Lokapalanews.id | Monako – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menawari para investor global peluang investasi industri marina dan wisata bahari Indonesia dalam forum The 6th Monaco Smart and Sustainable Marina Rendezvous di Monako, Senin (21/9/2026).
Kapasitas marina nasional tergolong timpang. Indonesia baru punya 10 marina dengan 336 tempat berlabuh atau berths.
Fasilitas itu amat minim dibanding negara tetangga. Singapura mengantongi lebih dari 1.200 berths, sedangkan Malaysia dan Thailand masing-masing menguasai di atas 1.400 berths.
Padahal, potensi pasar wisata kelautan Nusantara terhitung melimpah. Garis pantai membentang hampir 100.000 kilometer, lengkap dengan 700 titik penyelaman.
Data Badan Pusat Statistik 2025 merekam 52,6 persen dari 15,4 juta wisatawan mancanegara aktif menikmati wisata bahari. Indonesia juga mencetak 127 kedatangan superyacht sepanjang 2025–2026, tertinggi kedua di Asia Pasifik setelah Australia.
Nilai pasar yacht domestik diproyeksikan melonjak pesat. Angkanya melesat dari 261,9 juta dolar AS pada 2025 menjadi 449,1 juta dolar AS pada 2033.
Pemerintah mendorong ekspansi infrastruktur ke kawasan timur. “Kami melihat wisata bahari sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas produk pariwisata sekaligus menciptakan manfaat bagi masyarakat lokal,” kata Widiyanti.
Saat ini baru ada 29 pelabuhan masuk dan keluar yacht di Indonesia, dengan 19 di antaranya mengantongi jalur kepabeanan. Marina pun masih menumpuk di wilayah barat dan tengah.
Selama dua hari pada 20–21 September 2026, Widiyanti menggelar serangkaian pertemuan bisnis. Menpar menemui perwakilan Yacht Club de Monaco, Wakil Menteri Perhubungan Mesir, serta meninjau fasilitas Four Seasons Yacht.
Langkah diplomasi ekonomi ini memboyong pemilik proyek strategis dari Bali, Labuan Bajo, Tanjung Lesung, dan Lombok. Pemerintah menjajaki kerja sama pelatihan kru yacht, penyusunan dokumen induk, hingga skema business matching investor. *R102






