyata. Integritas sebuah lembaga atau pemerintahan diuji bukan saat ia merayakan seremoni besar dengan kembang api dan pidato yang memukau, melainkan saat ia dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan reputasi semu atau melakukan koreksi atas ketidakadilan yang terjadi di dalamnya. Menghargai pahlawan berarti memiliki keberanian untuk menjadi jujur meski itu pahit, dan tetap adil meski itu merugikan kepentingan pribadi atau kelompok.

Sebagai penutup, mari kita sadari bahwa kekuasaan berdiri di atas pondasi kepercayaan, dan kepercayaan itu dirawat melalui keringat keteladanan. Ketika para pemimpin meminta rakyat untuk “mengencangkan ikat pinggang” sementara mereka tetap lekat dengan atribut kemewahan duniawi, mereka sebenarnya sedang merobek kontrak sosial yang ada. Keteladanan tetaplah mata uang paling berharga yang tidak bisa didevaluasi oleh krisis ekonomi apa pun. Rakyat mungkin bisa menoleransi keterbatasan fasilitas fisik, namun mereka tidak akan pernah bisa menerima ketimpangan rasa empati yang dipamerkan secara terbuka. Pahlawan adalah inspirasi untuk bertindak adil, bukan sekadar alasan untuk berkumpul dalam perayaan hampa. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."