--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Kampus Bukan Penjara

Seorang dosen tampak kelelahan di antara tumpukan dokumen akreditasi, mencerminkan beban kerja administratif yang berlebihan di lingkungan kampus.

Lokapalanews.id | Di kampus, orang pikir isinya cuma diskusi intelektual. Isinya orang-orang beradab. Kenyataannya? Sering kali lebih ngeri dari korporat. Saya punya teman dosen. Muda, progresif, pintar. Dia masuk kampus dengan idealisme setinggi langit. Dua tahun kemudian, dia mengeluh. Bukan soal mahasiswanya, tapi soal “dapur” kampusnya.

Kampus itu punya racun jenis khusus. Namanya: birokrasi yang mematikan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Ciri pertama, senioritas yang membatu. Di kampus toxic, gelar dan umur itu segalanya. Yang muda, yang baru masuk, dianggap belum punya “suara”. Anda disuruh kerja bak kuda. Urusan administrasi, akreditasi, sampai urusan jemput tamu, semua dilempar ke yang muda. Tapi kalau soal panggung dan nama? Senior yang tampil. Ini bukan transfer ilmu, ini perpeloncoan terselubung.

Lalu soal transparansi. Coba lihat pembagian beban kerja. Kenapa si A cuma mengajar sedikit tapi tunjangannya besar? Kenapa si B yang rajin penelitian justru tidak dapat dukungan? Kalau manajemen kampus sudah main “anak emas”, waspadalah. Itu tanda sistemnya sudah rusak. Briefing tidak jelas, dukungan dana minim, tapi target jurnal internasional harus tembus. Kalau gagal, Anda yang dianggap tidak kompeten. Padahal, manajemennya yang tidak punya visi.

Sering juga terjadi persaingan tidak sehat antar-fakultas atau antar-dosen. Sikut-sikutan soal proyek penelitian. Berebut jabatan struktural. Kampus yang harusnya jadi tempat kolaborasi justru jadi sarang faksi-faksi. Anda dipaksa memilih pihak. Kalau tidak ikut blok tertentu, karir Anda bakal “diparkir”.

Belum lagi soal atasan yang merasa dirinya Tuhan kecil. Kritik dianggap pembangkangan. Masukan dianggap tidak hormat. Anda harus mengiyakan semua kebijakan, meski kebijakan itu justru menyusahkan mahasiswa dan staf. Anda terkunci. Mau vokal, takut kontrak tidak diperpanjang. Mau diam, batin tersiksa.

Bagaimana menghadapinya di lingkungan akademik?

Pertama, buat batasan. Anda adalah pendidik, bukan asisten pribadi. Kalau tugas di luar kontrak mulai menumpuk, berani bilang tidak. Datang mengajar, bimbing mahasiswa, lakukan riset. Fokus pada tugas pokok. Jangan mau ditarik-tarik ke dalam drama politik kampus yang tidak ada habisnya.

Baca juga:  Menteri Rasa Aktivis

Kedua, cari kawan sejawat yang waras. Pasti ada satu atau dua orang yang punya keresahan sama. Jadikan mereka tempat berbagi. Di dunia kampus, reputasi itu penting, jadi hati-hati dalam bercerita. Cari yang benar-benar bisa dipercaya agar tidak jadi senjata makan tuan.

Ketiga, dokumentasikan semua prestasi dan kerja Anda. Di kampus yang manajemennya buruk, Anda harus jadi pembela diri sendiri. Simpan semua bukti riset, testimoni mahasiswa, dan laporan kerja. Kalau suatu saat sistem menyalahkan Anda karena kegagalan mereka, Anda punya bukti kuat untuk melawan.

Keempat, fokus pada mahasiswa. Ini penyelamat mental paling ampuh. Mahasiswa adalah alasan Anda ada di sana. Melihat mereka sukses dan pintar itu obat stres yang luar biasa. Itu kepuasan yang tidak bisa dirampas oleh manajemen yang toxic sekalipun.

Terakhir, introspeksi diri. Apakah Anda masih punya ruang untuk berkembang? Kalau kampus sudah menutup pintu inovasi dan hanya mementingkan formalitas administrasi, mungkin itu tanda Anda harus pindah ke kampus yang lebih menghargai otak daripada sekadar kepatuhan buta.

Kampus itu harusnya jadi menara api, yang menerangi jalan. Bukan jadi penjara yang mematikan kreativitas. Jangan biarkan idealisme Anda mati di tangan birokrat yang cuma peduli pada jabatan.

Ilmu itu luas, tapi kalau tempatnya sempit dan beracun, ilmu tidak akan berkah. Menyelamatkan kesehatan mental Anda jauh lebih mulia daripada bertahan di sistem yang tidak menghargai kemanusiaan pekerjanya. *yas

👁️ 6.177 pembaca
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."