Lokapalanews.id | Saya sedang duduk di teras. Menikmati teh hangat yang gulanya sedikit saja. Tiba-tiba seorang teman lama menelepon. Suaranya gusar. Dia bercerita tentang seorang kolega yang karirnya tamat dalam semalam.
Bukan karena korupsi. Bukan karena asusila. Tapi karena fitnah yang digulirkan oleh si licik. Dan yang mengeksekusinya? Orang-orang yang, maaf, kurang dalam berpikir. Tapi semangatnya luar biasa.
Saya pun termenung. Kejadian seperti ini kok rasa-rasanya makin sering saya dengar. Polanya selalu sama. Ada sutradara di balik layar. Ada pemeran pembantu yang rajin tapi kurang logika di depan layar.
Si licik ini biasanya punya agenda. Dia tahu siapa yang jadi penghalang. Dia ingin menyingkirkan orang itu. Tapi dia tidak mau tangannya kotor. Dia terlalu halus untuk itu.
Maka, dicarilah “peluru”. Peluru ini adalah mereka yang mudah terbakar emosinya. Mereka yang kalau mendengar kabar, langsung percaya 100 persen. Tanpa tabayyun. Tanpa cek ricek.
Cukup satu bisikan. Cukup satu potongan pesan pendek. Si licik akan bilang: “Kasihan ya instansi kita, gara-gara dia jadi begini.” Atau, “Kamu tahu tidak, sebenarnya dia itu punya rencana jahat padamu.”
Hanya itu. Tidak perlu pidato panjang. Sisanya, biarkan si dungu yang bekerja. Orang yang kurang literasi biasanya punya satu kelebihan: militansi. Mereka merasa sedang memperjuangkan kebenaran. Padahal mereka sedang menggali liang lahat untuk orang lain.
Saya melihat ini sebagai sebuah tragedi intelektual. Kedunguan itu sendiri sebenarnya netral. Tapi kalau sudah bertemu dengan kelicikan, ia menjadi senjata pemusnah massal. Karier yang dibangun 20 tahun bisa lumat dalam 20 menit.
Si licik akan tersenyum di pojokan. Sambil menyeruput kopi. Dia melihat korbannya jatuh bersimbah darah (reputasi). Dan dia tetap tampil sebagai orang suci. Orang bijak yang seolah ikut prihatin.
Inilah yang saya sebut sebagai “Algojo Tanpa Otak”. Mereka melakukan eksekusi tanpa tahu mengapa. Mereka menghancurkan hidup orang tanpa merasa bersalah. Karena mereka merasa sedang membela sesuatu yang lebih besar.
Padahal, mereka hanya menjadi alat pembersih jalan bagi si licik. Begitu target hancur, si dungu ini biasanya juga akan dibuang. Sebab, si licik tahu, orang yang mudah dihasut untuk menghancurkan orang lain, suatu saat juga bisa menghancurkan dirinya sendiri.
Dunia kerja kita memang makin keras. Persaingan makin tidak sehat. Tapi yang paling mengerikan adalah ketika ketidaktahuan dipersenjatai oleh niat jahat. Logika ditaruh di bawah sepatu. Yang ada hanya sentimen.
Saya teringat pepatah lama. Singa tidak akan takut pada domba yang dipimpin oleh singa. Tapi singa akan waspada pada domba yang dipimpin oleh serigala licik. Masalahnya, domba-domba itu sering kali tidak sadar bahwa pemimpin mereka adalah serigala.
Kita butuh lebih banyak orang yang skeptis. Bukan skeptis yang negatif. Tapi skeptis yang cerdas. Yang kalau menerima informasi, otaknya bertanya dulu: “Ini logis tidak?” atau “Siapa yang untung kalau saya percaya ini?”
Kalau dua pertanyaan itu saja tidak terjawab, berhenti di situ. Jangan jadi penyambung lidah fitnah. Jangan mau jadi alat pemuas ambisi orang lain. Menghancurkan karier orang itu dosanya panjang. Apalagi kalau alasannya hanya karena kita “terlalu bodoh” untuk mengerti kebenaran.
Kasihan korban itu. Dia berjuang melawan sistem yang mungkin sudah mapan. Tapi dia kalah bukan oleh sistem. Dia kalah oleh kerumunan orang yang termakan provokasi murah.
Si licik menang lagi. Si dungu merasa menang. Dan kebenaran? Ia sedang menangis di pojok ruangan yang gelap.
Apakah kita pernah, tanpa sadar, menjadi bagian dari kerumunan yang menghakimi itu? *yas






