Lokapalanews.id | UKT puluhan juta melayang tiap semester.
Nominalnya bikin mata melotot. Orang tua banting tulang di desa, sewa sawah, atau bahkan gadaikan BPKB motor demi masa depan anak.
Tujuannya mulia: membeli ilmu di menara gading.
Tapi coba datang ke ruang kuliah hari ini. Duduklah di pojok belakang. Perhatikan apa yang terjadi selama 16 kali pertemuan.
Pertemuan pertama: hahaha-hihihi perkenalan. Buka silabus lima menit, lalu kelas dibubarkan.
Pertemuan kedua: presentasi kelompok mahasiswa.
Pertemuan ketiga sampai ke-16? Sama saja. Nonton pertunjukan presentasi antar-mahasiswa secara bergantian.
Mahasiswa yang maju, mahasiswa yang memandu, mahasiswa yang menjawab.
Lalu sang dosen ke mana?
Ada. Duduk manis di meja depan.
Tapi tatapannya tidak pernah lepas dari layar HP. Kalau tidak, jemarinya sibuk menari di atas kibor laptop.
Bukan sedang mencatat poin penting. Bukan sedang menguji argumen muridnya.
Usut punya usut, sang dosen sedang terbelit urusan lain.
Ada rapat panitia seminar. Ada borang akreditasi yang dikejar tenggat. Ada urusan “administratif cum akademik” yang menumpuk setinggi gunung.
Datang ke kelas pun kerap terlambat. Wajahnya loyo, napasnya masih terengah-engah.
Begitu jam dinding menyisakan waktu lima menit, barulah beliau angkat suara. Memberikan ulasan seadanya.
Dua-tiga patah kata yang dangkal. Sekadar menuntaskan kewajiban absensi karena jam kuliah sudah usai.
Repotnya, kualitas presentasi mahasiswanya sendiri sangat mengenaskan.
Zaman sekarang ada AI. Tinggal ketik judul, dalam hitungan detik slide PowerPoint langsung beres. Tinggal rapi-rapi kata.
Dari lima orang dalam satu kelompok, yang pusing bekerja paling cuma satu orang.
Empat sisanya? Sekadar penumpang gelap. Maju ke depan kelas cuma untuk mengeja tulisan di layar proyeksi.
Anehnya, kalau ada mahasiswa kritis yang penasaran lalu bertanya hal agak dalam, jawaban sang dosen justru bikin usus melilit.
“Kalian kan sudah gede. Cari saja di YouTube atau Googling!”
Waduh.
Bayar kuliah belasan hingga puluhan juta hanya untuk disuruh Googling mandiri.
Kalau cuma buat cari video di YouTube, anak SD tetangga saya juga jago.
Tapi tunggu dulu. Kejadian absurd ini ternyata punya tameng yang sangat keren. Sangat akademis.
Namanya: Student-Centered Learning.
Pembelajaran berpusat pada mahasiswa. Mahasiswa harus mandiri. Dosen cukup jadi fasilitator di belakang layar.
Kedengarannya teramat canggih.
Padahal, alih-alih jadi metode pedagogi yang mutakhir, istilah itu cuma jadi kedok murah.
Kedok untuk menutupi kemalasan. Kedok untuk menyembunyikan ketidaksiapan menyajikan materi yang berkesan.
Kita semua tahu tingkat literasi anak muda kita hari ini seperti apa. Masih tiarap di dasar jurang.
Tiba-tiba, porsi dosen dipangkas habis. Mahasiswa langsung dilepas begitu saja di belantara informasi.
Ini persis seperti orang tua yang mendadak enggan menyuapi anaknya yang masih balita.
“Anakku harus mandiri dalam makan!” kata si orang tua dengan wajah jumawa.
Padahal si anak belum tahu mana makanan bergizi dan mana racun. Si anak belum bisa membedakan mana daging berprotein dan mana batu kerikil.
Alhasil?
Si anak kalau tidak salah makan, ya kurang makan. Dua-duanya berujung pada bencana yang sama: gizi buruk.
Negara kita hari ini sedang gencar-gencarnya membasmi physical stunting. Bagi-bagi telur dan susu agar fisik anak tidak kerdil.
Namun, di balik dinding kampus yang megah, kita justru membiarkan terjadinya bencana yang jauh lebih mengerikan: intellectual stunting.
Kerdil otak.
Ilmu pengetahuan itu makanan ruhani. Menyerap ilmu butuh proses yang sama persis seperti belajar makan.
Harus disuapi dulu di awal. Dikenalkan aromanya. Diarahkan cara mengunyahnya. Dibantu mencernanya secara proper.
Baru setelah otaknya kuat dan literasinya matang, si mahasiswa bisa dilepas berburu makanannya sendiri.
Mengajar itu bukan sekadar melempar murid ke mesin pencari Google.
Jika semua ilmu cukup dicari di YouTube, buat apa gedung-gedung kampus itu dibangun? Untuk apa UKT dinaikkan gila-gilaan tiap tahun?
Ini harus jadi renungan dan tamparan keras bagi para akademisi.
Jangan biarkan ruang kuliah berubah jadi panggung teater formalitas belaka.
Mahasiswa berpura-pura presentasi, dosen berpura-pura mengajar, dan universitas berpura-pura mencetak sarjana unggul.
Sampai kapan kita tega membiarkan generasi muda kita membayar mahal hanya untuk membeli ijazah yang di dalamnya kosong melompong? *yas






