Lokapalanews.id | Saya itu selalu penasaran. Kenapa ya, urusan korupsi di kantor-kantor kita ini seperti cerita hantu? Sudah tahu ada, sudah teriak-teriak, tapi kok tidak pernah hilang? Justru makin gemuk, makin beranak-pinak, dan anehnya, makin dilindungi oleh yang seharusnya menjaga.
Saat duduk di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota, di meja sebelah, ada dua bapak-bapak, mungkin pegawai swasta di salah satu instansi, sedang serius berbisik. Sesekali mereka melirik takut-takut ke sekeliling.
Topik pembicaraan mereka sebenarnya klise: “Tikus kantor.” Mereka mengeluhkan bagaimana kerja keras mereka dibatalkan oleh ulah segelintir orang di atas yang kerjanya cuma ngakali proyek.
Yang paling membuat saya terdiam adalah ketika salah satu bapak itu tiba-tiba berucap keras (mungkin lupa diri karena saking kesalnya): “Kalau tikus sudah menguasai lumbung, bakar saja lumbungnya!”
Jleb!
Peribahasa ini, bagi saya, adalah diagnosis paling jujur untuk penyakit yang diderita banyak institusi di negara kita. Lumbung adalah institusi kita, kantor-kantor pemerintahan dan swasta, aset-aset publik. Tikus adalah para koruptor, para penikmat rente, dan orang-orang yang kerjanya merusak sistem dari dalam.
Ketika Kebijakan Jadi Pelindung Tikus
Kita sering berpikir, membersihkan kantor cukup dengan menangkap satu-dua tikus yang ketahuan. Tapi, Anda tahu, kenyataannya jauh lebih rumit dari itu. Tikus-tikus ini sudah terlalu pintar. Mereka tidak lagi bekerja sendirian di kegelapan. Mereka punya kekuatan politik yang melindungi.
Inilah fase paling berbahaya: ketika tikus merajalela dan dilindungi oleh kekuasaan.
Ini bukan sekadar masalah korupsi petty cash. Ini adalah masalah kebijakan arogan yang dibuat oleh kekuasaan itu sendiri. Kebijakan yang lahir dari kesombongan pimpinan: merasa paling benar, menolak kritik, dan yang terburuk, mendesain aturan sedemikian rupa sehingga korupsi menjadi legal secara prosedural.
Pernahkah kita melihat proyek yang jelas-jelas gagal, tapi semua prosedurnya “sudah sesuai aturan”? Nah, itu dia. Aturannya dibuat untuk melindungi kegagalan, melindungi penyelewengan, melindungi tikus-tikus itu.
Kekuasaan arogan menciptakan sistem imunitas bagi tikus-tikusnya. Ketika kita coba menyuarakan kritik, atau ada whistleblower yang berani buka suara, apa yang terjadi? Mereka yang kritis justru yang dihukum, dipindah, atau kariernya dimatikan. Sementara tikus-tikus itu tetap nyaman di posisinya, bahkan mungkin naik pangkat.
Arogansi ini menciptakan lingkaran setan. Kebijakan dibuat. Kebijakan itu merusak. Kritik muncul. Kekuasaan menolak kritik dengan dalih “kedaulatan.” Tikus-tikus semakin gemuk. Kerusakan meluas.
Kenapa Kita harus Berani “Membakar Lumbung”?
Lalu, apa makna membakar lumbung di zaman modern?
Tentu saja kita tidak bisa benar-benar membakar kantor. Membakar lumbung di sini adalah sebuah tindakan radikal, reset total, dan pengorbanan besar. Ini adalah pengakuan pahit bahwa institusi itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi dari internalnya sendiri.
Jika sebuah lembaga sudah sangat keropos, korupsi menjadi budayanya, dan pimpinannya menjadi bagian dari masalah, maka:
Ganti Kepala Tidak Cukup: Mengganti pimpinan saja tidak akan menyelesaikan masalah. Seluruh struktur manajemen dan tata kelola harus dirombak total.
Berhenti Bela Mati-matian: Kita harus berani mengatakan, “Lembaga ini harus dibubarkan!” Lebih baik kehilangan fungsi lembaga itu sementara waktu, daripada membiarkan ia terus memakan uang dan kepercayaan publik atas nama “mempertahankan aset negara.”
Prioritaskan Integritas: Pengorbanan jangka pendek harus dilakukan demi memenangkan integritas jangka panjang. Jika lumbung dibakar, mungkin besok kita lapar. Tapi setidaknya, kita punya tanah yang bersih untuk menanam kembali.
Mungkin, sudah saatnya kita berhenti bersikap nrimo pada institusi yang sakit menahun. Sudah saatnya kita menuntut agar sistem dirombak, bukan hanya kosmetiknya.
Refleksi di Atas Meja Kopi
Obrolan bapak-bapak di kedai kopi itu terus terngiang. Betapa frustrasinya orang-orang jujur yang harus bekerja di tengah tumpukan tikus.
Hikmahnya sederhana: Kita tidak bisa membangun masa depan dari puing-puing yang masih dihuni oleh penyakit lama. Kekuasaan harus berhenti arogan. Kekuasaan harus sadar, bahwa jika kebijakan yang lahir dari kesombongan justru melindungi kejahatan, cepat atau lambat, kemarahan publik akan menuntut lumbung itu dibakar.
Mari kita pastikan bahwa lumbung tempat kita menaruh harapan dan sumber daya bangsa, benar-benar dijaga oleh penjaga yang jujur, bukan oleh tikus yang dilindungi oleh arogansi. Anda setuju? *yas






