--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Etika Jubah Luar

Foto sebuah gedung yayasan yang tampak megah dari luar namun dengan bayangan hitam besar di depannya, melambangkan kontras antara citra publik dan realitas perlakuan terhadap karyawan di dalamnya.

Lokapalanews.id | Saya sering geleng-geleng kepala melihat papan nama yayasan. Isinya indah-indah. Ada yang pakai nama tokoh suci. Ada yang pakai istilah pengabdian. Ada yang mengusung tema kemanusiaan.

Tapi coba lihat ke dalamnya. Sering kali, manajemennya lebih kejam dari perusahaan pemburu laba.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Minggu ini saya mendengar cerita yang bikin dada sesak. Ada seorang staf di sebuah yayasan. Dia melihat ada yang tidak beres. Ada bau busuk di manajemen. Sebagai orang yang punya nurani, dia lapor. Dia kirim pengaduan lewat kanal resmi – yang katanya – dijamin rahasia.

Dia percaya pada sistem. Dia percaya pada janji “kerahasiaan pelapor”.

Hasilnya? Identitasnya bocor sehalus sutra. Tidak sampai seminggu, dia dipanggil. Bukan untuk diajak diskusi bagaimana memperbaiki lembaga itu, tapi untuk disodori surat pemecatan.

Identitas “anonim” itu ternyata hanya hiasan dinding.

Ini yang saya sebut sebagai kegagalan sistem yang biadab. Manajemen yayasan sering kali tidak siap menerima kebenaran. Mereka lebih suka mematikan alarm daripada memadamkan apinya.

Kalau identitas pelapor bocor, itu bukan salah pelapor yang kurang hati-hati. Itu seratus persen dosa penyelenggara. Itu bukti tidak adanya briefing manajemen yang kompeten. Itu bukti bahwa perlindungan data hanya dianggap sampah.

Yang lebih menjijikkan adalah sikap balas dendamnya. Retaliasi.

Yayasan, yang seharusnya jadi benteng moral, justru mempertontonkan watak pengecut. Begitu tahu siapa yang lapor, mereka tidak sibuk audit internal. Mereka justru sibuk melakukan witch-hunt. Siapa pengkhianatnya? Pecat! Habisi!

Lalu mereka mencari-cari alasan administratif untuk membenarkan pemecatan itu. Sangat rapi. Sangat terstruktur. Sangat jahat.

Mereka lupa satu hal: pelapor itu adalah aset. Dia adalah sistem peringatan dini agar yayasan tidak hancur dari dalam. Tapi oleh tangan-tangan kaku pengurus, aset itu justru dianggap duri.

Baca juga:  Mati Pelan-Pelan

Wahai para pengurus yayasan, sadarlah. Menghukum orang jujur atas kegagalan sistem internal Anda adalah ketidakadilan ganda. Anda sudah gagal menjaga sistem, lalu Anda menghancurkan hidup orang yang mencoba memperbaiki kegagalan itu.

Di mana letak nilai “yayasan” yang Anda banggakan itu?

Jika kejujuran dibalas dengan pemecatan, maka Anda sedang membangun budaya penjilat. Anda sedang memelihara orang-orang yang hanya berani berkata “baik” di depan, tapi membiarkan borok merusak fondasi lembaga dari belakang.

Sanksi hukum itu nyata. UU PDP dan UU ITE itu bukan pajangan. Jika Anda merasa bisa memecat orang seenaknya karena identitasnya bocor dari sistem Anda sendiri, Anda sedang menggali lubang kubur untuk reputasi lembaga Anda sendiri.

Jangan sampai orang mengenal yayasan Anda bukan karena kebaikannya, tapi karena sifatnya yang anti-kritik dan hobi memecat orang jujur.

Ingatlah, memecat pembawa pesan tidak akan pernah bisa menghilangkan pesan buruk yang dibawanya. Pesan itu tetap ada. Kebobrokan itu tetap tinggal. Dan suatu saat, ia akan meledak tepat di wajah Anda.

Sayang sekali. Jubahnya suci, tapi tangannya berlumuran ketidakadilan. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."