Lokapalanews.id | Jakarta – BMKG menyatakan aktivitas gempa susulan magnitudo 7,7 di Laut Flores, Nusa Tenggara Timur, mulai menurun dan diprediksi meluruh dalam 21 hingga 30 hari ke depan, Rabu (19/8/2026). Proses peluruhan ini merujuk pada pemodelan energi kerak bumi pascagempa besar yang terjadi sebelumnya.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengatakan hingga Rabu pukul 14.00 WIB, pihaknya mencatat 3.002 gempa susulan dengan magnitudo 1,1 hingga 6,2. Dari total kejadian, sebanyak 86 gempa dirasakan masyarakat dan 25 kejadian memiliki magnitudo 5 atau lebih. Menurut Nelly, tingginya jumlah gempa susulan merupakan proses penyesuaian kerak bumi atau pelepasan energi untuk mencapai keseimbangan baru setelah gempa utama.
Hasil perhitungan sementara menunjukkan laju gempa susulan diperkirakan mencapai tingkat rendah hingga akhir September 2026. Namun, estimasi tersebut bersifat dinamis dan akan terus diperbarui berdasarkan data kegempaan di lapangan. Secara spasial, sebaran gempa susulan masih terkonsentrasi di wilayah Flores bagian tengah hingga barat, yang berkaitan dengan zona tektonik Flores Back Arc Thrust.
BMKG telah menerjunkan tim untuk melakukan survei makrosismik dan mikrosismik di sejumlah wilayah terdampak. Survei tersebut bertujuan mengkaji kondisi tanah serta dampak guncangan terhadap bangunan dan fasilitas publik. Hasil lapangan sementara menunjukkan adanya kerusakan pada sejumlah bangunan, sehingga evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk membedakan kerusakan nonstruktural dengan risiko keamanan struktur.
Terkait kondisi tersebut, Nelly mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan. Warga diminta menghindari bangunan yang telah mengalami kerusakan atau retakan signifikan sampai ada pemeriksaan resmi dari pihak berwenang. Masyarakat juga diminta untuk hanya merujuk pada informasi resmi dari BMKG, BNPB, BPBD, atau pemerintah daerah guna menghindari informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. *R105






