Lokapalanews.id | Saya sedang membayangkan wajah Mangihut Sinaga. Anggota Komisi III DPR RI itu. Dia berdiri di Manado, Kamis lalu. Di depan Kapolda dan Kepala BNNP Sulut. Wajahnya pasti serius. Tapi suaranya mungkin sedikit bergetar. Dia bercerita soal air mata. Ya, air mata seorang anggota Dewan.
Jarang ada pejabat menangis di depan forum resmi. Biasanya mereka bicara angka. Bicara anggaran. Atau bicara pasal-pasal yang kaku.
Mangihut berbeda. Dia teringat kampung halamannya. Sumatera Utara. Di sana, katanya, narkoba sudah seperti hantu yang nyata.
Dia melihat anak-anak muda hancur. Dia melihat masa depan yang buram. Lalu dia menangis. Saya tertegun membaca berita itu.
Narkoba memang bukan barang baru. Kita sudah bosan mendengarnya. Tiap hari ada penangkapan. Tiap minggu ada rilis barang bukti.
Ton-tonan sabu dimusnahkan. Ribuan orang masuk penjara. Tapi kenapa barang itu tetap ada? Kenapa justru makin merata?
Dulu, narkoba mungkin barang mewah. Hanya orang kota yang kenal. Hanya mereka yang berduit yang bisa beli. Sekarang tidak lagi.
Narkoba sudah masuk ke gang-gang sempit. Masuk ke desa-desa terpencil. Bahkan masuk ke ruang-ruang kelas. Mangihut benar, ini ancaman nyata.
Dampaknya tidak langsung terasa hari ini. Tidak seperti banjir yang langsung merendam rumah. Atau gempa yang langsung merobohkan gedung.
Narkoba bekerja seperti rayap. Diam-diam memakan fondasi. Tahu-tahu, rumah besar bernama Indonesia ini bisa roboh.
Fondasi itu adalah generasi muda. Mereka yang harusnya memimpin di tahun 2045 nanti. Jika otaknya sudah rusak sekarang, mau jadi apa kita?
Saya sering mengobrol dengan orang tua di kampung. Mereka tidak takut pada hantu. Mereka lebih takut pada anak yang mendadak pendiam.
Anak yang sering mengurung diri di kamar. Yang barang-barangnya satu per satu hilang dijual. Itu horor yang lebih menakutkan dari film apa pun.
Mangihut meminta Polri dan BNN lebih aktif. Tentu, itu tugas utama mereka. Kita sudah sering memberi apresiasi pada penangkapan besar.
Tapi, apakah penangkapan itu cukup? Ternyata tidak. Selama pasar masih ada, barang akan terus masuk. Hukum ekonomi berlaku di sini.
Permintaan tinggi, penawaran menyusul. Jalur tikusnya ribuan. Garis pantai kita sangat panjang. Menjaganya lebih sulit daripada menangkap penggunanya.
Kita perlu cara baru. Bukan sekadar “perang” yang berisik. Tapi pertahanan yang sunyi namun kuat di tingkat keluarga.
Di Manado kemarin, Mangihut menekankan soal pencegahan. Terutama di lingkungan pendidikan. Ini poin yang krusial.
Sekolah jangan hanya jadi tempat belajar rumus. Sekolah harus jadi benteng moral yang tangguh. Guru harus bisa jadi sahabat, bukan sekadar pengajar.
Sebab, anak muda lari ke narkoba biasanya karena sepi. Atau karena tidak punya tujuan. Atau sekadar ikut-ikutan agar dianggap keren.
Kita kehilangan rasa peduli di masyarakat. Dulu, tetangga adalah penjaga. Kalau ada anak tetangga yang aneh, semua ikut menegur.
Sekarang? Kita hidup di era individualis. Urusanmu, urusanmu. Urusanku, urusanku. Padahal, narkoba tidak kenal tembok rumah.
Kalau anak tetangga terkena, anak kita pun terancam. Ini bukan masalah satu keluarga. Ini masalah satu kampung, satu bangsa.
Saya salut pada Mangihut yang berani jujur soal perasaannya. Dia tidak hanya bicara sebagai politisi Golkar. Dia bicara sebagai seorang ayah. Sebagai putra daerah.
Ketulusan seperti ini yang sering hilang di ruang sidang. Kita butuh lebih banyak pemimpin yang bisa merasakan pedihnya rakyat.
Tapi air mata saja tidak cukup. Kebijakan harus mengikuti rasa pedih itu. Sinergi aparat bukan hanya di atas kertas. Bukan hanya saat kunjungan kerja.
Penegakan hukum harus tanpa pandang bulu. Jangan hanya pengguna kecil yang masuk sel. Bandar besarnya harus dikejar sampai ke lubang semut.
Kita juga harus jujur soal rehabilitasi. Apakah fasilitas kita sudah cukup? Apakah biayanya terjangkau bagi rakyat miskin?
Seringkali, keluarga pecandu bingung mau melapor ke mana. Takut ditangkap, tapi tak punya uang untuk rehabilitasi mandiri. Ini dilema yang nyata.
Perang melawan narkoba adalah maraton. Bukan lari sprint yang cepat selesai. Perlu nafas panjang dan kesabaran luar biasa.
Mangihut sudah mengingatkan kita dari Manado. Dia sudah mengetuk pintu kesadaran kita. Terutama para aparat di garda terdepan.
Kepolisian dan BNN punya beban berat. Tapi mereka tidak boleh berjalan sendiri. Masyarakat harus jadi mata dan telinga bagi mereka.
Jangan biarkan tangisan Mangihut menjadi sia-sia. Jangan sampai sepuluh tahun lagi, kita menangis lebih keras karena sudah terlambat.
Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan. Itu adalah janji. Dan janji itu hanya bisa ditepati jika anak mudanya sehat. Tanpa racun di darah mereka.
Kadang, kita butuh pengingat yang emosional. Agar kita sadar bahwa angka-angka di laporan itu adalah nyawa manusia.
Mari kita jaga lingkungan kita. Mulai dari yang terkecil. Dari meja makan di rumah kita sendiri.
Tanyakan pada anak-anak kita, apa kabar mereka hari ini? Mungkin itu langkah awal yang lebih efektif dari sekadar operasi besar-besaran.
Mencegah lebih murah daripada mengobati. Dan jauh lebih mudah daripada harus menangisi masa depan yang hilang.
Apakah kita masih punya cukup waktu untuk memperbaiki semuanya? Ataukah kita sedang menunggu tangisan selanjutnya di kota yang berbeda? *yas






