Advertisement
--- / --- 00:00 WITA

BI Rate Saja Tak Cukup Selamatkan Rupiah

Seorang warga menukarkan uang rupiah layak edar pada layanan kas keliling Bank Indonesia di Pasar Baru Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (27/8/2026).

Lokapalanews.id | Jakarta – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menegaskan Bank Indonesia tidak bisa mengandalkan kenaikan suku bunga tunggal untuk menahan kejatuhan nilai tukar rupiah di tengah hantaman gelombang ekonomi global, Senin (14/9/2026).

Tekanan eksternal kian beringas. Tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar arah kebijakan The Fed, melainkan perubahan clearing price of capital global yang berpotensi berlangsung jangka panjang. Lonjakan suku bunga global memunculkan ancaman penyesuaian harga seluruh instrumen modal di negara berkembang.

Advertisement

Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve berpadu dengan harga minyak dunia yang menembus US$100 per barel serta imbal hasil US Treasury 10 tahun mendekati level lima persen.

“BI Rate tetap merupakan jangkar moneter,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Senin (14/9/2026). Alih-alih menyamaratakan obat penawar, ia menilai masalah rupiah, likuiditas domestik, arus modal, hingga inflasi minyak menuntut instrumen kebijakan yang beragam.

Pasar Surat Utang Negara (SUN) wajib diberi ruang pergerakan. Fakhrul memandang imbal hasil SUN 10 tahun perlu digeser menuju kisaran 7,3 hingga 7,5 persen demi mempertahankan daya tarik aset finansial Indonesia di mata investor global.

Padahal, mematok imbal hasil domestik tetap rendah di tengah kenaikan risk-free rate global justru memicu kaburnya modal asing. Seluruh beban hantaman tidak boleh ditumpukan sepenuhnya pada pergerakan nilai tukar.

“Saya lebih memilih adjustment terjadi secara sehat melalui bond market daripada seluruh shock harus diserap oleh currency,” tegasnya. Potensi pelemahan rupiah diprediksi mampu tertahan hingga level 17.800 apabila respons kebijakan berjalan konsisten.

Negara membutuhkan pasokan aliran modal masuk sekitar US$11 miliar guna mengamankan stabilitas neraca pembayaran. Deretan perangkat moneter seperti intervensi pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga penguatan Local Currency Transaction (LCT) wajib dioptimalkan secara simultan.

Baca juga:  Banjir Impor Penyebab Utama UMKM Gulung Tikar

LCT generasi baru harus melompat jauh melampaui sekadar transaksi penyelesaian. Ekosistem keuangan wajib mencakup likuiditas, lindung nilai, pembiayaan perdagangan, hingga pembiayaan investasi guna menciptakan redundansi moneter yang tangguh.

Pemerintah pusat memegang kunci krusial di sektor riil. Kebijakan energi seperti mandatori B50, peningkatan kapasitas produksi domestik, penggencetan ekspor, serta percepatan investasi langsung asing menjadi harga mati untuk meredam kebutuhan valuta asing secara struktural. *R102

Advertisement
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."
Advertisement