Lokapalanews.id | Ini bukan drama, ini sinyal bahaya. Ketika pejabat-pejabat itu mundur, jangan anggap itu “alasan pribadi”. Itu basa-basi. Itu kode. Kode yang sangat jelas bahwa ada sesuatu yang busuk di puncak kekuasaan.
Mereka itu bukan pecundang. Mereka sudah terbiasa dengan tekanan. Mereka sudah kenyang dengan intrik. Tapi ketika hati nurani sudah tidak bisa diajak kompromi, mundur adalah satu-satunya pilihan. Ini bukan soal lelah, tapi soal muak. Muak dengan kebijakan yang mencla-mencle, muak dengan instruksi yang melanggar akal sehat, muak dengan intrik-intrik yang merusak.
Jangan pura-pura tidak tahu. Mereka yang mundur itu bukan tanpa alasan. Jangan anggap mereka takut, justru mereka sedang menunjukkan keberanian. Keberanian untuk mengatakan TIDAK pada pimpinan yang buta arah. Keberanian untuk menolak menjadi bagian dari kebusukan yang terstruktur.
Pimpinan yang baik akan mendengarkan. Pimpinan yang egois akan mencari kambing hitam. Ketika satu per satu memilih mundur, itu artinya pimpinan sedang berjalan sendirian. Bukan karena pimpinan itu hebat, tapi karena tidak ada lagi yang mau ikut ke dalam jurang yang ia gali sendiri.
Pimpinan harus bercermin. Ketika para pembantu terbaiknya memilih pergi, jangan salahkan mereka. Salahkan diri sendiri. Salahkan ego yang terlalu besar, visi yang terlalu sempit, dan telinga yang terlalu tuli.
Mereka mundur, kita yang akan menanggung akibatnya. Karena keputusan yang mereka tolak, yang mereka anggap berbahaya dan tidak etis, itulah yang pada akhirnya akan dijalankan. Dan di situlah kita, rakyat, akan merasakan pahitnya. *yas






