Lokapalanews.id | Saya melihat ke luar jendela. Jalanan macet. Bunyi klakson bersahutan. Orang-orang saling serobot demi semenit lebih cepat sampai tujuan. Wajah mereka tegang. Mata mereka menatap tajam, penuh curiga, seperti siap menerkam siapa saja yang berani memotong jalur.
Lalu saya teringat konsep kuno itu. Wanaprasta. Tahapan hidup dalam ajaran Hindu ketika seseorang harusnya mengemas koper, meninggalkan rumah, lalu masuk ke dalam hutan rimba. Tujuannya mulia. Melepaskan keterikatan duniawi dan fokus mencari Tuhan.
Tapi itu dulu. Ribuan tahun lalu. Sekarang? Zaman sudah berubah total.
Anehnya, kita tidak perlu lagi susah-susah mencari hutan rimba bersemak belukar untuk menguji mental. Kota-kota besar kita hari ini sudah menjelma menjadi hutan itu sendiri. Hutan beton yang bising. Hutan aspal yang panas.
Bedanya, kalau di hutan beneran binatang buasnya punya taring dan cakar, di kota binatang buas itu memakai kemeja necis dan berdasi.
Sifat kebinatangan itu sudah merasuki jiwa manusia modern. Keserakahan yang tidak pernah kenyang. Egoisme yang egois sekali. Amarah yang gampang tersulut hanya karena masalah sepele. Saling sikut, saling terkam demi naik jabatan atau sekadar pamer kemewahan.
Repotnya, banyak yang tidak sadar kalau mereka sudah ikut menjadi bagian dari kawanan hewan buruan di hutan kota ini.
Saya merenungkan hal ini sambil menikmati kopi pagi yang mulai dingin. Menjalani Wanaprasta di era modern bukan berarti kita harus memalsukan diri menjadi petapa gadungan di lereng gunung. Itu namanya pelarian. Itu namanya tidak jantan menghadapi kenyataan.
Wanaprasta hari ini adalah urusan isi kepala. Urusan menjaga jarak mental.
Bagaimana caranya? Ya tetap tinggal di kota. Tetap bekerja di kantor. Tetap bayar cicilan. Tapi, hati dan pikiran kita dikosongkan dari racun-racun ambisi yang merusak jiwa.
Alih-alih ikut mengaum di tengah kemacetan, kita memilih diam dan mengatur napas. Alih-alih ikut menerkam hak orang lain, kita memilih mengalah dan memberi jalan.
Usut punya usut, musuh terbesar kita di era ini memang bukan harimau atau ular cobra. Musuh terbesar adalah keinginan untuk selalu menang sendiri yang dipelihara di dalam dada kita sendiri.
Maka, kamar tidur Anda bisa menjadi asrama meditasi yang paling khusyuk. Pojok ruang tamu Anda bisa menjadi gua pertapaan yang paling sunyi.
Hutan aslinya sudah habis ditebang menjadi ruko dan mal. Tapi hutan sifat liar manusia justru sedang subur-suburnya tumbuh di sekitar kita.
Padahal, esensi dari tahapan hidup ini adalah persiapan pulang. Pulang ke keabadian. Sungguh lucu kalau kita justru makin sibuk mengasah taring di sisa umur yang makin pendek.
Jadi, tidak usah buru-buru membeli tiket ke pedalaman Kalimantan atau memesan tempat di lereng kawah yang sepi. Cukup tengok ke dalam diri sendiri di tengah bisingnya lampu merah esok pagi.
Sudahkah Anda menjinakkan binatang di dalam dada Anda hari ini? *yas






