Lokapalanews.id | Kopi tubruk saya nyaris dingin.
Padahal baru saja diaduk lima menit lalu di teras rumah.
Pikiran saya melayang jauh ke gedung megah beratap pilar putih di selatan Jakarta.
Tempat para wakil rakyat berkantor sambil sesekali mengetuk palu keputusannya.
Tepatnya pada hari Kamis, 1/10/2026.
Hari itu Senayan riuh rendah oleh aroma kertas berkas dan ketegangan di ruang sidang.
Komisi III DPR RI sedang menggelar hajat besar yang menyedot perhatian publik.
Agenda utamanya sakral sekaligus menentukan arah masa depan korps kepolisian negeri ini.
Uji kelayakan dan kepatutan calon pimpinan tertinggi kepolisian digelar secara terbuka.
Nama Jenderal Suyudi Ario Seto keluar sebagai jawara mutlak.
Sah.
Disahkan jadi Kapolri baru.
Lalu…
Bagaimana sebenarnya pandangan dari para politisi yang duduk di kursi dewan sana?
“Beliau itu pilihan terbaik dari semua yang terbaik,” ujar Lola Nelria Oktavia dengan nada suara yang sangat mantap.
Politisi dari Fraksi Partai NasDem tersebut tampaknya tidak ragu sedikit pun.
Bagi Lola Nelria Oktavia, keputusan bulat ini bukan sekadar hasil dengar visi misi sesaat di ruang rapat ber-AC dingin.
Tapi buah dari penelusuran rekam jejak yang panjang dan melelahkan.
Background penugasan sang jenderal diteliti satu per satu sampai tuntas ke akar-akarnya.
Repotnya…
Selama ini kita sering terlalu gampang terlena pada janji manis di atas kertas.
Visi misi diracik indah oleh tim ahli dengan susunan kata yang sangat memukau mata.
Padahal begitu duduk di kursi kekuasaan, praktiknya sering jauh panggang dari api.
Nah, di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi Jenderal Suyudi Ario Seto.
Latar belakang perjalanannya di kepolisian disebut-sebut mencerminkan sosok yang humanis.
Sebuah kata sifat yang belakangan makin langka dijumpai di ruang-ruang pelayanan publik kita.
Masyarakat sudah terlalu lelah dengan gaya arogan oknum aparat di lapangan.
Sudah muak dengan laporan kasus yang mandek di laci penyidik.
Atau perlakuan hukum yang kerap terlihat tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.
Apakah wajah baru ini benar-benar mampu meruntuhkan tembok birokrasi yang kaku itu?
Lola Nelria Oktavia buru-buru menegaskan satu hal yang tidak boleh dilupakan.
Komisi III DPR RI tidak akan sekadar angkat jempol lalu tidur nyenyak di rumah.
Fungsi pengawasan legislatif akan terus dihidupkan sepanjang masa kepemimpinannya.
Agar program kerjanya tidak cuma manis di spanduk baliho selamat datang.
Melainkan benar-benar terasa di kantong-kantong perkampungan kumuh hingga jalan raya protokol.
Agar polisi tidak lagi ditakuti karena pentungan dan arogansi seragamnya.
Tapi dicintai karena rasa aman dan nyaman yang mereka hadirkan tanpa perlu diminta.
Sinergi antara parlemen dan korps tribrata ini tentu dinanti tajam oleh publik.
Bukan sekadar salaman mesra di depan kamera wartawan selesai sidang pleno.
Atau senyum sumringah saat sesi foto bersama di halaman kompleks parlemen.
Tapi kerja nyata yang bisa dirasakan langsung oleh wong cilik yang sering jadi korban ketidakadilan sistemik.
Ujian pertamanya tentu saja memulihkan kepercayaan publik yang sempat compang-camping di berbagai lini.
Reformasi kultural di tubuh Polri tidak cukup diselesaikan dengan instruksi lisan dari balik meja kerja mewah.
Butuh keteladanan nyata dari pucuk pimpinan tertinggi yang mau turun langsung ke bawah.
Merasakan debu jalanan dan mendengar keluhan blak-blakan dari rakyat kecil yang terpinggirkan.
Kita tentu menaruh harapan besar pada kepemimpinan baru ini.
Apakah tongkat komando yang baru saja diserahterimakan bakal membawa angin segar.
Ataukah ia sekadar ganti nama dan seragam tanpa perubahan substansi yang berarti di lapangan?
Waktu yang akan membuktikan jawabannya di hadapan jutaan rakyat yang setia mengawasi.
Sampai kapan institusi ini terus berjalan di tempat? *yas






