--- / --- • 00:00 WITA

Stella Christie Sentil Kualitas Talenta AI Nasional

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Stella Christie saat menyampaikan paparan dalam forum FEKDI x IFSE 2026 di JICC, Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Lokapalanews.id | Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Stella Christie mendesak perguruan tinggi mempertajam daya kritis talenta nasional dalam menguji luaran kecerdasan buatan pada diskusi FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Stella menegaskan bahwa pergerakan cepat teknologi kecerdasan buatan (AI) menuntut pergeseran mendasar dalam standar kompetensi. Lulusan kampus tidak boleh sekadar pasif menjadi konsumen teknologi.

Advertisement

“Kalau kita ingin berkompetisi di dunia yang didominasi oleh AI ini, pendidikan tinggi Indonesia harus bisa menyesuaikan orang-orang yang mampu menyebarkan AI. Mampu menghasilkan keluaran dari AI ini benar atau tidak, efisien atau tidak, bagus atau tidak,” ujar Stella dalam forum High Level Talk bertajuk “Women & Talent: Mencetak Talenta Digital dan Ekspansi Ekonomi Berbasis Inovasi” di Jakarta International Convention Center (JICC).

Menurut Stella, perguruan tinggi memegang peranan krusial untuk memastikan mahasiswa sanggup memvalidasi setiap luaran AI, baik dari sudut akurasi kebenaran, efisiensi kerja, hingga kualitas hasil secara menyeluruh.

Kemampuan berinovasi dan nalar kritis menduduki posisi vital yang jauh lebih menentukan di tengah disrupsi teknologi saat ini.

“Kemampuan untuk berinovasi, memancarkan AI, berpikir kritis itu menjadi yang lebih penting lagi. Dari dulu tambah penting, sekarang lebih penting lagi,” tegas Stella.

Stella menyoroti penelitian di lingkungan universitas sebagai poros utama pendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi. Sivitas akademika dituntut cepat mempelajari dan beradaptasi dengan perubahan teknologi yang berlangsung amat dinamis.

Padahal, kecanggihan algoritma kerap menjebak pengguna dalam bias informasi.

Sinyal kewaspadaan tersebut sejalan dengan pandangan praktisi industri. CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi menilai kepungan analisis AI berisiko fatal apabila pengguna tidak dibekali kecakapan bernalar sebelum mengeksekusi keputusan strategis.

Baca juga:  Alibaba Cloud, Telkom AI Connect, dan HiColleagues Selenggarakan AI Talent Development Roadshow

“Pertanyaannya adalah bagaimana penggunanya ini bisa menilai analisisnya benar atau tidak. Pemikiran kritis sangat diperlukan di universitas,” jelas Neneng.

Menanggapi tantangan kompetensi ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti urgensi mengonversi potensi bonus demografi Indonesia menjadi bonus kompetensi nyata. Pemerintah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan perlu mempererat kerja sama guna melahirkan generasi muda produktif yang mahir memanfaatkan teknologi.

Tantangan adaptasi digital juga direspons jajaran kementerian teknis. Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri memaparkan bahwa pada tahun 2025 pemerintah telah memfasilitasi digitalisasi bagi 6.870 pasar rakyat dan lebih dari 300.000 pedagang lewat pelatihan serta sistem pembayaran bold.

Kementerian Perdagangan turut mengembangkan platform InaExport demi menghubungkan para pelaku usaha domestik ke pasar internasional melalui jaringan perwakilan perdagangan di berbagai negara.

Sementara itu, Direktur Wahid Foundation Yenni Wahid menekankan bahwa pencetakan talenta digital berdaya saing membutuhkan dukungan ekosistem yang kondusif. Akses pembelajaran dan ruang tumbuh harus dibuka seluas-luasnya agar dampak positif perkembangan teknologi tidak terkonsentrasi pada kelompok tertentu.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berkomitmen terus mengawal integrasi pendidikan, riset, nalar kritis, dan ekosistem inklusif demi mencetak talenta digital yang adaptif bagi penguatan ekonomi nasional. *R104

Advertisement
Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."
Advertisement